Membership
Lupa password?
Profil

Ade F. Meyliala: Sentuhan Wanita untuk TMII (1)
Rabu, 02 Juni 2010
tmii 1.ok

Untuk yang pertama kalinya sejak didirikan tahun 1975, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mengukuhkan seorang wanita untuk berada di posisi Direktur Operasional. Di tangan Ade F. Meyliala, TMII mulai berbenah. Terbukti, sentuhan khas wanita mampu membangkitkan citra TMII kini.

Sebelum aktif di TMII, sebenarnya apa latar belakang Anda?
Percaya atau tidak, latar belakang saya adalah bisnis. Oleh karena lama berada dalam lingkaran bisnis, singkat cerita, saya bertemu dengan orang-orang yang lantas mempercayakaan saya untuk menjabat sebagai Direktur Operasional TMII sejak 2008 lalu. Saya sendiri adalah wanita pertama yang menjabat di posisi itu sejak 33 tahun TMII didirikan.

Bagaimana rasanya dikelilingi para pejabat pria yang jauh lebih senior dari Anda?
Ya, dinikmati saja. Ha ha ha. Tidak pernah ada yang menyepelekan saya hanya karena saya perempuan, kok. Justru karena saya perempuan, saya bisa memberi sentuhan yang berbeda di TMII sekarang. Lebih feminin dan lebih “perempuan” lah.

Seperti apa sentuhan perempuan yang Anda maksud?
Perempuan itu, kan, identik dengan kebersihan. Sejak pertama kali masuk di lingkungan TMII, itulah yang saya canangkan. Semua harus bersih dan teratur. Maka saya mulai dari kebersihan lokasi. Dari pengelolaan sampah yang lebih baik, sampai kebersihan toilet, semua saya perhatikan. Pedagang-pedagang liar, yang dulu banyak mangkal di kawasan TMII pun mulai ditertibkan. Pokoknya semua harus bersih dan rapi.

Anda, kan, masih tergolong muda, tapi sudah harus memimpin sebuah institusi yang usianya tak lagi muda. Apakah Anda menemui kesulitan dalam beradaptasi?
Meskipun saya muda, tapi saya tetap menghargai yang tua. Baik institusi maupun perorangan. Terkadang, mungkin darah muda membuat saya ingin mengerjakan segala bentuk perubahan dengan cepat, tapi saya tahu semua tidak bisa dipaksakan. Untuk mengubah paradigma memang tidak gampang. Karyawan di sini, sebelum saya hadir, sudah bekerja dengan loyalitas yang tinggi dan sangat terpakem.

Maka, ketika saya masuk, saya agak sedikit mengubah pakem itu. Sebenarnya, saya dan mereka sama-sama terkena culture shock. Mereka kaget dengan gaya khas enterpreneur yang saya punya, yang mengandalkan spontanitas. Sementara saya kaget dengan sistem mereka yang sangat teratur, disiplin dan penuh aturan birokrasi dan protokoler.

Lantas, bagaimana Anda mengatasi “culture shock” itu?

tmii 2.ok

Memperkenalkan dan memajukan TMII adalah tujuan saya.

Jangankan cultural, dari cara jalan saja sudah beda. Ha ha ha. Saya jalannya cepat, sementara yag lain sebaliknya. Tapi kami sama-sama belajar dan pada akhirnya bisa saling mengisi kekurangan masing-masing. Perbedaan itu, kan, memang hal yang manusiawi.

Di antara lokasi wisata populer di Indonesia, popularitas TMII sempat meredup. Sebenarnya, apa kendala terbesar Anda dalam mengelola TMII?
Soal perawatan dan maintenance adalah yang terberat. Hal itu pasti berkaitan dengan budget . Sementara TMII, meski institusi pemerintah, tidak menerima dana dari pemerintah. TMII bersifat nirlaba, dan bukan profit centre. Jadi permasalahan sering timbul jika sudah berkaitan dengan tersendatnya biaya untuk pengembangan program.

Tapi alhamdulilah, 5 tahun terakhir pendapatan kami sudah cukup baik. Kalau dulu selalu minus, sekarang sudah mulai plus. Ditambah lagi kerjasama yang semakin gencar kami lakukan dengan pihak ketiga, TMII sudah mulai berbenah

Di bidang bisnis, Anda pasti terbiasa berpenghasilan besar. Apakah hal itu berubah sejak Anda pindah ke TMII?
Idealisme tidak bisa dicampuradukkan dengan pendapatan. Ini adalah karya idealisme saya. Jadi,saya menikmati saja apa yang saya dapat. Ha ha ha.

Bicara soal TMII, apa saja, sih, yang menjadi daya tarik terbaru TMII saat ini?
Walaupun sudah berpuluh-puluh tahun berdiri, banyak orang yang belum menyadari betapa kayanya TMII. Tidak seperti lokasi wisata lain, kami mengumpulkan sejarah Indonesia. Di Museum Indonesia, misalnya, pengunjung enggak perlu repot berkeliling Indonesia karena semua sudah tersedia di sana.

Kami juga punya Akuarium Air Tawar yang punya koleksi terlengkap kedua di dunia. Ada juga Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang sangat lengkap. Yang terbaru, tentu saja Snow Bay, wahana air yang sekarang jadi favorit pengunjung. Logo kami pun sudah berubah. Lebih muda dan ngepop. Semua adalah usaha kami untuk mengarah ke konsep theme park .
(Bersambung )

Yetta Angelina
Foto-Foto: Dok. Pribadi

Views : 1476

blog comments powered by Disqus