Membership
Lupa password?
Profil

David M. Jacobs, Dari Sea Games ke Paralympic
Kamis, 26 Januari 2012
David

Foto: Kartika Santi/Dok NOVA

Rona bahagia terpancar dari wajah David Michael Jacobs. Pria berdarah Ambon ini mendapat bonus sebesar Rp 350 juta atas prestasinya. David adalah atlet penyabet medali emas terbanyak ASEAN Para Games (APG) VI di Surakarta, 15-20 Desember 2011 lalu.

Berjuang dalam kompetisi yang ketat dilakoni David pada APG VI di Surakarta. Diamond Convention Centre, Jl. Slamet Riyadi adalah arena yang menjadi tempat para atlet difabel se-Asia Tenggara beradu tangkas di cabang olahraga tenis meja. Cucuran peluh David tak sia-sia, setelah 7 medali emas berhasil dikalungkan sebagai tanda jawara dari 249 atlet Indonesia lainnya yang mengikuti APG VI.

David bermain tenis meja sejak usia 10 tahun. Kegiatan ini digemarinya lantaran ketiga kakaknya Rano, Piere, dan Joe, juga piawai bermain tenis meja. Ia pun didukung penuh ayah-bundanya, Jan Jacobs dan Nell Jacobs. Kesungguhan dukungan orangtuanya terbukti pada 1989. Mereka mendaftarkan David ke Klub PTP, Semarang. “Saya dua tahun di Klub PTP dan berlatih lebih intensif. Saat ada pertandingan antar SD se-Jawa Tengah, saya juara 1,” kenang David atas prestasi pertamanya.

Menginjak kelas I SMP, pria Ujung Pandang, 21 Juni 1977 ini pindah ke Jakarta bersama keluarganya. Peluang untuk menempa skill- nya di ibukota tentu lebih besar. Kali ini orangtuanya memasukkan putera bungsunya ke Klub UMS 80. Meski David penyandang disabilitas, namun ia selalu berlatih dan bertanding dengan orang-orang berfisik normal.

Kegigihan dan intensivitas latihannya selama di Jakarta mengantarkannya menjadi bagian dari tim yunior DKI Jakarta dan menjuarai sejumlah pertandingan. Sebagai pemuda yang lahir dengan ketidaksempurnaan di tangannya, David mengaku sempat merasa rendah diri dan bersedih atas kondisinya.

Satu hal yang diingatnya adalah masa-masa menjadi siswa dan mahasiswa baru. “Di lingkungan sekolah dan kuliah saya minder. Karena pas diabsen, saya enggak bisa angkat tangan, lalu saya mengacung pakai tangan kiri. Saya dimarahi karena dibilang tak sopan,” kenangnya sambil tersenyum.

Tapi setelah ia jelaskan kondisi tangan kanannya, para guru dan dosennya berbalik minta maaf. “Setelah sekolah berjalan setahun, bergaul sama teman-teman jadi biasa saja karena mereka sudah tahu kondisi saya.”

David Lewan Andi Malarangeng

Diakhir ajang APG 2011 lalu, David berkesempatan bertanding tenis meja melawan Andi Malarangeng (Foto: Kartika Santi/Dok Nova)

Sea Games

Melihat bakat bermain David yang luarbiasa juga prestasi yang diraihnya, membuat ayah satu anak ini diberi kepercayaan bergabung di tim yunior nasional. Pada 1997, ia dikirim ke Beijing, Cina, untuk mengembangkan kemampuan. Selama 6 bulan di Shi Cha Hai Sports School, David berlatih keras mempersiapkan diri menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON). “Di sana semuanya berfisik normal. Jadi awal saya terjun bukan di (pertandingan) para, tapi di normal. Di PON saya dapat perak.”

Di tengah kesibukannya berlatih, David tak lantas melupakan studinya. Ia masuk Jurusan Manajemen di STIE Perbanas, Jakarta. Mengaku tak memiliki prestasi akademik istimewa, namun ia lulus dan bergelar Sarjana Ekonomi pada 2001.

