Membership
Lupa password?
Peristiwa

Pramugari Dilarang Terbang Karena Berambut Keriting
Jumat, 06 Juli 2012
Keriting

Ilustrasi

Perlakuan diskriminasi terhadap awak kabin terus disuarakan. Setelah diadukan soal rumus BMI yang diadaptasi untuk penampilan pramugari dan pramugara, Garuda Airlines kembali dikecam oleh Ikatan Awak Kabin Garuda terkait isu bagian tubuh.

“Ada diskriminasi bentuk lahiriah yang akhirnya membuat rekan kami harus di grounded selama beberapa minggu tak boleh terbang dan dipotong tunjangannya,” papar Dewi Anggraini, pengurus IKAGI.

Adalah Jacqueline Tuwanakota yang berasal dari Indonesia Timur terlahir dengan rambut keriting. Biasanya saat bertugas, Jacky kerap menyanggul cepol  rambutnya dengan rapi. Sayangnya, kebijakan seragam GA terbaru mengharuskan pramugari memiliki tatanan rambut twist.

“Cara baru ini tidak bisa diikuti oleh rekan kami karena kendala rambutnya yang sulit di tata model twist,” ungkap Dewi kepada tabloidnova.com.

Bukan hanya Jacky sebenarnya yang mengeluhkan model seragam dan rambut kali ini. Beberapa pramugari juga tidak sepakat model rambut juga ikut-ikutan diseragamkan. Pasalnya, penggunaan banyak jepit untuk model rambut twist kerap menimbulkan pusing dan sakit kepala.

Pada akhirnya, ini menimbulkan ketidak nyamanan saat bertugas. “Seharusnya, yang penting pekerja bisa bekerja sekaligus merasa nyaman melakukan pekerjaannya. Atau paling tidak, (GA)meminimalisir aturan yang membuat karyawan tidak nyaman,” harap Dewi menyuarakan keinginan pramugari maskapai nasional.

Malangnya, bukan jalan keluar yang diberikan perusahaan. Jacky justru di grounded  selama 2 minggu. Pasca kesulitan melakukan gulungan pada rambut, Jacky berusaha memotong pendek rambutnya agar tak perlu di twist. Perusahaan memang menganjurkan pramugari mengenakan model rambut pendek jika keberatan untuk menggulung rambut.

Tetapi tindakan tersebut justru membuat keriting rambut Jacky semakin kentara. Ujung-ujungnya, perusahaan menjatuhkan sanksi pada Jacky dengan alasan “rambutnya terlalu keriting”. Dia pun tidak diizinkan terbang hingga menyelesaikan masalah rambut.

“Kalau perusahaan menuntut rambut rekan kami itu harus diluruskan, itu seperti menuntut semua orang mengecat rambut. Padahal tidak semua orang bisa mengecat rambut sesuai tuntutan perusahaan,” pungkas Dewi menyayangkan sikap diskriminasi yang masih dimiliki perusahaan sekaliber maskapai nasional tempatnya bekerja.

Laili

Views : 5255

blog comments powered by Disqus