Membership
Lupa password?
Profil

Dr. Dario Turk, SPOG Dokter Kandungan Langganan Artis
Jumat, 16 Oktober 2009
dr dario

Dr. Dario Turk, SPOG (Foto: Daniel Supriyono/NOVA)

Kecintaannya pada Indonesia dan dunia obstetri ginekologi membuat tempat praktik dokter asli Kroasia yang kini menjadi WNI ini selalu dipenuhi ibu-ibu hamil yang rela mengantre sampai pagi. Sederet artis, pejabat dan pasien dari penjuru Nusantara pun telah ditangani dokter ramah berusia 46 tahun ini.

Anda bule, tapi namanya kok, seperti orang Jawa?

Haha… iya. Di Kroasia, Dario sama seperti nama Mario, dan sebagainya. Pasien saya banyak yang kaget ketika periksa pertama kali karena menyangka saya orang Jawa.

Bagaimana Anda bisa sampai “terdampar” di Indonesia?

Saat kuliah di Fakultas Kedokteran University of Zagreb, Kroasia, saya fokus meneliti hamil anggur. Kata pembimbing saya, kalau mau ahli masalah hamil anggur, saya harus ke Pulau Jawa karena kasus hamil anggur terbanyak di dunia ada di Jawa. Tahun 1987 saya berangkat ke Jawa untuk penelitian dua bulan di UI. Tahun berikutnya saya lulus, lalu ikut kongres hamil anggur keempat sedunia di Beijing dan saya yang termasuk peserta termuda memberi dua kali presentasi. Setelah itu saya kembali tinggal di Indonesia selama 7-9 bulan dan berkeliling universitas-universitas di Indonesia, juga ke Malaysia dan Singapura untuk 14 kali presentasi hasil penelitian saya selama kuliah.

Lalu?

Saya lalu ambil post-doctoral research di Harvard University, Amerika. Selesai penelitian saya kembali ke Indonesia dan menetap sampai sekarang. Saya sempat jadi perwakilan resmi Kroasia di Indonesia selama 10 bulan karena waktu itu Kroasia belum punya kedutaan di sini.

Kok, akhirnya balik jadi dokter?

Kalau jadi duta besar saya hanya sebentar di Indonesia. Lagipula orangtua minta saya jadi dokter saja. Tahun 1994, saya ambil spesialisasi kandungan di UI. Seminggu setelah lulus, saya menikah dengan Endang (putri ginekolog Dr. M.J. Josoprawiro, Red. ). Saya jadi asisten mertua di rumah sakit selama 4,5 tahun, sebelum akhirnya jadi WNI dan bisa praktik sendiri tahun 2001.

Waktu itu praktik di mana saja?

Di banyak rumah sakit, bahkan jadi dokter tamu di beberapa tempat. Sekarang buka praktik di dua rumah sakit saja, selain di rumah. Lucunya, saya jadi dokter tamu di sebuah rumah sakit karena Ratna Listy minta saya membantu kelahiran anaknya di sana. Saudaranya yang jadi direksi di situ mempersilakan saya. Di rumah sakit tempat saya praktik sekarang kasusnya juga sama. Hanya saja, yang minta Yulia Rahman.

dr dario_inul

Inul merupakan salah satu dari sederet artis yang menjadi pasien Dario (Foto: Daniel/NOVA)

Artis siapa saja yang pernah jadi pasien Anda?

Cukup banyak. Selain dua orang itu, ada Arzetti, istrinya Uya Kuya, Ussy Sulistyawati, Vira Yuniar, Liza Natalia, Lyra Virna, Shanaz Haque, Rossa, Cut Keke, Nola, Widi AB Three, Sophia Latjuba dan Mona Ratuliu. Di luar artis, banyak juga istri atau anak pejabat. Masyarakat umum sendiri sudah tak terhitung banyaknya. Sekarang banyak juga pasien dari seluruh propinsi Indonesia, bahkan dari Papua.

Bagaimana Anda akhirnya bisa punya banyak pasien artis?

