Membership
Lupa password?
Profil

Dira Sugandi, Berawal Dari Penyanyi Kafe
Rabu, 21 April 2010
Dira Sugandi

Foto: Agus Dwianto

Mojang Bandung ini punya moto hidup untuk selalu berpikir besar. Itu telah dibuktikannya, dari seorang penyanyi kafe, kini Dira telah menjelma menjadi penyanyi kelas dunia. Prestasi yang diperolehnya dilalui dengan penuh kesabaran dan totalitas.

Nama Dira Julianti Sugandi (31) bagi bukan penggemar musik jazz dalam negeri memang kurang familiar. Kendati demikian, Dira telah menambah daftar artis Indonesia yang berhasil go international . Album perdana Dira, Something About The Girl (SATG) yang diluncurkan pada 8 Maret lalu makin mengukuhkan kiprah Dira di panggung jazz dunia. Album yang diproduseri Jean Paul ‘Bluey’ Maunick (pentolan grup Incognito) ini justru lebih dulu beredar di luar negeri (Inggris dan Jepang) dan langsung mendapat apresiasi bagus dari pecinta musik jazz dengan menghuni tangga atas lagu jazz dunia.

Di Java Jazz 2010 lalu, Dira juga mendapat slot khusus untuk tampil solo. Alhasil, sejumlah musisi mancanegara seperti Diane Warren, Roy Hargof, dan Ivan Liss terkesan dan mengajaknya untuk bekerjasama. Sebelumnya, di tahun 2009 Dira diduetkan dengan Jason Mraz di Java Jazz.

Dira dan Incognito

Dira dan Incognito di perayaan 30 tahun Incognito (Foto:Dok Pri)

Diincar Incognito

Pengakuan dan prestasi itu diperoleh Dira tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses dan juga faktor keberuntungan. Putri pasangan Rudiama Sugandi-Mira Susanti ini memang senang menyanyi sedari kecil.

Ketika remaja ia nyaris mengikuti Asia Bagus di Singapura, namun ditinggalkan karena ia lebih memilih mengikuti ujian sekolah. Ia sempat belajar vokal di Elfas dan mengasah kemampuan dengan menyanyi di kafe. Untuk lebih mendalami musik, Dira menuntut ilmu musik di Universitas Pelita Harapan.

Namun, Dira mengaku mulai serius mendalami musik jazz sekitar 6 tahun belakangan ini. “Awalnya aku diminta menggantikan Rika Roeslan di sebuah acara jazz regular. Soalnya cuma sedikit lagu jazz yang aku kuasai, jadinya diulang-ulang, “ ceritanya sambil tertawa. “Tapi dengan semangat belajar, lambat laun lagu jazz yang aku kuasai bertambah. Sampai akhirnya aku kecemplung beneran .”

Dira bersama World Peace Orchestra

Bersama World Peace Orchestra di Java Jazz 2008 (Foto: Dok Pri)

Dira tak terlalu kesulitan mendalami jazz, sebab sejak kecil ia terbiasa mendengarkan koleksi lagu-lagu jazz ayahnya. “Dari kecil sudah familiar dengar lagu-lagu Frank Sinatra, Nat King Cole, Louis Amstrong. Cuma aku enggak tahu itu jazz. Hanya chord -nya, kok, enak didengar.”

Cikal bakal Dira berkenalan dengan musisi dunia terjadi di tahun 2001. Ini juga berbau keberuntungan. Kala itu Incognito tampil di Bandung. Sebagai penggemar, Dira menjadi penonton paling depan. “Aku ngefans dan hapal lagu-lagunya. Saat mereka menyanyikan lagu Still Friend of Mine , vokalis cowoknya, Xavier Barnett, memberikan mic -nya ke aku. Ya, aku menyanyi saja. Setelah selesai, ia kasih sign untuk ke back stage . Akhirnya kami berkenalan dan saling tukar nomor telepon,” cerita Dira.

Tanpa diduga esok paginya Xavier menelpon ke rumah Dira. “Mama bilang, ‘Dira bangun (tidur), ada telepon dari Incognito!’ Ah! rupanya aku diundang ke hotel tempat mereka menginap. Aku berkenalan dengan Bluey yang kini jadi produserku. Kami terus keep in touch .”

Tahun berikutnya, Incognito datang lagi ke Indonesia. Promotornya, Peter Basuki, tiba-tiba menelpon Dira. “Pak Peter bilang, ‘Aku susah banget cari telepon kamu. Bluey mau datang dan cari kamu. Mereka mau kamu bernyanyi bersama mereka.’ Aku pun diminta menjemput mereka di airport ,” kisahnya senang.

