Senin, 30 Januari 2012

Bagus Adimas Prasetio, Umpatan Yang Membentuk Kepribadian

Foto: Gandhi Wasono M/Nova

Bagi pencinta musik jazz Surabaya, nama  Bagus Adimas Prasetio  (24) sudah amat dikenal. Ia salah satu pianis jazz yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Yang membuatnya makin istimewa, Bagus adalah seorang yang terlahir dalam keadaan tunanetra.

Ketika ditemui NOVA di rumahnya, kawasan Dukuh Kupang Surabaya, pria muda bertubuh subur itu dengan ramah menyambut. Ia lalu mulai bercerita masa-masa ketika ia melewati sekolah hingga soal alasannya memilih jazz sebagai jenis musik yang ia tekuni kini. “Cita-cita saya sederhana saja. Selain tetap bisa main musik, saya tidak ingin menyusahkan orang lain,” tuturnya.

Bungsu dari dua bersaudara pasangan Bambang Herianto dan Sri Rejeki itu pun tanpa sungkan menceritakan kondisinya yang terlahir dengan kedua mata tak bisa melihat. Karena itu, setelah memasuki usia sekolah keluaraganya memasukkannya ke Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya, dari SD hingga SMP.  

Di masa sekolah lah ia mengaku mulai kenal pengetahuan tentang musik. Ia diajari memegang kibor oleh guru musiknya, yang sama-sama penyandang tunanetra. “Jujur saja, saat itu saya masih belum punya cita-cita jadi pemusik. Masih semata-mata mengikuti anjuran guru. Apalagi saat itu teman-teman bisa main musik. Kalau saya tidak bisa, kan, malu,” kenang Bagus yang di masa itu orangtuanya mendatangkan guru les musik ke rumah.

Hampir di semua acara musik jazz yang digelar di Surabaya, Bagus tampil memukau dengan pianonya. (Foto: Gandhi Wasono M)

Berguru Kepada Maestro

Ketertarikannya pada piano pun datangnya tanpa sengaja. Suatu ketika, ia mendengarkan lagu Fur Elise yang biasa ia mainkan dengan kibor. Tapi kali ini ia menggunakan piano. “Saat itu, saya merasa musiknya jadi terdengar lebih indah,” ujar Bagus. Sejak itu, ia mulai berkeinginan mempelajari piano klasik di sekolah musik Melodia. Mengingat ia tak bisa membaca not balok, dibutuhkan kesabaran ekstra bagi guru pengajarnya. Salah satu yang bersedia menjadi pengajarnya adalah Ibu Hariani.

Setelah tiga tahun kursus di Melodia, Bagus mulai mendalami piano jazz. Ketertarikannya pada jazz pun muncul secara kebetulan. Setiap hari, ketika ia bepergian dengan ayahnya, di mobil seringkali didengarkan musik-musik jazz. “Saya awalnya belajar piano klasik, tapi setelah rajin dengar musik jazz rasanya, kok, enak di kuping,” cerita Bagus.

Pada 2001 ketika masih SMP, oleh sang ayahnya, Bagus langsung diperkenalkan kepada maestro jazz asal Surabaya, Bubi Chen. BAgus pun berguru kepada Bubi. Selama belajar itu, menurutnya merupakan masa-masa yang sangat mengesankan. Mentalnya benar-benar ditempa luar biasa.  “Belajar dengan Om Bubi tak sekadar bisa bayar saja, tapi dibutuhkan mental superkuat. Kalau tidak, pasti tidak akan bisa bertahan,” papar Bagus yang setamat SMP melanjutkan ke SMA umum Giki-I Surabaya.

