Membership
Lupa password?
Profil

Erlina Eka Fatmawati, Artis Desa Sukses di Kota
Minggu, 18 Maret 2012
Erlina Eka Fatmawati

Foto: Rini Sulistyati/Nova

Perempuan multitalenta, Erlina Eka Fatmawati (37) atau Lena, menapaki karier sebagai penyanyi dari desa ke desa di tanah kelahirannya, Desa Dumpil, Grobogan (Jateng). Kini, selain kondang sebagai penyanyi dan MC, ia juga punya sejumlah bisnis yang sukses ia kelola.

Sejak kapan jadi penyanyi?

Sejak SMP. Dulu gabung bersama grup band desa milik famili. Kami sering roadshow sebagai band pembuka saat ada band dari luar Grobogan datang. Honornya Rp 7.500. Menginjak SMA, saya selalu jadi juara pertama festival grup band, bahkan jadi vokalis terbaik. Nah, ketika acara Kenalan Baru di  TVRI Jogja mengadakan lomba, saya ikut. Tapi sedih karena saya tak punya uang saku. Orangtua, kan, cuma guru SD di pelosok desa, hidup kami pas-pasan. Jadi saya ke Jogja pakai uang tabungan dari honor nyanyi yang saya peroleh.

Lalu?

Di Jogja saya numpang tidur di rumah kenalan baru yang juga ikut lomba. Baju untuk nyanyi saya pinjam dari tante di desa. Keprihatinan itu terbayar. Saya keluar jadi penyanyi terbaik. Ayah terkejut waktu saya beritahu bakal tampil di TV. Beliau tak tahu selama di SMA saya sering nyanyi dengan honor Rp 35 ribu. Nah, giliran harus tampil di TV, saya pinjam baju lagi ke tante, ha ha ha...

Pas kuliah, saya pilih Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, UNDIP. Sambil kuliah, malamnya saya nyanyi di kafe Jl. MT. Haryono, Semarang. Semalam dibayar mulai Rp 8 ribu, sampai akhirnya naik jadi Rp 12.500. Uang itu saya tabung, bisa buat bayar kamas kos dan jajan, malah bisa mengirimi orangtua.

Erlina Tampil

Salah satu penampilan Lena saat menyanyi disuatu acara pernikahan. (Foto: Dok Pri)

Akhirnya sampai ke panggung wedding.

Iya. Pemain band saya, kan, sering dapat job untuk wedding , saya diajak nyanyi dari hajatan satu ke hajatan lain. Sejak itu saya terus memperbaiki perfoma hingga bisa menyanyi untuk kalangan atas di Semarang. Selanjutnya, honor saya juga terus naik hingga kelas international wedding . Sekarang, ibaratnya, saya yang memimpin.

Jadi MC juga?    

Suatu kali ada perusahaan motor menawari jadi MC untuk acara gathering, padahal saat itu saya belum bisa ngemsi . Lalu saya sampaikan ke suami, Bagas, yang kebetulan guru public speaking . Dia bilang terima saja. Bagas bersedia mengajari saya. Setelah belajar sebentar, saya sudah bisa ngemsi .

Tak terasa sudah 13 tahun saya keliling Indonesia sebagai MC, baik untuk acara hiburan biasa maupun protokoler resmi yang dihadiri presiden. Jadwal saya pun padat. Per bulan hanya beberapa hari saja di rumah. Saya ngemsi dari gedung sampai kapal pesiar. Market saya di Indonesia sudah sangat bagus. Fee  untuk undangan ke luar Jawa juga sudah standar honor artis ibu kota. Ya, setara Rubben Onsu lah. Di atas panggung saya bisa bikin tamu betah karena mereka merasa nyaman.

Merambah dunia bisnis juga?

