Membership
Lupa password?
Profil

Dian Pelangi, Anak Bawang Yang Menembus Dunia
Selasa, 30 Maret 2010
Dian Pelangi foto edwin

Dian Pelangi (Foto: Edwin Yusman)

Apa yang dilakukan gadis bernama lengkap Dian Wahyu Utami (19) ini patut diacungi jempol. Di usianya yang masih belia, busana muslim rancangannya sudah sukses menembus pasar mancanegara.

Bagaimana awalnya Anda tertarik menekuni dunia fashion ?

Sejak kecil saya sudah suka menggambar baju. Bahkan kalau ingin baju baru, Ibu selalu menyuruh saya untuk mendesain sendiri baju yang saya inginkan. Kata Ibu, “Buat apa beli kalau kita sendiri penjahit dan punya bahannya?” Begitu selalu Ibu menasehati saya. Jadi, sejak kecil saya sudah biasa menggambar busana. Awalnya memang terpaksa bikin baju, tapi lama-lama jadi senang.

Lulus SMP saya masuk SMKN 1 Jurusan Tata Busana di Pekalongan. Kebetulan saat itu bersamaan dengan kepindahan orangtua ke Pekalongan untuk membuka pabrik tekstil. Lulus SMK, saya pun mulai diberi tanggung jawab meneruskan butik Dian Pelangi di Jakarta. Padahal, waktu itu umur saya masih 16 tahun. Mungkin memang sengaja diceburkan ke dunia fashion oleh orangtua.

Di Jakarta, saya semakin serius menekuni dunia fashion . Saya lalu kuliah di sekolah mode ESMOD selama setahun. Alasannya, lebih dekat dengan tempat tinggal saya di Jakarta dan belum diizinkan ke luar negeri karena masih kecil.

Anda memulai semuanya sendiri ya?

Mulai dari desain, marketing dan promosi saya lakukan sendiri. Bahkan, mulai dari benang hingga jadi busana siap pakai, semua saya lakukan sendiri. Kebetulan keluarga saya memiliki pabrik tekstil di Pekalongan, Jawa Tengah. Jadi, kalau ada pelanggan yang ingin mendesain corak busana sendiri, saya bisa membantu.

Sebenarnya yang memulai ini semua adalah orangtua, saya hanya meneruskan saja. Semua proses ini mereka mulai dari nol, dari menjumput, membatik sampai mewarnai. Jumlah karyawan yang awalnya hanya 5 orang, berkembang hingga 350 orang karyawan dalam waktu 17 tahun. Butik ini pun sebenarnya sudah disiapkan oleh orangtua, makanya dinamakan Dian Pelangi.

Anda beruntung sekali ya?

Iya, benar sekali. Saya jadi lebih puas berimajinasi dalam berkarya. Busana jadinya sesuai dengan apa yang saya inginkan. Sehingga saya bisa total dalam berkarya, semuanya juga berkat dukungan keluarga. Hasilnya pasti total. Memang pembuatan satu jenis busana jadi agak lama, karena semuanya dibuat sesuai pesanan dan hand made . Satu corak batik saja pengerjaannya bisa sampai tiga bulan. Belum lagi sekarang masuk musim hujan, jadi pengeringan batik agak lama.

Enggak takut mengelola bisnis sendirian di Jakarta?

Ibu terus mengontrol dari Pekalongan. Sampai sekarang, setiap pagi Ibu selalu menelpon. Ibu juga yang menjadi motivasi aku menjadi seperti sekarang ini. Dulu, Ibu yang mengarahkan saya untuk menawarkan desain-desain kita ke majalah. Ibu juga yang menyuruh saya ikut bazaar dan pameran. Bismillah saja, dan alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan mulai dikenal orang.

Sampai tahun 2009 saya disuruh gabung ke APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia). Alhamdulillah saya lolos dan menjadi anggota termuda, bahkan sampai sekarang saya masih menjadi angota termuda di asosiasi itu.

