Kamis, 20 Oktober 2011
Iriana Joko Widodo Syukuri Amanat Warga Surakarta
Sebagai Ketua PKK Kota Solo, Hj. Iriana Joko Widodo,SE., MM. (47) bertugas membantu sang suami mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan pendidikan, terutama perempuan dan anak-anak di kotanya. Bu Ana, sapaan akrabnya, juga berhasil ikut mengantarkan sang suami meraih penghargaan Walikota Terbaik se-Indonesia, April lalu.
S ebagai Ketua PKK gebrakan apa yang sudah dilakukan?
Saya bekerja mengikuti 10 program kerja PKK, bekerja sama dengan dinas terkait, misalnya saat terjadi KDRT. Saya juga aktif di Posyandu untuk memantau sampai di mana kesehatan anak-anak. Tak ada program yang paling ditonjolkan karena anggarannya terbatas. Kami juga melakukan sosialisasi sejumlah program Pak Walikota. Misalnya, program hutan dalam kota, saya minta ibu-ibu turut menanam pohon.
Meski kerangkanya mengacu ke 10 pokok program PKK, tapi saya juga bisa ‘’keluar’’ dari kerangka acuan itu. Misalnya di bidang kesehatan, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan soal kartu intensitas anak (KIA). Dengan memiliki KIA, saat ibu-ibu belanja di toko buku akan mendapatkan diskon. Mungkin ini di kota lain belum ada, ya, dan PKK ikut ambil peran di dalamnya.
Masih adakah yang Anda prihatinkan?
Kemiskinan. Itu amat rawan. Makanya kami melakukan program pendampingan, terutama buat ibu-ibu di kawasan pinggiran. Mereka kami beri pelatihan mulai dari menjahit, memasak kue, merias pengantin. Kebetulan anggota PKK banyak berasal dari organisasi yang memiliki keahlian memasak, merias, menjahit. Jadi tenaga ahlinya kami ambil dari sana.
Bisa dibilang mereka baru dalam tahap bisa mandiri. Misalnya yang bisa bikin kue, sudah bisa turut berjualan di Night Market Ngarsopuro setiap Sabtu, yang diadakan sejak 2009 atas ide Pak Walikota. Soal kemasan makanan juga kami latih agar jualannya tampil menarik. Saya juga mendatangkan ahlinya, seperti desainer Anne Avantie untuk memberi motivasi kepada ibu-ibu yang gemar menjahit.
Apakah terbebani harus mengimbangi kerja suami?
Jujur saja, setiap orang memiliki titik jenuh. Tapi saya mensyukuri karena ini amanat masyarakat. Ya, dibuat senang saja. Dengan hati senang, sering tak merasa lelah. Kalau lelah, ya istirahat.
Anak-anak tak protes?
Mereka sudah terbiasa sejak kecil. Bila Bapak dan saya punya waktu, ya, kami jalan-jalan. Tapi, sejak Bapak menjabat Walikota, malah belum pernah rekreasi bersama. Anak-anak sudah tahu pekerjaan orangtuanya.
Sosok Pak Jokowi sebagai ayah seperti apa?
Sabar sekali. Selama saya menikah sama Bapak, beliau belum pernah memarahi anaknya. Kalau anak-anaknya nakal, ayahnya diam saja. Kalau pulang kerja dalam kondisi lelah, paling masuk kamar, baca koran atau langsung tidur. Kalau ada anak-anak, paling say hallo lalu tidur. Dulu, waktu anak-anak masih kecil dan belum menjabat Walikota, suka ikut mendampingi belajar. Sekarang anak sudah besar-besar.
(Pasangan Jokowi & Ana, dianugerahi dua putra dan satu putri. Yaitu Gibran Rakabuming (24), lulusan dari universitas di Australia, dan kini pengusaha katering. Kahiyang Ayu (21), masih kuliah, dan Kaesang Pangarep (17), masih sekolah di Singapura. Nama indah ketiga anaknya ini, kata Ana, semua pemberian Jokowi. )
Bapak memberi banyak batasan kepada putra-putrinya?
Anak-anak tahu diri, tak mau tampil ke muka. Mereka bilang, biar bapaknya saja yang tampil. Mereka justru berpendapat, aja dumeh anak pejabat, lalu tampil seenaknya. Malah awalnya, anak-anak malu kalau bapaknya mengantar kuliah. Saya cuma berpesan ke anak-anak, jangan membuat bapaknya malu.
Mereka kami bebaskan, tapi harus bertanggung jawab. Meski yang sulung sudah bekerja, dia juga tak mau aji mumpung. Dia merintis bisnis katering sendiri. Padahal sekolahnya di Australia jurusan Desain Produk, dan Marketing di Singapura. Biarlah dia menunjukan jati dirinya dulu. Kalau diharuskan terjun ke bisnis mebel seperti bapaknya, tidak baik. Saya pantau dari jauh saja.
Masih terjun ke bisnis mebel?
Sekarang saya fokus bisnis gedung pertemuan Graha Sabha Buana di Kampung Sumber. Buana, kependekan nama saya, Bu Ana. Gedung itu hadiah suami agar saya tetap punya pekerjaan di sela kesibukan sebagai Ketua PKK. Tapi saya mengutamakan kerja di PKK dulu. Untuk bisnis gedung pertemuan ini, saya bisa ber-partner dengan si sulung. Saya menyewakan gedung, anak saya kateringnya.
Sementara bisnis mebel tak bisa ditinggal. Harus diikuti dari awal sampai pengiriman ke pembeli akhir, karena produk ekspor.
Apa hobi Anda?
Wah, saya tak punya hobi. Ha ha ha.. Ikut tren saja. Kalau sedang musim sepeda fixie ya, saya ikut olahraga pakai sepeda fiixie. Kalau pas pulang ke rumah pribadi, saya suka siram-siram tanaman, memberi makan ikan hias. Rasanya nyaman di rumah. Semua saya lakukan untuk refreshing .
Sering ke salon juga?
Namanya juga perempuan, ya, pasti ingin tampil cantik. Melakukan perawatan ke salon itu biasa. Tapi saya ke salon seperlunya saja.
(Di tengah perbincangan, Walikota Solo Joko Widodo muncul dan tak keberatan saat diminta kesediaannya berfoto bersama sang istri. Setelah berbincang santai sejenak, keduanya dengan kalimat hampir sama, mengatakan jarang ada kesempatan bisa santai bersama seperti hari itu Kamis (25/8). “Wah, kami sudah lama enggak foto mesra begini,’’ ucap Bu Ana dan Pak Jokowi.
Diiringi tawa, Bu Ana pun ‘’pasrah’’ saat diminta berpose lebih dekat ke arah suaminya yang duduk di undakan lantai ruang tengah Loji Gandrung, rumah dinasnya yang asri. Kemesraan di depan kamera pun tercipta, hingga membuat Pak Jokowi kembali berkomentar, “Jarang ada kesempatan begini. Sudah, manut saja. Disuruh foto apa lagi?’’ ucapnya setelah melihat hasil jepretan NOVA. Usai berfoto, Pak Jokowi kembali menemui para tamunya yang sudah menunggu di pendapa. )
Rini Sulistyati