Bubi Chen, menurut Bagus, sangat keras mendidik semua anak didiknya, tak terkecuali dirinya. Umpatan-umpatan khas arek Suroboyo sudah biasa ia dengar saat bermain salah. Ia pun menceritakan satu pengalaman soal “kesadisan” sang dedengkot jazz itu memperlakukan dirinya. Ketika ia salah memainkan sebuah komposisi musik, Bubi langsung membentak, “Gus, kamu ini sudah buta, mainnya enggak becus lagi. Kalau begini caranya, mana ada orang mau sama kamu!”

Jujur, di dalam hati kecilnya ia amat tersinggung mendengar umpatan itu. Teteapi ia cepat tersadar, mungkin inilah cara sang guru mendidik dirinya. “Saya yakin, di balik kekesarannya, Om Bubi pasti punya niat baik,” ujar Bagus seraya berkata, Bubi bukanlah guru musik yang suka memuji. “Saya dapat sedikit pujian setelah 4 tahun belajar dengannya,” imbuh Bagus yang total belajar bersama Bubi selama 9 tahun.

Meski sebagai bungsu, Bagus tetap dididk menjadi anak mandiri oleh orangtuanya. “Saya punya tugas menyikat kamar mandi,” katanya. (Foto: Dok Pri)

Mandiri & Mau Prihatin

Selama ia berguru kepad Bubi, Bagus pun membentuk grup musik dan mengikuti berbagai lomba atau pertunjukan. Antara lain bergabung dengan CTwoisx Jazz Community dan mengikuti acara jazz road to campus , bergabung dengan Grup Base-20, Virtuoso, dan Soulvegio Jazz Band. Dan hingga saat ini, secara rutin Bgus pun kerap mengisi acara di hotel-hotel berbintang, serta memberi les privat piano.

Setamat SMA, Bagus melanjutkan kuliah dan diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jurusan Sendratasik (seni, drama, tari, dan musik). Bahkan ia pun lulus sarjana dengan nilai sangat memuaskan. Saat ini, Bagus mengaku tengah mengikuti pendidikan pascasarjana di Unesa di jurusan yang sama.

Bagus punya alasan tersendiri mengapa begitu getol menuntut ilmu. Baginya, pendidikan segala-galanya. Dan baginya pula, batasan penglihatan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi-mimpinya. “Sekarang ini orang normal saja bisa digilas zaman jika tidak berprestasi atau tak punya ilmu yang cukup. Apalagi orang seperti saya yang punya kekurangan. Itu salah satu motivasi mengapa saya tak mau berhenti belajar.”

Terlepas dari semua itu, kedua orangtuanya lah yang menurut BAgus sangat berjasa buat dirinya, Orangtuannya mendidiknya menjadi mandiri, dengan tidak memberikan keistimewaan terhadapnya. “Meski Bagus tak bisa melihat, tapi dia anak lelaki yang tetap punya tanggung jawab di rumah. Misalnya, punay tugas menyikat kamar mandi,” kata Bambang Herianto, yang ikut mendampingi Bagus diwawancara.

Meski sang ayah memiliki mobil yang memungkinkan mengantar ABgus pergi-pulang kuliah, namun Bagus kerap naik ojek langganan. “Dia juga harus merasakan hidup prihatin, tak boleh enak-enakan saja,” tambah Bambang. Selain orangtua, Bubi Chen tentu saja memiliki ajsa tak sedikit dalam pembentukan pribadi BAgus. Atas tempaan Bubi lah ia menjadi sosok yang tangguh. “Umpatan-umpatan kasar Om Bubi membuat saya terpacu untuk jadi lebih baik,” papar bagus.

Bagus pun memiliki pengalaman mengharukan tentang sang guru. Ketika beberapa waktu lalu Bubi akan diamputasi kaki keduannya di Semarang, Bagus menjenguknya. “Om Bubi memegang tangan saya erat sekali, sambil menangis. Saya tak menyangka Om Bubi yang begitu keras hatinya, bisa menangis,” kenangnya.

Gandhi Wasono M

Dilihat : 657 orang
  • Rating :
  • 3/5 (16 votes)
blog comments powered by Disqus