Membership
Lupa password?
Profil

Jamil Azzaini, Motivasi dari Hutan Lampung (1)
Kamis, 27 Oktober 2011
Jamil Azzain

Foto: Eng Naftali

Jamil Azzaini memiliki obsesi menginspirasi dan mendorong 5 juta orang melalui gerakan SuksesMulia. Lewat spirit tersebut, pria kelahiran Kutoarjo 9 Agustus 1968 ini dikenal sebagai motivator ulung di berbagai kalangan. Kesuksesan ini ditempanya dari sebuah rumah bambu di tengah hutan di Lampung.

Apa kabar? Apa kesibukan saat ini?  

Alhamdulillah baik. Ada tujuh kegiatan saya saat ini. Mulai dari bisnis toko busana, lembaga Balai-usaha Mandiri Terpadu (BMT), perusahaan marketing communication , pengkader trainer di I2Move, sekolah gratis, juga pesantren wirausaha. Di samping itu, saya juga menjadi dosen Pascasarjana di IPB.

Anda dikenal berkat SuksesMulia, apakah itu?  

Paham SuksesMulia dihasilkan dari Kubik Leadership. Artinya, sukses adalah orang yang memiliki 4-Ta (harTa, tahTa, kaTa, cinTa). Ke 4-Ta itu diperoleh dengan memperhatikan etika dan agama yang dianut seseorang. Sementara mulia adalah memanfaatkan 4-Ta yang sudah diperoleh untuk orang-orang di sekitarnya.

Jika manusia hanya mengandalkan sukses, belum tentu hidupnya bahagia. Konsep Mulia adalah ketika manusia mampu berbagi kesuksesan yang dirasakan orang disekitarnya. Tidak sekadar menjadi lilin yang mampu menerangi sekitar, tapi lama-kelamaan dirinya musnah.

Bisa ceritakan kiprah Anda sebagai motivator?  

Saya kuliah di Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian IPB. Di awal kuliah, saya sempat down . Maklum dari SD sampai SMU selalu dapat ranking. Tapi, nilai saya malah anjlok. Saya stres sekali. Lalu saya baca buku karangan David J. Schwartz berjudul Berpikir dan Berjiwa Besar (The Magic of Thinking Big) .

Ada kata-kata dalam buku itu yang sampai sekarang saya ingat, “Jika kamu berpikir bisa, maka kamu bisa.” Kalimat singkat itu mampu mengembalikan semangat saya. Materi di dalam buku inilah yang mengilhami saya ketika menjadi trainer  dalam beberapa seminar.

Tamat kuliah, saya kerja di Lembaga Penelitian IPB. Gajinya Rp 400 ribu sebulan. Meski cukup besar, tapi saya kurang sreg. Lalu seorang teman, Eri Sudewo, mengajak saya bergabung di Dompet Dhuafa Republika di Jakarta. Karena tak mudah puas, saya lalu bertemu kakak kelas dari IPB, Farid Poniman. Ia ahli membaca potensi. Katanya, saya bakat menyampaikan ide dan salah satu profesi yang cocok buat saya adalah trainer . Ketika itu tahun 2004.

Aksi Jamil

Aksi Jamil saat menjadi motivator, ''Saya selalu merekankan kepada audiens, sukses adalah ketika kita bisa berarti bagi orang lain.'' (Foto: Eng Naftali)

Lalu?  

Kemudian saya mulai coba-coba menjadi trainer lepas di sejumlah perusahaan kecil. Mula-mula memberikan training  atas nama pribadi. Lalu di tahun yang sama, saya diajak mengembangkan PT Kubik Kreasi Sisilain di Jakarta bersama Farid Poniman dan Indrawan Nugroho. Tahun 2005 saya sempat ditawari seseorang untuk membentuk lembaga training . Agar tak lari ke mana-mana, lantas saya diberi saham untuk bergabung membesarkan Kubik.

Berkarier di Dompet Dhuafa selama 12 tahun, mayoritas ide dan program yang saya implementasikan diterima serta bermanfaat bagi yang membutuhkan. Di saat ada pemilihan direksi, saya terpilih sebagai direktur tersibuk di luar kantor. Malu juga hati ini. Lantas saya mengundurkan diri pada 2006 dan fokus menjadi trainer .

Dari mana tahu dunia motivasi? 

Saya memang tidak mengenyam pendidikan khusus untuk menjadi motivator. Makanya timbul ide membidani lahirnya Indonesia Inspiring Movement (I2Move). Saya ingin mengembangkan kemampuan para trainer agar dapat menginspirasi Indonesia menuju peradaban yang lebih baik.

Mereka yang memiliki keinginan dan kemampuan, saya poles lewat teknik delivery motivasi . Misalnya, cara mempengaruhi, intonasi nada, membangkitkan emosi, dan menciptakan suasana menyenangkan. Menurut saya, training yang bagus memadukan dua E, Entertaintment  dan Esensi agar hasilnya jadi luar biasa.

Ade Ryani / bersambung

Views : 1383

blog comments powered by Disqus