Pernah merasa diremehkan oleh anggota yang lain?

Enggak, sih. Justru saya yang enggak enak hati karena terkadang disejajarkan dengan perancang senior. Saya malah sempat down . Tapi, justru saya jadi semangat untuk membuktikan diri bahwa saya sanggup dan mempunyai kemampuan yang sama seperti anggota yang lain. Bagi saya, jika ingin dihargai kita harus menunjukkan, kita memang patut untuk dihargai.

Di situ pula saya mulai sering mengikuti berbagai fashion show dan menunjukkan kemampuan saya. Lihat, anak bawang ini juga bisa. Untungnya pula di APPMI saya terbilang aktif, saya rajin menawarkan diri untuk membantu segala kegiatan APPMI. Suatu kali, saya mendapat tugas mencari gedung untuk fashion show , siapa menyangka saya justru bertemu pacar saya, lho .

Wah, bagaimana ceritanya?

Waktu itu, saya mendapat gedung ISQ milik Pak Ary Gunawan. Ternyata ibundanya Pak Ary pelanggan busana saya. Ketika beliau berulang tahun pada Agustus 2009 lalu, saya dikenalkan dengan seorang cucunya. Alhamdulillah , ternyata nyambung dan hubungan kami berjalan sampai sekarang.

Kembali ke fashion , kapan sih pertama kali ikut fashion show ?

Mei 2009, di Melbourne, Australia. Awalnya, busana saya ditampilkan dalam sebuah majalah muslim nasional. Majalah itu kebetulan bekerjasama dengan Kementrian Pariwisata untuk mengadakan fashion show di sana. Yang tidak disangka, selain saya, seorang perancang senior Iva Latifah juga diajak. Saya benar-benar terkejut dan enggak menyangka, kok , saya yang junior ini diajak juga.

Saya sendirian ke sana dengan membawa 40 busana. Untungnya, saya ada kenalan di Melbourne, jadi bisa membantu saya menyiapkan busana-busana itu untuk dipamerkan. Kalau enggak, terbayang, kan, bagaimana saya harus menyetrika busana itu sendirian dan memakaikannya ke para model?

Alhamdulillah responnya sangat bagus. Liputan mengenai saya dimuat di surat kabar bernama The Edge. Dan, sampai sekarang ada sebuah outlet yang menjual busana rancangan saya di Melbourne. Ke depannya, Insya Allah , akan menyusul di Sydney dan Perth.

Selain di Australia, fashion show apa lagi yang pernah Anda ikuti?

Acara fashion show APPMI berjudul Kembali Fitri , Agustus 2009 lalu. Alhamdulillah tanggapannya positif sekali. Disitu saya menunjukkan sesuatu yang berbeda dari busana muslim kebanyakan. Salah satunya dengan menggunakan warna-warna berani atau shocking . Disitu saya tunjukkan karakter saya.

Oktober 2009 saya juga sempat pameran di Abu Dhabi, diajak Kementrian Perindustrian dan Perdagangan. Lucunya, sebelum berangkat seorang perancang bilang, jangan membawa batik ke sana karena susah lakunya. Ternyata enggak, tuh. Justru busana muslim bercorak batik yang saya bawa habis dibeli. Dari 50 potong yang saya bawa, sisanya tinggal 5 potong!

Dalam waktu berdekatan, saya juga ikut ambil bagian di Jakarta Fashion Week, November 2009. Kembali saya mendapat tanggapan positif, bahkan semakin sangat luar biasa. Seakan semua orang saat itu membicarakan saya. Sampai masuk majalah di mana-mana. Padahal, saya enggak berharap seperti itu, benar-benar enggak menyangka.

Dari situ, koleksi saya dilirik oleh Kementrian Pariwisata untuk dibawa ke London, Inggris, April 2010 nanti dalam acara Indonesia Is Remarkable di Harrods.

