Membership
Lupa password?
Peristiwa

Resto Kemiri, Serasa Pulang Kampung
Kamis, 25 Februari 2010
Resto kemiri

Foto: Agus Dwianto/Nova

Siapa yang tak kenal kemiri? Salah satu nama bumbu dapur khas Indonesia yang rasanya gurih itu, sejak 17 Desember 2009 lalu dijadikan nama pusat jajan oleh PT. Prima Cipta Lestari. Lahannya menempati lantai 3 Pejaten Village, Jakarta Selatan. Pusat jajan ini memiliki dua pintu. Pintu utama sebagai jalan pengunjung masuk, ditandai dengan tatanan jajanan anak-anak.

Jangan membayangkan meja kasir seperti di resto pada umumnya. Pengunjung yang baru pertama kali datang ke pusat jajan ini akan dibuat sedikit tersenyum atau terkecoh. Sebab, “meja” kasir dibuat semacam gerobak bakso. Nah, dari area kasir itulah pengunjung akan keluar dari Kemiri.

Kemiri Restoran

Foto: Agus Dwianto/Nova

Di Kemiri, terdapat 20 counter bernuansa tradisional yang menjual snack , minuman dan makanan berat. Ada beberapa counter yang menjual lebih dari dua jenis makanan. “Counter nya memang ada 20. Tapi, jenis makanan yang kami sajikan ada sekitar 50 hingga 60 jenis. Tiap dua minggu sekali menunya berganti. Kecuali makanan yang sangat digemari pelanggan,” terang Direktur Pengelola Kemiri, Alvert Buntaran .

Masuk ke Kemiri memang serasa pulang kampung. Oleh karena itu, warga Ibukota yang rindu kampung halaman, bisa mengobati rindunya di Kemiri. Bayangkan saja, segala yang bernuansa kampung, dihadirkan sebagai hiasan interior di sana.

Contohnya, keranjang pisang, sangkar burung, untaian padi di atas genting, atau sepeda ontel tua. Sajian yang dihidangkan pun asli Indonesia. Mulai dari bakmi Jawa, karedok, nasi liwet, gudeg, kambing guling, atau segelas bir pletok. Kesegaran daun pisang atau anyaman bambu khas Indonesia hadir sebagai alas makan.

“Kami sengaja menciptakan konsep tempat jajan yang suasananya seperti pulang kampung. Kami menyajikan semua masakan, minuman, dan jajanan seperti rasa aslinya di daerah makanan itu berasal. Sebelum membuka Kemiri, saya sudah datang ke berbagai daerah. Lalu, kami rekrut para penjual makanan itu untuk dibawa ke Jakarta.”

Mereka, lanjut Alvert, dilatih mulai dari soal pengetahuan cara memasak di dapur modern, kebersihan dan managerial -nya. Hasilnya, rasa olahan makanan tetap sama. Tapi higienitasnya lebih terjamin.

Konsep tempat makan di Jakarta masa kini pada umumnya dari luar negeri. Sedangkan citra makanan lokal, setiap kali hendak menyantap yang enak, harus di pinggir jalan atau pojokan.“Tidak ada tempat yang representatif. Itu sebabnya saya buat konsep tempat jajan seperti kampung halaman di kawasan Jakarta Selatan. Kebetulan, di kawasan ini juga banyak bermukim ekspatriat. Mereka sering bersantap di sini karena suka melihat cara chef kami mengolah makanan. Selama ini, bila mereka hendak makan masakan Indonesia, cuma kenal nama tapi tidak tahu itu makanan apa. Di sini, mereka memilih bahannya langsung, bahkan melihat cara pengolahannya.”

Terhitung sejak Kemiri buka, menu Kambing Guling jadi menu favorit. Rahasianya? “Kami bikin dagingnya empuk tanpa obat maupun dedaunan. Daging kambing terus diputar. Dengan cara itu, lemak yang ada di dalamnya akan panas sehingga mengempukkan daging. Mungkin karena costumer senang bisa langsung menyaksikan cara pengolahan kambing guling, tiga kambing muda bisa langsung habis, lho,” terang Indra , Eksekutif Chef Kemiri.

Rini Sulistyati

Views : 2508

blog comments powered by Disqus