Awalnya Ratna Listy periksa kandungannya dengan USG 4 dimensi di mal tempat saya praktik. Rupanya dia puas, sejak itu jadi pasien saya dan minta saya menangani kelahiran anaknya. Setiap kali kontrol dia minta USG 4 dimensi. Saya sendiri mulai menggunakan USG 4 dimensi pada 2002. Alat yang saya gunakan itu, pertama di Asia Tenggara. Sampai sekarang banyak yang mengenal saya sebagai ahli USG 4 dimensi.

Anda sibuk sekali, dong?

Sekitar 3-5 tahun ini saya hanya tidur 2-3 jam per harinya. Waktu itu, saya bisa kerja dari pagi sampai pagi lagi. Bisa tidur 5 jam saja itu sudah seperti holiday . Saya pernah makan siang pukul 19.00. Itu pun hanya separuh, karena harus segera mengurus pasien lagi.

Bagaimana sikap Anda menghadapi kebawelan pasien?

Saya sih, sudah biasa. Saya tidak pernah sengaja telat, tapi pernah dimarahi suami pasien karena saya telat memeriksa istrinya satu jam lebih. Bahkan dia lapor ke direktur rumah sakit. Penyebabnya, ada pasien yang mendadak melahirkan, jadi harus saya tangani dulu. Saya menyarankan untuk pindah dokter, tapi akhirnya dia kembali lagi ke saya.

Ada juga yang minta saya memarahi suaminya, karena suaminya tidak peduli dengan kehamilan yang sekarang. Kalau soal pasien menelepon, kirim SMS atau BBM (Blackberry message), saya justru senang. Tidak ada alasan mereka sulit menghubungi saya, mau periksa tengah malam juga boleh. Makanya, pasien saya beri nomor ponsel dan PIN BB saya.

Saya selalu baca semua SMS yang masuk, dan membalasnya setelah selesai praktik, semalam apa pun. Mereka harus tahu apa yang dialaminya, sehingga mereka tahu betul kondisi janin dan dirinya. Saya bilang ke pasien, saya enggak mau mereka masuk ke ruang saya enggak tahu apa-apa, keluar tetap sama. Makanya sambil memeriksa saya ngomong terus. Capek memang.

Omong-omong, kapan ibu hamil perlu melakukan USG?

Idealnya tiga kali, yaitu pada usia kehamilan 12-13 minggu (untuk trimester pertama), yang mana akurasi deteksi kelainan kromosom seperti down syndrome , saat itu sedang tinggi-tingginya, mencapai 80-85 persen. Kalau dilakukan pada usia kehamilan 20-22 minggu, akurasi itu sudah turun.

Dengan USG 4 dimensi, kelainan jantung mayor, bibir sumbing, organ dalam, ketebalan leher lebih dari 2,5 mm, bahkan jenis kelamin bayi sudah bisa diketahui pada usia ini.

USG kedua pada trimester kedua usia kehamilan 21-22 minggu, untuk melihat detail jantung, kelainan jantung, jantung bocor dan sebagainya. Kalau usia bayi lebih besar dari itu, tulang sudah terbentuk sehingga “jendela” untuk memeriksa jantung tidak seterang pada usia 22 minggu.

USG ketiga pada trimester ketiga untuk melihat apakah ada kelainan pada pertumbuhan janin, misalnya berat badan, berat lahir, letak plasenta, jumlah air ketuban, hidrosefalus, dan sebagainya.

Anda sering mendapat limpahan pasien/pasien rujukan?

Sering. Bahkan pasien dari RS di Singapura. Pasien rujukan ini banyak yang datang tanpa tahu kapan menstruasi terakhir, waktu pembuatan, waktu lahir (due date ), dan ukuran janin. Katanya dokternya enggak ngomong apa-apa atau mereka sendiri enggak bertanya. Ada pula yang mengeluh ditolak USG 4 dimensi di rumah sakit lain karena janinnya sungsang sehingga tak bisa di-USG. Kalau janinnya sungsang, saya minta ibunya jalan-jalan 30-60 menit. Waktu periksa lagi, 99 persen selalu berhasil di-USG. Kadang ada juga pasien yang diberitahu dokternya janinnya sehat, ternyata setelah saya periksa punya kelainan.

