Membership
Lupa password?
Profil

Decky Suryata Semarak Olahan Variasi Salak
Jumat, 18 Mei 2012
Decky Suryata

Foto: Rini Sulistyati/Nova

Sejak duduk di bangku SMA Muhamadiyah I, Yogyakarta, Decky Suryata  (28) sudah gemar berbisnis. Terakhir, ayah dua anak ini membangun bisnis inovatif, produk olahan salak pondoh. Tahun lalu ia meraih penghargaan sebagai wirausahawan mandiri.

Apa saja aktivitas Anda?

Bisnis. Kegiatan itu sudah saya lakoni sejak 1999. Waktu itu status saya sebagai perantau dari Kalimantan yang sekolah di SMA Muhammadiyah I. Awalnya saya bisnis jual-beli handphone (HP). Saya jual HP pemberian ayah yang mestinya untuk alat komunikasi. Keuntungannya saya gunakan untuk beli HP yang selanjutnya dijual lagi.

Akhirnya saya bisa punya counter  telepon sendiri di Jl. Monjali.  Sebagai remaja, saya tergolong nakal. Jujur, sebagian dagangan saya kala itu adalah barang black market .  Dari 10 barang yang saya jual, paling hanya 1 atau 2 yang bagus.  Karena  itu, tahun 2006 kios saya tutup.

Kemudian?

Nikah! Ha ha ha... Habis mau bagaimana? Kuliah saya di Fakultas Ekonomi UGM mampet, bisnis bangkrut, jadi nikah sajalah. Siapa tahu justru ada rezeki. Saya menikahi teman SMA saya, namanya Fara. Sekarang anak kami sudah dua.

Bisnis apa lagi?

Saya ikut mengelola warung Pakdhe. Ti­ga bulan kemudian, saya minta izin Pakdhe  untuk mandiri. Lalu saya jualan burger  gerobakan yang kala itu sedang tumbuh bagus. Saya jualan di pinggiran selokan Mataram.  Usaha saya terus berkembang. Lewat proses kemitraan, saya sampai punya 350 outlet di seluruh Indonesia.

Namun tahun 2009 -2010 bisnis burger mulai stagnan karena pemainnya sudah banyak. Tidak ada tantangan lagi bagi saya. Setelah saya pikir-pikir, kemudian September 2010 saya memilih beralih ke produk olahan salak pondoh yang menurut  saya potensial.

Wajik Salak

Kini, beragam produk salak tersedia di showroom Decky. (Foto: Rini/NOVA)

Langkah awalnya?

Saya dan istri survei ke lapangan. Saya menemui petani salak pon­­doh. Kenyataannya sungguh menyedihkan. Bila musim panen, harga salak anjlok dan hasil panen dibiarkan busuk. Jadi tiap kali pa­nen, petani menggali tanah lagi untuk menimbun salak busuk itu sebagai pupuk. Lebih parah lagi bila tiba musim buah musiman seperti durian dan rambutan, harganya semakin jatuh. Bertolak dari sanalah saya dan istri mau membeli hasil panen petani lebih tinggi dari para pengepul.

Lalu?

Istri saya, kan, tidak punya basic  memasak. Makanya saya kumpulkan aneka resep kue. Akhirnya ketemu brownies kukus salak pondoh. Saya mempromosikannya lewat media sosial. Begitu kue keluar dari kukusan dan bentuknya sudah kelihatan bagus, saya foto. Langsung saya  up load.  Soal rasa belakangan, hajar saja.

Hasilnya ternyata bagus. Banyak peminatnya. Sambil jalan, saya terus memperbaiki kualitas rasa. Pernah saya  bertemu seorang chef.  Dia beli dan tanya-tanya berapa telur yang kami pakai. Eh, setelah dapat jawaban, dia malah  kasih masukan berapa banyak telur yang seharusnya kami pakai. Lumayan, kan, akhirnya bisa belajar gratis. Produknya dia beli pula. Namun pada Oktober terpaksa  berhenti karena kebun salak milik para petani mati kena erupsi Merapi.  Saya jadi pengangguran lagi. Biar irit, tiap hari kami makan di warung  angkringan.

Bagaimana ceritanya bi­sa bangkit lagi?

Sampai Januari saya sudah pesimis, bisa bangkit atau tidak. Suatu kali ada wartawan teve datang ke Jogja liputan soal Merapi. Lalu dia menelepon saya mau untuk  liputan brownies salak. Mungkin dia membaca di internet karena saya paling rajin promosi di jejaring sosial. Saya bilang sedang tidak produksi. Tapi wartawan itu me­­maksa saya mem­buat kue ka­rena sudah ber­ada di Jogja. Saya pikir apa salahnya dicoba, siapa ta­hu ada jalan. De­ngan kesulitan yang luar biasa, saya gerilya mencari salak.  Dapatnya  salak berkualitas buruk. Wartawan itu bilang, soal rasa tak jadi masalah  karena mereka hanya butuh gambar.

Proses pembuatan kue itu ditayangkan teve. Dari situlah ada yang mau beli. Saya bilang hanya bikin berdasarkan pesanan. Saya termotivasi untuk lebih mengembangkan usaha. Saya kembali mulai berproduksi.

Sampai suatu saat, saya  bertemu orang travel, dia tanya-tanya tentang usaha saya. Dia bertanya  bisa mendatangkan turis dengan bus tidak? Saya putar akal karena jalan depan rumah hanya cukup untuk masuk satu mobil. Akhirnya bulan Mei saya dapat  tempat di jalan raya Palagan yang memadai  buat parkir  bus. Kini, produk Salaka lebih variatif. Ada varian rasa yang berbeda. Cokelat, keju, pandan, dan original. Produk utamanya memang cake salak pondoh, tapi kini ada juga bakpia.

Cake Salak

Foto: Rini Sulistyati/Nova

Kabarnya bekerja sama dengan UKM juga?

Iya. Saya maunya semua produk dari salak ada di sini. Memang ada beberapa kelompok ibu-ibu yang membuat makanan dan minuman dari salak. Ada dodol, manisan, sirup. Tapi mereka semua adalah usaha rumahan. Repotnya kalau mendekati habis atau pas habis, ibu-ibu belum punya waktu bikin lagi, sementara pembeli sudah mencari. Misalnya sirup dan keripik. Kalau tidak salah ada 10 UKM yang saya gandeng. Saya ingat janji Allah, kalau kita bersinergi, rezeki kita akan ditambah.

Tidak  kesulitan mendapat pasokan buah salak lagi?

Awalnya dari pengepul, sekarang saya bisa langsung beli dari petani. Saya beli dengan harga lebih tinggi dari harga pengepul.  Saya juga diminta mengelola sekitar 10 hektar lahan kebun salak milik beberapa petani. Jadi sekarang ini saya tidak hanya menjual produk olahannya, tapi juga ada paket agro wisata di perkebunan salak.

Rini Sulistyati


blog comments powered by Disqus