Membership
Lupa password?
Peristiwa

Tips Jadi Pengusaha Pemula Jangan Lupa, Siapkan Mental! (1)
Kamis, 31 Januari 2013
sahmullah rivqi

Foto: Noverita / NOVA

Modal bukanlah syarat utama bagi pebisnis pemula. Yang terpenting, membangun hal positif bahwa bisnis itu mudah dan sederhana. Sehingga ada energi positif yang mengalir dan membuat bisnis berjalan lancar.

Ayah enam anak ini memiliki tiga bisnis yaitu sekolah pendidikan, lembaga pendamping bisnis dan investasi Pillar, serta ditsribusi herbal produk impor dari Amerika. “Bisnis ini memiliki nuansa edukasi yang kental. Sesuai passion saya di dunia edukasi dan sharing . Seharusnya memang begitu, mencari bisnis yang uangnya besar, tapi passion  juga tersalurkan,” jelas Rivqi.

Yang paling penting dalam berbisnis, selain menyiapkan mental diri, juga mental orang terdekat seperti suami, istri, dan anak-anak. “Karyawan yang biasa kerja dengan gaji cukup tinggi, begitu mengundurkan diri dan memilih bisnis, gaya hidupnya pasti turun. Diri sendiri pasti siap, tapi bagaimana dengan istri atau suami?” ujar Rivqi yang menyarankan belajarlah bisnis sejak dini.

Dan, berikut tips berbisnis ala Sahmullah Rivqi , Retail Business Director Pillar Business Accelerator untuk pembaca NOVA:

A. Memilih Bisnis

1. Hal pertama yang harus dibangun di kepala: bisnis itu simpel. Jika pikiran di kepala sudah simpel, jalannya akan simpel. Jangan berpikir sebaliknya, bisnis itu rumit maka yang terjadi akan rumit. Atau bisnis itu penuh risiko, maka yang terjadi risiko.

2. Ingin memulai bisnis apa? Dapat dilihat dari beberapa hal:
a. Lihat apa yang dibutuhkan pasar saat ini. Orang butuh baju, tapi sudah banyak yang jual baju. Bagaimana agar berbeda? Cari peluangnya!
b. Lihat dari sisi pribadi. Punya ketrampilan, pengalaman, atau hobi apa yang bisa dijual? Misalnya, berpengalaman kerja di perusahaan kurir, cobalah bisnis kurir. Punya keterampilan mendesain, bukalah bisnis desain grafis. Punya hobi makan tapi tak hobi masak, bukalah rumah makan.
c. Cari peluang bisnis di luar diri sendiri. Lalu hubungkan dengan pasar, membutuhkan atau tidak. Jika pasar membutuhkan tapi tak punya keterampilannya, cari cara lain. Misalnya, sewa rumah untuk membuka rumah makan. Ajak kerabat yang jago masak untuk membantu memasak, Anda yang menyiapkan tempat.

3. Memilih bisnis sekaligus passion .
a. Cara paling simpel untuk tahu passion  adalah dengan tahu apa yang paling disukai hingga lupa diri.
b. Bisnis berdasarkan aktivitas yang tak perlu membayar. Misalnya sharing .

4. Hindari terlalu lama berpikir.  Lakukan ATM (Amati Tiru Modifikasi). Jika ingin ikut berjualan baju, agar berbeda beri kelebihan, misalnya memberikan diskon atau bonus lain.

B. Persiapan

1. Siapkan Mental Baja.

Bisnis sangat fluktuatif. Jika mental tidak siap, lebih baik tak usah berbisnis. Jika tak kuat kehilangan modal sebesar Rp 10 juta, cobalah berbisnis dengan modal lebih kecil. Banyak berdoa dan seringlah berkumpul dengan orang yang memiliki mental optimis. Energi positif akan lebih mudah mengalir mempengaruhi diri.

2. Tenaga atau Karyawan.
a. Siapkan keahlian untuk bisa menjual barang baik langsung maupun lewat online . Komunikasi harus lancar dan buatlah brosur agar bisa menggugah calon pembeli.b. Tentukan segmen pasar. Mulai dari kalangan anak-anak, dewasa, atau remaja. Hal ini berpengaruh pada strategi promosi dan komunikasi.
c. Sediakan bahan baku atau perlengkapan yang dibutuhkan. Jika memutuskan untuk memiliki toko, artinya membutuhkan peralatan, pegawai, dan tempat. Sementara yang yang ingin berbisnis online siapkan website dan saluran telepon atau internet.

Selamat memulai bisnis!

C. Modal

Modal menjadi hal terakhir yang dibutuhkan. Jangan sampai memulai bisnis dipusingkan oleh soal modal. Setelah semua siap ternyata butuh modal Rp 50 juta sementara uang di kantong hanya Rp 2 juta. Bagaimana caranya?

a. Berdoa dan lakukan silaturahmi ke teman-teman. Ceritakan kepada mereka, Anda ingin berbisnis dan butuh modal. Dari sekian banyak orang, pasti ada yang akan tertarik, siapa tahu mau meminjamkan modal.  Bagi pemula, disarankan jangan berutang dulu, khawatir tak sanggup menanggung beban utang. Lain halnya jika Anda bisa bekerja maksimal setelah mendapat tekanan, silakan berutang. Cirinya simpel, jika ada bos di dekat Anda dan bisa berkonsentrasi, berarti Anda siap. Jika sebaliknya berarti tidak siap.

b. Lihat barang-barang di rumah, apakah ada barang yang tidak bermanfaat bisa dijual agar nisa dapat modal. Jika punya mobil bagus, tukar dengan yang sederhana, sisanya bias untuk modal

c. Menjual keahlian. Misalnya, tawarkan ke pengusaha sukses menulis kisah suksesnya. Honornya, minta bayar di muka buat modal bisnis. Banyak profesional punya keahlian tapi begitu berbisnis mengaku tak punya modal.

d. Mencari partner kerja. Apakah Anda tipikal yang senang bisnis sendirian atau bersama-sama? Jika senang sendiri, cari partner yang hanya memberikan modal uang saja. Soal manajemen ditangani sendiri. Atau cari investor, untungnya dibagi, ruginya pun bagi.

e. Boleh berutang. Jika tak dapat juga dapat modal, barulah berutang,. Misalnya, pinjam ke bank jika punya jaminan. Pinjam ke koperasi di tempat kerja atau ke individu, misalnya orangtua, kakak, dan kerabat. Biasanya jika pinjam ke keluarga, andai belum bisa membayar cicilan utang, tak akan terlalu membuat stres dibandingkan pinjam ke pihak lain.

Noverita K Waldan / bersambung

Views : 1501

blog comments powered by Disqus