Kamis, 10 November 2011
Endah Laras “Ditemukan” Sopir Truk
Siapa sangka penyanyi, penari, sekaligus pemusik asal Solo, Endah Murwani Laras (35), “ditemukan” seorang sopir truk. Sejak itu, karier Endah bergulir dari satu pentas ke pentas lain hingga berduet dengan sejumlah macan panggung negeri ini. Apresiasi baik pun diterimanya tak cuma dari dari negeri sendiri, tapi juga negara lain.
Bakat seni menurun dari siapa?
Bapak, Sri Joko Raharjo, dalang di Surakarta. Sementara Ibu, Sri Maryati, guru tari. Saya lahir di Surakarta 3 Agustus 1976, sebagai anak sulung. Tiga adik, Supanjang Murti Raharjo, mengajar seni karawitan khusus untuk orang asing di Solo, dan kadang ke Eropa. Lalu, Sruti Respati, seniman tari. Dan si bungsu, Retno Musti Sari saat ini sedang studi S2 di ISI Surakarta. Jadi kami memang keluarga seniman.
Pandai menari dan memainkan alat musik juga, ya?
Ketiganya berjalan beriringan. Dalam arti, sejak kecil saya sudah belajar menari dan menyanyi. Saat SD di Solo, saya sering jadi duta lomba menyanyi atau menari. Sayangnya, selulus SD saya dan adik-adik diboyong Bapak ke Jakarta. Saya mengalami gegar budaya. Saya yang sudah kadung cinta kesenian Jawa tak menemukan tempat berlatih di ibu kota. Kalau pun ada, harus ke Taman Mini. Padahal rumah di Ciledug. Saya stres berat. Sementara dua adik, Sruti dan Retno, enjoy saja bahkan berpindah ke balet.
Kenapa pindah ke Jakarta?
Ada “sesuatu” dengan kedua orangtua saya. Bapak lalu menikah lagi dengan perempuan Amerika, Colleenamy Chace. Ibu tiri saya bekerja di lembaga kursus Bahasa Inggris di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Dia juga bekerja di surat kabar The Jakarta Post. Ibu Chace mendidik kami dengan disiplin tinggi. Pendidikan adalah nomor satu.
Di Jakarta saya sekolah di SMP 111 Kemanggisan. Saya sempat minder karena dikatai udik dan didiskriminasi teman-teman. Akibatnya, saya sempat mbolos sekolah selama dua bulan. Ibu Chace pusing. Tapi lalu saya sadar dan mulai ikut vokal grup di sekolah yang disegani sekolah lain. Rasa percaya diri saya mulai tumbuh.
Namun, setamat SMA saya dan adik-adik harus kembali ke Solo lantaran Bapak berpisah dengan Ibu Chace. Tahun 1995 beliau pulang ke Amerika membawa adik saya yang waktu itu berusia lima tahun, hasil pernikahannya dengan Bapak.
Apa yang kemudian terjadi?
Saya sempat bingung mau apa kami kembali ke Solo. Saya mau kuliah, tapi biaya dari mana? Dengan perasaan tak menentu, saya sewa truk untuk membawa barang-barang dari Jakarta ke Solo. Saya cari sendiri truk itu di pasar. Di tengah perjalanan, saya sempat ke kamar kecil sambil menyanyikan tembang Yen Ing Tawang Ana Lintang, yang dipopulerkan Ibu Waljinah.
Tak saya sadari, Pak Sopir menyimak suara saya. Dia lalu minta saya menyanyi di hajatan anaknya yang akan dikhitan dua minggu kemudian. Berhubung bukan penyanyi, ya, saya tolak. Tapi sopir truk itu bilang, tak mau mengantarkan barang bila permintaannya tak dipenuhi. Akhirnya saya sanggupi sambil membatin, sopir itu pasti lupa pada janjinya.
Ternyata?
Setelah dua minggu tinggal di Solo, sopir itu datang menjemput. Apa boleh buat, saya menyanyi hanya dengan kaus dan celana jins, tanpa make up . Sebenarnya Pak Sopir sudah menanggap orkes keroncong (OK) Purnama Karya. Lalu dia meminta saya menyanyi diiringi OK Purnama Karya di hadapan tamu-tamu undangannya.