Apa sih, keunggulan busana rancangan Anda?

Selain desain, saya enggak membandrol busana rancangan saya dengan harga tinggi. Makanya banyak yang mengajak saya kerjasama untuk menjual kembali di tokonya. Ada tiga koleksi Dian Pelangi. Yaitu Mass Production, saya bandrol di harga sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 800 ribu. Kemudian Special Collection, berkisar di harga Rp 1 juta sampai Rp 3,5 juta. Private Collection ada di kisaran harga Rp 2 juta sampai Rp 5 juta-an.

Dari mana biasanya Anda mendapat ide untuk rancangan busana?

Tergantung mood dan perkembangan fashion juga. Misalnya tahun kemarin dan tahun ini masih menggunakan jumputan. Soalnya, kan, yang lain sedang ramai dengan batik. Padahal, jumputan itu juga enggak kalah unik dan bagusnya. Jumputan pun bisa dipakai semua kalangan dan berbagai usia. Tapi, tetap enggak mengenyampingkan karakter saya yang ceria, warna-warni dan bernafas etnik.

Perkembangan tren fashion enggak terlalu menjadi pertimbangan buat saya. Justru saya ingin menciptakan tren. Seperti tujuan APPMI, yang ingin menjadikan busana muslim Indonesia sebagai kiblat fashion busana muslim dunia.

Misalnya ketika orang lain heboh dengan potongan kalelawar, saya enggak ikutan dan malah membuat busana dengan potongan yang simpel dan santai, tapi bisa dipakai ke pesta. Ternyata rancangan itu sekarang ramai diminati.

Ide bisa muncul dari mana saja dan kapan saja. Pernah, sedang di jalan, saya dapat ide dan langsung saja digambar.

Sepertinya semakin terungkap, banyak keberuntungan yang menghampiri Anda ya?

Alhamdulillah . Mungkin karena awalnya saya menganggap diri enggak mampu dan pesimis. Ternyata hasilnya lebih dari yang saya bayangkan. Dan membuat saya berpikir, langkah yang saya jalani sudah benar dan betapa ekspresnya hidup saya hingga menjadi seperti ini.

Banyak yang kaget juga ketika tahu saya baru berumur 19 tahun. Bahkan, ketika sedang jalan dengan adik bungsu saya, dia selalu disangka anak saya. Ha ha ha.

Apa rencana pribadi Anda?

Menikah. Insya Allah akhir tahun ini. Memang banyak yang menyayangkan keputusan saya ini karena dinilai terlalu cepat dan takutnya menunda rencana yang lain. Tapi, saya merasa menikah itu adalah sunnah Rasul. Kalau memang jodohnya mengapa tidak? Bismillah saja.

Kalau menyangkut usaha, saya ingin go international dengan membuka banyak outlet di luar negeri. Di Asia, saya baru buka satu cabang di Malaysia. Saya ingin membuka pasar di Jepang dan Eropa. Kemudian ingin membuat rancangan busana untuk anak-anak.

Apa yang Anda lakukan untuk mengisi waktu luang?

Paling-paling jalan ke mal untuk brain storming . Kalau ada waktu luang yang panjang, jalan-jalan ke luar kota sekalian mencari pasar yang memungkinkan untuk membuka outlet Dian Pelangi.

Di Indonesia, kami sudah membuka cabang di Medan, Palembang, Jakarta, dan Pekalongan. Yang akan menyusul, Surabaya dan Pekan Baru.

Saya juga suka menyanyi, lho ! Kalau ada acara dan ada musiknya, saya paling sering naik panggung untuk menyanyi. Saya suka lagu-lagu Melayu, jadi sering diledek teman-teman karena seleranya lagu-lagu orangtua. Tapi, saya cuek saja, yang penting saya suka. Ha ha ha.

Edwin Yusman F.

Views : 32451

blog comments powered by Disqus