Bagaimana cara mengetahui due date ?

Due date adalah usia kehamilan 40 minggu, itu sudah usia mentok. Di atas itu, sudah lewat waktu, sudah harus konsultasi setiap 2-3 hari. Lewat dari seminggu sudah bahaya. Dua minggu sebelum due date sudah pasti janin sudah matang. Jadi perkiraan lahir usia 38-40 minggu. Nah, waktu terbaik untuk memastikan due date ini saat usia kehamilan 10 minggu. Kalaupun due date -nya meleset, paling-paling hanya lima hari.

Bagaimana dengan kehamilan pada perempuan berusia rentan?

Sebetulnya tidak masalah, saya punya beberapa pasien yang melahirkan di atas usia 40 tahun. Malah ada yang hamil pada usia 48 tahun. Kita kan, sudah punya ilmu dan teknologi canggih, kenapa harus takut? Saya banyak menangani pasien yang menjalani program kehamilan, dan banyak yang berhasil.

Kalau mau memprogram, sejak awal catat kapan haid terakhir dan kapan terakhir berhubungan intim, sehingga bisa diketahui kapan pembuahan terjadi. Kalau mau lebih bagus, sebelum hamil minum multivitamin dan folikesit (asam folat) untuk mencegah kelainan pada janin.

Apa mitos terbesar dalam hal USG di Indonesia?

Makin besar janinnya, makin terlihat semuanya. Jadi, banyak dari mereka yang baru USG ketika usia kehamilan 7-8 bulan. Banyak ibu hamil yang masih percaya mitos ini. Padahal ini salah. Idealnya, ya tiga kali itu tadi.

Sebetulnya, haruskah USG 4 dimensi dilakukan?

Kalau alat USG 2 dimensinya sudah beresolusi tinggi, sudah cukup. Karena dengan demikian kelainan pada janin sudah bisa terdeteksi.

Bagaimana saat menangani kehamilan istri sendiri?

Waktu hamil anak pertama, Andrea Putri Turk (8), istri saya setiap minggu periksa, karena lantai bawah rumah kami gunakan sebagai klinik. Waktu kelahiran Andrea, saya yang belum bisa praktik jadi asisten, mertua saya operatornya. Waktu kelahiran anak kedua, Antea Putri Turk (9 bulan) saya operatornya, mertua jadi asisten saya.

dr dario keluarga

dario berharap setelah kliniknya selesai direnovasi, ia bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga (Foto: Dok. Pribadi)

Omong-omong, bagaimana bisa bertemu istri?

Waktu acara halal bihalal Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI) di sebuah hotel akhir 1997. Saya ikut menumpang makan di meja keluarga Dr. Joso. Di situlah saya bertemu Endang. Mereka pulang naik mobil, saya naik motor. Waktu ada mahasiswa dari Jerman di UI yang ingin orientasi Jakarta, saya ingat Endang lahir di Jerman, jadi saya ajak ke rumah Dr. Joso.

Dari situlah saya mulai dekat dengan Endang. Kami menikah tanggal 19 September 1999, pukul 09.00 di rumah no 9. Gus Dur datang memberi tausiah nikah saat akad. Saat resepsi seminggu kemudian, BJ Habibie (waktu itu Presiden RI, Red. ) yang sudah menganggap saya anak angkatnya, datang dikawal satu truk petugas keamanan karena saat itu sedang terjadi tragedi Semanggi kedua.

Kalau Anda sangat sibuk, lalu kapan waktu buat keluarga?

Memang dilema juga sih, saya jadi jarang bertemu istri dan anak-anak. Apalagi waktu Andrea baru lahir, kesibukan saya sedang tinggi-tingginya. Tapi sekarang sudah berkurang, saya harus lebih sering bersama keluarga. Itu sebabnya saya sekarang merenovasi klinik di rumah untuk jadi one-stop clinic , sehingga bisa jadi surga buat pasien, saya, dan keluarga. Pasien tidak bosan lagi menunggu, saya dan keluarga bisa lebih sering ketemu. Saya juga bisa berolahraga dengan lebih baik.

HASUNA DAYLAILATU

Views : 20303

blog comments powered by Disqus