Membership
Lupa password?
Profil

Burhanuddin Muhtadi Seni Mengkritik Politik (2)
Sabtu, 07 April 2012
Burhanudin di ASAA

Berpose sejenak sebelum melakukan presentasi di acara 17th Biennial Conference of Asian Studies Association of Australia (ASAA) di Melbourne. (Foto: Dok Pri)

Apa yang didapat ketika bergabung dengan Formaci?

Di sana saya mendalami teori ilmu sosial, politik, dan filsafat. Cara pandang kami tidak lagi normatif seperti yang kami pelajari di IAIN tapi lebih empiris. Pendekatan empiris inilah yang mengantarkan aktivis Formaci untuk mendalami bidang studi sosial politik ketika mendapat beasiswa ke luar negeri. Misalnya, Syaiful Mujani mendapat beasiswa dan mengambil gelar doktor di Ohio State University. Termasuk kemudian saya mendapat beasiwa dari ANU (Australian National University) untuk mengambil gelar master.

Aktif di kelompok studi, tidak mengganggu kuliah?

Justru saling melengkapi. Nilai kuliah saya tetap bagus. IPK saya 3,73 dan terbaik se-Fakultas Ushuluddin. Saya pun mendapat penghargaan sebagai sarjana terbaik se-universitas. Saya ditawari jadi staf pengajar. Setelah pulang dari ANU, saya mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Meski bertahun-tahun jadi staf pengajar, baru kemarin diangkat jadi CPNS, belum seratus persen PNS.

Sepulang dari Australia, langsung bergabung dengan LSI?

Ceritanya sejak awal berdirinya LSI (yang didirikan Syaiful Mujani), saya sudah terlibat. Namun ketika pulang ke Jakarta tahun 2009, saya sempat jadi konsultan politik. Selama empat bulan di sana, saya merasa enggak punya “potongan”. Makanya saya balik kandang ke LSI.Kebetulan saat itu bersamaan dengan semakin banyak survei, baik di tingkat nasional maupun daerah pemilihan yang diselenggarakan oleh LSI. Saat itulah saya yang menjabat sebagai Direktur Komunikasi Publik dan mulai tampil ke masyarakat.

Untuk urusan ke luar, saya yang diminta untuk tampil. Nah, ketika menyampaikan hasil survei itu, banyak media yang bersedia datang. Termasuk media cetak dan teve. Begitu seterusnya, sampai saya sering diundang dalam acara talkshow di teve dan menjadi pembicara dalam berbagai acara diskusi politik.

Apa yang perlu disiapkan ketika menjadi narasumber?

Di awal-awal tampil saya menyiapkan bahan dan materi yang akan dibicarakan. Namun lama-kelamaan semua mengalir dengan sendirinya. Yang penting, sebagai akademisi saya menyampaikan pendapat berdasarkan pada fakta dan tidak bertendensi memihak salah satu kubu politik. Tentu saja saya harus selalu mengikuti berita politik yang berkembang secara luar biasa di Tanah Air. Bahkan, perkembangannya detik per detik.

Di luar kesibukan tampaknya masih rajin menulis, ya?

Ketika saya mulai tinggal di Jakarta, saya merasa biaya hidup mahal sekali. Saya berpikir keras supaya tidak terlalu merepotkan orangtua. Cara yang paling mudah untuk mendapatkan tambahan penghasilan dan tidak membebani saya sebagai mahasiswa, ya, dengan cara menulis. Artikel pertama saya langsung dimuat. Lalu, semester kedua saya berhasil menembus Harian Kompas. Setelah itu terus mengalir sampai sekarang. Kalau dihitung-hitung, tulisan saya yang sudah dimuat di berbagai media sudah lebih dari 400-an.

Tulisan saya yang berdasarkan hasil penelitian dan tulisan bersama penulis lain juga sudah terbit dalam buku. Tahun ini buku saya berjudul Dilema PKS: Suara dan Syariah diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia. (Tulisan Burhan juga kerap muncul di jurnal ilmiah berbahasa Inggris seperti Asian Journal of Social Science, Graduate Journal of Asia-Pacific Studies, dan The Asian Journal of Social Policy ).

Burhanuddin dan kel

Meski kesibukannya sebagai pengamat sangat padat, Burhan tetap mencurahkan perhatian untuk keluarganya. (Foto: Dok Pri)

Apakah istri juga menyenangi dunia politik?

Istri saya, Rahmawati, juga mantan aktivis mahasiwa. Dia aktif di KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) IAIN. Dia juga masih aktif di sebuah kelompok pengajian, tapi tidak aktif di struktur partainya. Cara pandang kami tentang politik relatif berbeda. Saya menikah sebelum lulus kuliah. Kebetulan, istri enggak mau diajak pacaran, tapi langsung menikah saja. Ha ha ha...

Anak sulung saya, Rayhan Adnan Musthafa, sekarang kelas 4 SD. Dia lebih tertarik dengan bidang eksak. Soal matematika atau fisika, dia jago sekali. Soal politik, dia tampak nya kurang tertarik. Namun anak kedua kami, Avicenna Ananda Musthafa (5) yang lahir di Canberra ketika saya sekolah, selalu mengikuti dialog saya di teve. Dia suka tanya-tanya, misalnya tentang Pak SBY dan Pemilu 2014. Si bungsu Alexa Shakira Musthafa, belum genap tiga tahun.

Nah, di sela-sela kesibukan, saya suka jalan-jalan bersama keluarga. Memang, sih, kadang saya juga ada acara di hari Sabtu. Begitu ada waktu, saya ajak anak-anak berenang atau jalan-jalan ke Bandung dan Puncak.

Henry Ismono

Views : 1449

blog comments powered by Disqus