Perjalanan karier David kian meroket sejak masuk Timnas Indonesia. Sea Games pertama yang diikutinya pada 2001 di Kuala Lumpur, lalu di Vietnam (2003), Manila (2005), Thailand (2007), dan Laos (2009). “Di Timnas Indonesia saya dispesialisasikan main di ganda. Tapi prestasi saya di Sea Games maksimal dapat perak,” jelasnya. Namun medali emas berhasil disabetnya di Kejuaraan Tenis Meja Asia Tenggara (SEATA) di Jakarta (2009).

Saat David memperoleh medali emas di PON XVI (2004), ini menjadi tiket masuknya diterima sebagai pegawai negeri honorer di Dinas Olahraga, Provinsi DKI Jakarta. Empat tahun kemudian ia diangkat menjadi pegawai tetap. Di lingkungan pekerjaannya, David mendapat dukungan penuh ketika harus cuti untuk mengikuti berbagai kompetisi.

Karier David di Timnas berakhir pada 2009 karena adanya regenerasi. Mengingat usianya pun sudah lebih dari 30 tahun. Melalui Leo, sang teman, yang sudah mengikuti APG terlebih dulu, ia diajak mencoba event bagi para penyandang disabilitas itu. Setelah bertemu Ketua National Paralympic Committee (NPC) Jakarta Willy Pitrawirya dan Ketua NPC Indonesia Senny Marbun, David lolos uji coba dan resmi menjadi anggota NPC pada 2010. Di tahun itu, ia langsung mengikuti APG di Guangzhou, Cina, dan mempersembahkan medali perunggu untuk Indonesia.

David Melatih

Kelak, David ingin menjadi pelatih tenis meja untuk anak-anak."Agar bisa mencetak pemain tenis meja nasional yang andal,''ujarnya (Foto: Kartika Santi/Dok Nova)

Paralympic 2012

Keluar dari Timnas tak lantas melunturkan semangat David. Peluang besar menunggunya setelah ia hijrah ke APG. “Ternyata atlet dari Cina, banyak sekali yang bagus. Ini peluang buat saya untuk meraih prestasi lebih tinggi,” kesan David terhadap kualitas kompetisi APG saat pertama kali mengikutinya.

Ia pun mencari informasi melalui temannya di Malaysia cara mengikuti Paralympic Games. Syarat yang harus dipenuhinya, pernah ikut beberapa turnamen terbuka. Pada 2011, David mulai mengikuti berbagai turnamen dan masuk Kelas 10. Klasifikasi 1 sampai 5, atlet dengan kursi roda; 6 hingga 10 bermain dengan berdiri; kelas 10 untuk tingkat disabilitas paling ringan.

Sepanjang 2011, David mengikuti turnamen di Thailand dan meraih medali emas. Lalu di Beijing (Juara II), Chekolovakia (Juara III), Inggris (Juara II), dan terakhir di Taiwan pada November 2011 (Juara I). “Nah, ternyata di Taiwan peringkat saya sudah 10 besar untuk Para Table Tennis dunia. Peringkat saya sudah cukup untuk ikut Paralympic,” jelasnya bersemangat. Paralympic Games ini akan berlangsung di London, Inggris, September mendatang.

Seusai bertanding di Taiwan, David mengikuti APG VI di Surakarta. Menjadi atlet peraih medali emas terbanyak bagi David sangat membanggakan. Tujuh medali emas adalah bukti kerja kerasnya. Bonus Rp 350 juta yang diperolehnya sebagian akan diberikan ke keluarganya sebagai tanda cinta, serta memberi bantuan untuk beberapa yayasan dan gereja.

“Semua ini berkat Tuhan, jadi ada yang disumbangkan. Sebagian lagi ditabung untuk masa depan saya, istri, dan anak,” kata suami Jeanny Palar dan ayah Breavely Jacobs.

Segudang prestasi juara David buah dari moto hidupnya untuk terus berusaha keras, melakukan yang terbaik, dan berdoa. Ia mengingatkan kepada para penyandang disabilitas untuk tidak berkecil hati. “Jika kita selalu berusaha keras dan berdoa, pasti akan ada hasilnya. Jadi terus lah berlatih, semangat, dan berjuang,” tutup David yang bercita-cita menjadi pelatih tenis meja untuk anak-anak agar bisa mencetak pemain nasional.

Kartika Santi

Views : 1094

blog comments powered by Disqus