Seusai menyanyi, Pak Amri, pimpinan OK Purnama Karya mendekati saya. Dia lalu mengajak saya menyanyi lagi. Saya tegaskan lagi, saya bukan penyanyi. Tapi Pak Amri tetap menawari saya bergabung dengan mereka yang belum punya penyanyi tetap. Sejak 1995 saya resmi jadi penyanyi OK Purnama Karya dengan honor Rp 20 ribu sekali nyanyi.
Selanjutnya?
Setelah sering tampil dengan OK Purnama Karya, saya jadi jatuh cinta pada keroncong. Tak lama kemudian, suara saya didengar oleh kelompok OK lain yang tergolong paling laris di Boyolali ketika itu. Saya pun bergabung dan per bulan bisa pentas sampai 50 kali. Honor saya langsung naik dua kali lipat.
Selalu tampil dengan kain, kebaya, dan berkonde?
Ya. Pada dasarnya saya suka dandan. Ibu juga tak mau saya tampil sembarangan. Ibu, kan, punya banyak kain dan kebaya. Orang-orang lalu mengenal saya sebagai Endah Laras. Nama ini sengaja saya pilih biar mudah diingat.
Bagaimana bisa bertemu pencipta tembang Yen Ing Tawang Ana Lintang ?
Pak Anjar Any, pencipta lagu itu ternyata juga mendengar keberadaan saya. Sempat syok saat bertemu beliau, terlebih saat diajak rekaman. Saya senang bukan kepalang karena Pak Any adalah pencipta lagu yang saya kagumi. Album solo pertama saya dari beliau berjudul Gemes, diproduksi tahun 1996 dengan iringan OK Hanjarring Rat, milik Pak Any.
Selanjutnya, keberadaan saya didengar Nirwana Record, Surabaya. Nirwana lalu membuatkan saya dua album campursari. Lagu andalannya saat itu Tak Lela-Lela Lela Ledung . Kaset itu sangat meledak hingga akhirya masyarakat banyak mengenal saya.
Anda juga pengagum Waljinah?
Sejak kecil saya mengagumi beliau. Saat pertama kali pentas bersama Bu Waljinah saya sampai melongo. Aura, cengkok, suara, bahkan gayanya memegang mik saat berada di atas panggung sungguh luar biasa. Beliau juga amat perhatian sama saya. Misalnya, saat saya akan tampil, beliau mau membetulkan tusuk konde atau selendang saya. Saya memanggilnya Ibu.
Pernah diajak sutradara Garin Nugroho ke Eropa, ya?
Iya. Saya diajak pentas opera Tusuk Konde . Saya dituntut menari, nembang , dan main musik. Saya pakai ukelele sambil menyanyi lagu Stambul Biru . Saya bisa main alat musik ini dari Mas Sapto dan Mas Dani, seniman musik keroncong asal Solo.
(Di tengah perbincangan, Endah lalu menyanyikan Stambul Biru sambil memainkan ukelele. Suaranya teramat merdu. Kata Endah, sudah dua kali lagu itu ia perdengarkan di Troppen Museum, Belanda. Pertama dengan Ki Ethus, kedua dengan Garin Nugroho di pentas opera Tusuk Konde untuk merayakan 100 tahun museum itu. )
Tampil di Troppen Museum tentu amat berkesan, ya?
Iya. Selain mendapat dua kali standing applause saya juga dapat penghargaan dari Direktur Troppen Museum berupa rangkaian bunga di akhir pementasan. Apresiasi bagus juga kami terima saat pentas di Musee Du Quai Branly, Paris. Di dalam negeri, opera ini juga sudah dipentaskan di Jakarta, Solo, dan Jogja. Dalam 30 Tahun Garin Berkarya di Bentara Budaya Jakarta, saya juga ikut menyanyi di acara pembukaan yang dia beri judul Ndherek Maria .
Sebagai seniman, apa yang masih ingin dicapai?
Saya ingin menekuni musikalisasi puisi. Kebetulan beberapa waktu lalu saya bertemu dan pentas bersama Ibu Wied Senjayani. Beliau aktivis di Bengkel Teater milik WS Rendra. Saat pentas bersama, saya menyanyikan lagu yang syairnya ditulis beliau. Lagunya saya yang mengarang. Saya menyanyi sambil bermain musik. Saya ingin mengembangkan duet dengan Ibu Wied Senjayani.
Rini Sulistyati

