Membership
Lupa password?
Profil

Dini Widiarni ”Rekonstruksi Telinga Bisa di Negeri Sendiri” (2)
Kamis, 30 September 2010
Dini berdiskusi dengan koleganya

Setiap kali akan melakukan tindakan operasi, Dini selalu berdiskusi terlebih dulu bersama koleganya (Foto: Henry Ismono)

Kalau begitu, perlu biaya cukup besar?

Mau enggak mau memang biayanya mahal. Meski mahal, enggak perlu khawatir. Kami, kan, rumah sakit pemerintah. Bagi keluarga yang kurang mampu, ada fasilitas yang disediakan pemerintah. Seperti jamkesmas, gakin. Tinggal mengurus administrasinya saja.

Selama ini, kasus daun telinga kecil lebih banyak ditemukan di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Mungkin mereka tidak rutin periksa kehamilan. Kadang si ibu hamil juga tidak peduli pada masalah infeksi. Faktor ini bisa memicu anak berdaun telinga kecil. Ketika harus menjalani operasi, masyarakat sudah menyangka tidak bakal kuat menanggung biaya.

Seberapa sering Anda dan tim menangani masalah ini?

Dalam lima tahun terakhir sudah rutin melakukan rekonstruksi. Hampir 100-an kasus. Kasus ini mulai tertangani sejak 1997. Kala itu ada foundation  dari Jepang bekerja sama dengan Indonesia. Mereka mengajari rekonstruksi pada dokter di sini. Waktu itu, saya dan tim satu departemen belajar kepada Prof. Himura. Jadi, semacam alih teknologi. Butuh waktu cukup lama, sekitar dua tahun untuk menguasai ilmu ini.

Selain kasus daun telinga kecil, rekonstruksi juga dilakukan pada kasus apa saja?

Masalah trauma, misalnya saja terjadi kecelakaan yang mengakibatkan daun telinga cacat. Bisa juga karena penyakit tumor. Kasus ini sama banyaknya dengan daun telinga kecil. Cara penanganannya, lebih sulit rekonstruksi telinga kecil. Hanya saja cacat trauma sudah lebih dulu dikenal. Selain RSCM, beberapa rumah sakit di kota lain juga sudah banyak yang sanggup melakukan operasi.

Untuk kasus rekonstruksi telinga kecil, RSCM masih menjadi rumah sakit rujukan. Untuk transfer ilmu, saya masih mengajar di Bandung.

Dini Hobi naek sepeda

Diluar kegiatan kedinasannya, Dini hobi naek sepeda bersama sang suami (Foto:Dok Pribadi)

Omong-omong, kenapa tertarik jadi dokter spesialis THT?

Saya, kan, lulus Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran tahun 1985. Saya sempat beberapa tahun praktik menjadi dokter umum di Bandung. Saya tertarik THT karena waktu itu banyak kasus penyakit batuk, pilek, radang telinga. Tapi, kasus yang sulit seperti cacat bawaan ini belum ketahuan.

Tahun 1991, saya mulai mengambil spesialis THT di Universitas Indonesia. Selesai tahun 1995, saya masuk RSCM. Saya juga studi lanjut mengambil Magister Epidemiologi Klinik di UI, sampai akhirnya menyelesaikan S3, spesialias THT-KL Konsultan Plastik-Rekonstruksi.

Ketika bekerja di RSCM itulah saya menemukan kasus telinga kecil. Sebagai rumah sakit rujukan, di sini banyak ditemukan kasus aneh-aneh.

Tidak bosan menangani operasi kasus yang aneh-aneh?

Tentu saja tidak. Saya sudah telanjur menyukai pekerjaan ini. Sering, lho, saya berdiskusi dengan kolega saya tentang kasus-kasus yang kami tangani. Apalagi, suami, Ir. Pancho Sigit Priyono Soetjipto, mendukung profesi saya sepenuhnya.

Masih sempat, dong, jalan-jalan bersama keluarga?

Sebisa mungkin saya melakukannya. Dulu, ketika anak-anak masih kecil, saya berusaha meluangkan waktu bersama mereka. Sekarang tentu juga masih. Hanya saja tiga anak saya sudah besar. Si sulung sudah jadi sarjana. Bukan seperti ayah-ibunya, tapi dia memilih jadi sarjana seni. Sebagai orangtua, saya selalu mendukung langkah anak-anak.

 Henry Ismono


blog comments powered by Disqus