Ada batasan usia di dunia entertainment , terlebih bila performanya standar saja, akan habis. Karena itu saya dan suami mendirikan event organizer  (EO) untuk acara-acara gathering , konser, hingga wedding . Kami juga punya bisnis rental sound system  namanya Platinum, untuk kapasitas konser musik yang pernah dipakai Agnes Monica, Nidji, dan Rossa.

Alat band punya saya buatan Eropa semua. Kiblatnya memang untuk artis ibu kota yang manggung  di daerah. Bisa juga dibawa ke ibu kota atau provinsi lain. Saya juga membuka bisnis tour and travel yang ke depannya akan fokus ke perjalanan haji dan umrah.

Apa kunci sukses dalam mengemudikan bisnis?

Tanpa doa dan usaha keras semua ini tak bisa saya capai. Saya memegang satu komitmen, yakni profesionalitas. Kepada klien harus jujur, apa yang saya janjikan harus sama dengan kenyataan.

Erlina

''Hobi saya, ya, kerja. Kalau dirumah saja malah sakit,'' ucap Lena. (Foto: Dok Pri)

Karena sibuk, sering meninggalkan suami dan anak-anak?  

Iya, tapi komunikasi terus jalan. Yang penting kualitas. Justru kalau lama tak bertemu malah kualitasnya jadi bagus. Suami pernah protes dengan kesibukan saya, tapi saya bilang hobi saya, ya, kerja. Kalau diam di rumah saja malah sakit. Sering lho, suami cuma mengantar sekoper baju bersih ke bandara buat saya, karena harus pergi lagi. Saya juga sering turun dari pesawat, ke luar pintu kedatangan lalu masuk lagi pintu keberangkatan di satu kota. Ha ha ha... Malah Bapak saya juga pernah marah, katanya mau bertemu saya susah sekali, seperti mau ketemu menteri saja.

Oh ya, dua anak saya kebetulan lebih dekat dengan ayahnya. Yang besar sudah SMP dan yang kecil masih SD. Protes, sudah pasti. Tapi anak-anak sudah diberi pengertian sejak kecil. Kalau tak sempat diajak liburan, mereka maunya cuma minta diganti menginap di hotel yang ada kolam renangnya. Merasa bersalah juga, sih, pada anak-anak. Tapi saya begini, kan, juga buat mereka. Suami pernah bilang, saya akan menyesal kehilangan masa kanak-kanak mereka. Tapi bukankah hidup ada plus dan minusnya?

Bagaimana menjaga stamina agar tetap fit?

Suplermen saya cuma makan dan tidur. Saya juga menata pola makan agar tetap semampai.

Masih bisa melakukan hobi?  

Hobi saya, ya, kerja. Saya akan merasa puas kalau bisa menggolkan proyek untuk bisnis saya. Hobi saya mengumpulkan tanah dan rumah. Saya punya tujuh rumah dan kebun pohon jati seluas 3 hektar dari hasil kerja selama ini. Saya ini wong ndeso  tapi hobinya kayak orang kaya, ngumpulin rumah.

Sekarang rumah-rumah kecil itu mulai saya jual. Saya senang dapat uang banyak tapi juga saya bagikan untuk orang tak mampu. Misalnya, tiap bulan “mengurusi” para tukang becak, bayar zakat, anak yatim-piatu, dan membantu anak yang kekurangan.

(Mulai 13 Februari wajah Lena bisa disimak di acara Kacamata di TVB Semarang, yang tayang seminggu tiga kali. Ia tampil mewawancarai sejumlah tokoh tentang satu isu yang sedang hangat. )

Jadi presenter TV sekarang?

Dulu pernah, untuk acara masak-memasak. Masakan saya enak lho, malah teman-teman yang pernah diundang ke rumah membujuk suami agar buka rumah makan. Tapi kalau punya bisnis tak ditunggui sendiri rasanya enggak sreg . Saya juga tak punya waktu. Suami pun tiap hari makan hasil masakan pembantu. Tapi dia nrimo . Ha ha ha...

Rini Sulistyati


blog comments powered by Disqus