Membership
Lupa password?
Profil

Cahyo Alkantana, Petualang yang Cinta Keluarga (1)
Rabu, 08 Februari 2012
Cahyo Alkantana

Foto: Dok Pri

Gambar-gambar cantik yang dibidik Cahyo Alkantana (45)  untuk berbagai program dokumenter dihargai mahal, bahkan pernah tayang di sejumlah stasiun televisi luar negeri seperti National Geographic dan Animal Planet. Seakan tak peduli soal materi, ayah dua anak ini memilih kembali dan tinggal di Indonesia. Kelahiran Yogyakarta, 8 Juli 1966 ini kini mengembangkan konsep ekoturisme di Gunungkidul (DIY). “Saya melakukan ini bukan sekadar demi uang,” tegasnya.

Mengapa tertarik menjadi seorang petualang?

Sejak usia 6 tahun saya aktif beladiri silat di lingkungan Keraton Jogja. Sebulan sekali kami berlatih di hutan dan gua. Kemudian saya menjadi atlet silat daerah, tetapi merasa butuh tantangan lebih. Akhirnya saya jadi sering ke hutan. Sebelum azan subuh saya sudah lari keliling kampung. Enggak ada yang mengajari, semua muncul begitu saja.

Kegemaran untuk menyatu dengan alam terus berlanjut hingga tahun 1984, ketika kuliah di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atmajaya, Jogja. Di kampus saya aktif dalam organisasi kemahasiswaan pencinta alam, bahkan saya jadi Ketua Mapala Atmajaya selama lima tahun. Selama aktif di Mapala, saya makin gila berpetualang.

Ekspedisi apa yang pertama kali dilakukan?

Awalnya masih di sekitar Pulau Jawa, lama-lama ke luar Pulau Jawa. Ketika semester 4 saya jadi Ketua Mapala, Pembantu Rektor 3 kala itu memberikan tantangan kepada saya. Beliau melihat kegiatan ekstrakulikuler sangat drop , lalu meminta saya untuk menghidupkan kegiatan-kegiatan di kampus dengan memberikan dana unlimited . Siapa yang enggak senang? Saya kemudian membuat beragam ekspedisi, dalam satu tahun bisa tiga kali ekspedisi. Saya bisa ke Papua, Sarawak, Thailand, dan sebagainya.

Cahyo dan Kel

Kumpul bersama keluarga adalah kesenangan utama pria bertubuh tinggi besar ini (Foto: Dok Pri)

Lalu?

Tahun 90-an setelah wisuda, saya membuat usaha kontraktor kecil-kecilan. Sampai kemudian dapat tawaran ikut dalam sebuah ekspedisi. Saya dapat kesempatan menjadi pendamping tim peneliti bernama Operation Wallacea dari Inggris yang melakukan penelitian di Kepulauan Wakatobi.

Penelitian itu berlangsung selama delapan tahun. Selama itu pula saya mendampingi mereka. Memang, setahun pertama saya masih menjadi kacung, tapi saya punya motivasi, tak lama lagi saya bisa memimimpin tim seperti ini. Benar saja, enggak sampai setahun saya bisa jadi pemimpin ekspedisi.

Dari perkenalan dengan beragam peneliti, ahli pembuatan film dokumenter, ataupun ilmuwan, saya banyak mendapat ilmu. Sampai kemudian saya mendapat beasiswa S-1 hingga program S-3 di Inggris.

Mengapa memilih kembali ke bangku kuliah?

Mengapa tidak? Ini kesempatan emas untuk mendukung karier saya. Lagipula semua saya dapatkan dengan gratis. Selain itu, menurut saya, untuk menjadi pembuat film dokumenter profesional, sineas yang baik harus mempunyai ilmu pendukung agar bisa menghasilkan karya maksimal. Saya ambil Jurusan Ilmu Kelautan.

Juga membuat rumah produksi?

Selepas menamatkan beasiswa di Inggris dan pulang ke Indonesia, saya mendirikan Production House (PH) bernama Indonesia Explorer. Bersama PH itu saya mengumpulkan beragam stock shot  yang kemudian dijual ke agen saya di Bristol, Inggris. Kalau gambarnya masuk kategori best shoot , harga film yang biasanya 500 dolar AS per menit bisa naik hingga 20 kali lipat.

Edwin Yusman F / bersambung

Views : 3068

blog comments powered by Disqus