Rabu, 8 Februari 2012

Cahyo Alkantana Petualang yang Cinta Keluarga (2)

Berusaha mendapatkan gambar terbaik dan menghadapai risiko adalah keseharian Cahyo (Foto: Dok Pri)

Apa yang dilakukan untuk bisa mendapat best shoot ?

Menurut pengalaman saya, saya selalu mendapat gambar underwater best shoot pukul 05.00 pagi. Untuk mendapatkan best shoot  itu harus gila, nekat. Enggak bisa didapat secara tiba-tiba.

Apa best shoot yang paling memuaskan selama ini?

Dari sekitar 6 ribu kali penyelaman, best shoot  yang jadi the best in my life adalah beberapa waktu lalu di Nabire, Papua, ketika saya menyelam membuat film dokumenter untuk program Teroka , KOMPAS TV. Gara-gara mengambil gambar ini, peralatan seharga Rp 150 juta lenyap.

Ceritanya, saya sedang mengambil gambar whale shark . Bukan satu atau dua ekor, tapi puluhan hiu yang sedang berenang bersama-sama. Karakter whale shark ini friendly dan pemangsa plankton, bila ada sesuatu di depannya yang lebih besar dari plankton mereka akan segera menghindar. Sementara saya ingin mendapatkan gambar whale shark sedang membuka mulutnya dari jarak dekat.

Akhirnya saya nakal, ketika satu ekor hiu membuka mulut saya langsung arahkan kamera. Ternyata kameranya dimakan hiu hingga pecah. Sesampainya di atas, saya buka tempat memory card , ternyata masih kering. Rekamanan itu selamat. Karena ketika itu saya bekerja untuk KOMPAS TV, saya tidak jual rekaman itu ke agen saya di Inggris. Padahal jika saya jual, selama dua tahun tanpa kerja, hidup saya akan terjamin! Ha ha ha...

Omong-omong, bagaimana bisa memiliki program di KOMPAS TV?

Saya ditawari KOMPAS TV untuk membuat program Teroka . Ketika dapat tawaran itu jelas saya kaget, apa yang menarik dari saya? Secara tampang enggak menjual. Ha ha ha...

Tapi kemudian dijelaskan, acara ini bukan menjual tampang, melainkan mengikuti perjalanan saya sebagai pembuat film. Yang saya sukai, saya diberi kebebasan penuh dalam membuat program ini. Saya mau bikin film sesuai dengan standar saya. Saya ingin membuat program yang bisa mengubah mind set  masyarakat dunia bahwa Indonesia itu beautiful, peace, dan wonderful .

Saya ingin melakukan ini bukan sekadar demi uang. Umur 40 adalah saatnya kita berbagi. Naif lah kalau saya bilang soal nasionalisme dan sebagainya.

Beragam ekspedisi sudah membawanya keliling dunia (Foto: Dok Pri)

Dari beragam petualangan yang pernah dilakukan, mana yang paling Anda sukai?

Saya suka caving (susur gua). Bagi saya caving  sangat menantang dan menyenangkan. Apalagi cave diving  yang merupakan kegiatan alam bebas paling berbahaya di dunia. Sebanyak 75 persen pelaku cave diving meninggal duniasaat melakukan kegiatan ini.

Pernah saya nyaris kehilangan nyawa di Prancis. Menyelam di dalam gua seperti berada dalam jalur pipa di sebuah rumah. Selain melewati lorong-lorong, pandangan dan cahaya sangat minim. Nah, ketika itu saya pernah kehilangan jalur tali yang saya ikuti. Cadangan udara tinggal 30 menit, sementara untuk menuju ke ujung gua butuh 20 menit. Saya dituntut harus cepat memutuskan jalur tali mana yang saya pilih. Semua tali sama, enggak ada bedanya. Saya memilih salah satu dan ternyata tali yang saya pilih itu yang membawa saya ke luar gua. Ini keajaiban.

Kapok tidak?

Enggak lah.

Oh ya, bisa ceritakan proyek ekoturisme di Gunungkidul?

Di Kabupaten Gunungkidul, kan, memang terdapat lebih dari 400 gua yang tersebar di berbagai tempat. Beberapa di antaranya bersambungan satu sama lain. Nah, di sana saya bangun sebuah resor dengan konsep ekoturisme. Saya harap ini dapat menjadi ladang penghasilan warga sekitar. Saya juga menjadikan resor ini sebagai pusat pendidikan speleologi (ilmu tentang gua), termasuk museum dan perpustakaan perguaan.

Ke depannya, saya ingin membuat proyek mercusuar. Dengan membuat film dokumenter sekelas film Earth  yang bisa membuat mulut orang yang menontonnya menganga! Misi saya ini sangat luar biasa dan benar-benar menggugah.

Asyik, ya, bisa bekerja sambil jalan-jalan?

Enggak juga. Bagi saya, menyelam adalah pekerjaan untuk membuat film. Saya enggak lagi bisa merasakan fun  ketika menyelam. Ketika saya menyelam di laut, saya hanya berpikir harus membawa kamera dan harus dapat best shoot .

Jadi, apa yang Anda lakukan untuk bersenang-senang?

Keluarga! Itu mengapa saat ini saya membatasi pekerjaan. Dua minggu untuk keluarga, dua minggu untuk bekerja. Ketika di rumah, segala pekerjaan enggak ada yang bisa mengganggu saya. Karena disitulah kesenangan saya, berkumpul dengan anak-anak dan istri.

 Edwin Yusman F

Dilihat : 903 orang
  • Rating :
  • 3/5 (16 votes)
blog comments powered by Disqus