Kolaborasi itu memuaskan Incognito. Setelah itu Dira beberapa kali diajak terlibat dalam penampilan Incognito yang relatif dekat dengan Bandung, seperti Singapura, Bali, hingga Jepang. “Aku enggak bisa selalu ikut dan pergi jauh-jauh, karena masih kuliah.” Namun, pengalaman ini jadi promosi buat seorang Dira.

Keluarga Dira

Keluarga Dira yang sampai kini masih tinggal di Bandung (Foto: Dok Pri)

Seperti Ayah

Setelah cukup lama berkenalan, di tahun 2007 Bluey menawarkan Dira untuk membuat album. Perlu proses sekitar 2 tahun untuk menyelesaikan album itu, mengingat Bluey sering tur ke penjuru dunia dan berdomisili di London. “Walaupun sibuk, alhamdulillah Bluey mau menyisihkan waktunya untuk mengerjakan albumku. Padahal sebetulnya juga enggak perlu. Dia sudah punya nama dan segala macam,” ujar Dira yang menilai Bluey pria yang tulus membantu dan menepati janji.

“Pernah, lho, email -ku enggak dibalas Bluey sampai 3 bulan. Sampai aku berpikir apakah dia lupa sama aku. Belum lagi muncul omongan, Bluey sudah menelantarkan Dira,” lanjut Dira sambil tersenyum. Belakangan Bluey menjawab, ia tak melupakan Dira. Hanya kesibukan yang padat lah yang membuat ia tak kunjung membalas email Dira. “Rupanya kesabaranku sedang diuji banget.”

Pada akhirnya Dira memang harus mengejar-ngejar Bluey. Ketika Bluey ada waktu, Dira menyambanginya. Kadang di sela waktu tur Bluey di sebuah negara, saat Bluey mengunjungi Indonesia, atau Dira sendiri yang datang ke rumah Bluey di London. Masalah biaya kadang menjadi kendala buat Dira. “Pertama kali datang ke sana aku hampir jual mobil, karena biayanya memang besar,” cerita Dira.

Bluey sendiri, menurut Dira, sudah banyak berkorban buatnya. Seperti saat Dira di London, Bluey memfasilitasi studio dan rumahnya untuk Dira. “Di sana aku tinggal di rumahnya. Ketika pulang ia menganjurkan aku mencari sponsor. Dia juga berpesan agar aku jangan berkecil hati, karena semua ini tidak melulu soal uang. Kalaupun tak bertemu sponsor, Bluey mengatakan akan mengumpulkan uang dari hasil turnya untuk album aku.”

Efek kedekatannya dengan Bluey, mereka sempat diisukan berpacaran. Padahal kedekatan itu menurut Dira seperti anak dengan ayahnya. “Bluey sudah seperti orang tuaku. Ia banyak kasih nasihat. Kalau Bluey datang ke Bandung, menginapnya di rumahku. Aku juga dekat dengan istrinya. Saat datang ke London, aku tidur dengan anak perempuannya. Aku pun ngobrol dengan Bluey dan istrinya sampai tengah malam. Kami dekat banget,” kata Dira dengan mata berbinar.

Dira n Jason Mraz

Duet bersama penyanyi kaliber dunia, Jason Mraz, di Java Jazz 2008 (Foto:Dok Pri)

Jembatan Dunia

Bluey memang menepati janjinya. Pada akhirnya album perdana Dira (SAGT) pun rampung. Judul itu diperoleh menjelang akhir. “Yang mendesain album bilang ke Bluey, ada sesuatu tentang Dira yang spesial, yakni eksotis dan misterius. Bluey pun setuju dengan usul itu.”

SAGT berisi 11 lagu berbahasa Inggris yang diciptakan Bluey untuk Dira. “Syair-syairnya bercerita tentang aku, agar aku menghayati ketika menyanyikannya,” lanjut Dira sambil mengatakan Bluey memuji suaranya punya kekhasan. “Katanya, aku punya suara nature yang manis,” kata Dira tertawa.

Tak sedikit yang bilang Dira amat beruntung diproduseri musisi sekaliber Bluey, sebab pria berkulit hitam yang pernah memproduseri George Benson dan Philip Bailey ini dikenal amat pemilih, apalagi untuk solois wanita. “Sekarang Bluey sedang memproduseri Chaka Khan. Aku bangga banget bisa bikin album sebelum Chaka Khan,” ucap Dira tanpa bermaksud menyombongkan diri.

“Enggak sembarangan, lho, Bluey menawari aku bikin album. Sebelum nawarin rekaman, Bluey sepertinya perlu mengetahui Dira dulu. Kami berteman dulu. Belakangan Bluey memuji aku enggak selfish .”

Dira bersama Matt cooper dan Bluey

Bersama Matt Cooper dan Bluey (kanan) yang sukses memproduseri album pertamanya (Foto:Dok Pri)

Bluey sendiri punya misi meluncurkan SAGT di luar Indonesia dulu. “Katanya, dia sebetulnya gampang saja ngorbitin aku di Inggris. Aku dibawa ke Inggris, jadi penyanyi Inggris dan mengorbitkannya dengan segala network yang Bluey punya. Tapi, itu enggak ada spesialnya buat Bluey. Tantangannya adalah bagaimana aku justru stay di Indonesia, tapi orang tahu aku adalah penyanyi internasional. Itu lebih susah,” ungkap Dira.

Selain itu, SAGT diharapkan bisa membuka jembatan Indonesia dengan dunia. “Biar dunia tahu di Indonesia banyak, kok, penyanyi bagus-bagus, cuma belum terbuka aja jalannya. Bluey cinta Indonesia juga.”

Saat ini Dira sedang mempersiapkan SAGT untuk Indonesia. “Penggemar di Indonesia sudah antusias menanyakan album ini. Aku bilang, sabar dulu, meski ke luar negeri dulu, pasti akan ke Indonesia. Karena ini rumahku,” kata Dira yang menambahkan dua lagu berbahasa Indonesia di SAGT versi Indonesia.

Dua lagi itu adalah Kami Cinta Indonesia karya (alm) Harry Roesli dan Kucemburu, buah karya Rika Roeslan. Lagu pertama memang sudah lama “diberikan” Harry untuk Dira. “Kang Harry memang dekat dengan Papa. Sebelum meninggal, Kang Harry sempat memanggil aku. ‘Sok , kamu mau pilih lagu yang mana, terserah’. Aku pilih lagu lama itu, dari liriknya menyentuh banget. Terlebih melihat kondisi negara saat ini yang memprihatinkan.”

Lagu Kami Cinta Indonesia selalu mengingatkan kembali Dira akan sosok Harry. Saat rekaman lagu itu, tak henti air mata Dira mengalir.SAGT versi Indonesia telah Dira bicarakan dengan label asal Indonesia. Padahal, dulu Dira kesulitan mencari label lokal yang mau memproduserinya. “Dulu, di sini susah. Ujung-ujungnya duit. Aku selalu ditanya, ‘Kamu punya duit berapa?’,” ujar Dira tersenyum.

Java Jazz

Berfoto bersama pengisi acara Java Jazz 2010 dan Presiden SBY beserta keluarga (Foto:Dok Pri)

Melihat respons positif dari mancanegara Dira tak menutup kemungkinan, jika suatu saat ia harus pindah ke luar negeri. “Aku tak mau munafik, jika perusahaan rekamanku di luar negeri bilang aku harus pindah ke Amerika Serikat atau Inggris untuk keperluan promosi, aku harus siap. Aku sudah membahasakan diri ke orang lain, aku warga dunia. Sekarang di Indonesia, Senin di Amerika, selanjutnya di Shanghai. Aku sebetulnya memang suka travelling ,” kata Dira. Bluey pun sudah bicara ke Dira untuk mempersiapkan album kedua, usai promosi SAGT.

Sejauh ini Dira bersyukur dengan apa yang telah diraih, namun seperti layaknya manusia, ia tak pernah puas dan akan terus berkarya sampai ajal menjemput. “Aku ini seperti gunung berapi. Kata orang yang mengenalku, aku energetic . Menyebarkan energi yang hangat. Aku passionate (bergairah) dengan kehidupan. Aku juga pembosan jadi aku akan selalu bikin yang ada tantangannya. Kalau pengin jadi sesuatu yang besar memang harus berpikir besar. Kalau aku hanya berpikir sebagai penyanyi kafe, apa yang kuraih sekarang tak akan tercapai,” masih kata wanita yang mengaku doyan ngomong ini.

Mengenai hal pribadi, ternyata Dira mengaku belum memiliki kekasih. Wanita yang sudah 2 tahun men-jomblo ini menginginkan pria berjiwa romantis seperti dirinya. “Katanya, sih, klise tapi aku memang ingin hidup romantis terus dengan pasanganku sampai meninggal. Sekarang aku sedang konsentrasi ke karier. Tapi jika di perjalanan Allah mengirimkan pria itu kepadaku, aku berterima kasih.”

Dira memperkirakan pria idamannya itu tak jauh dari profesinya. “Sebenarnya aku suka seniman. Orang yang punya apresiasi terhadap art , terutama musik. Jangan sampai enggak mengerti musik sama sekali, nanti aku bisa stres,” tutupnya seraya tertawa.

AHMAD TARMIZI

Views : 14063

blog comments powered by Disqus