Membership
Lupa password?
Peristiwa

Melongok Seni Budaya Jakipa 2013
Senin, 30 September 2013
atraksi jakipa 2013

Foto: Henry

”Di kala ku merindukan keluhuran dahulu kala/ Kutembangkan nyanyian lagu Gending Sriwijaya/ Dalam seni kunikmati lagi zaman bahagia/ Kuciptakan kembali dari kandungan Sang Maha Kala/ Sriwijaya dengan Asrama Agung Sang Maha Guru…” Lagu Gending Sriwijaya mengalun merdu, mengiringi para penari cantik dengan gerak ritmis gemulai.

Jam 16.00 lebih, Tari Gending Sriwijaya dari Palembang itu membuka pergelaran Jakarta International Performing Arts 2013. Di panggung berlatar tugu Monas, keindahan tari itu makin menunjukkan kemegahannya. Tarian ini biasa digelar untuk menyambut tamu yang berkunjung ke Palembang dan wilayah Sumatera Selatan. Tarian ini berasal dari masa kejayaan kerajaan Sriwijaya di Palembang yang mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira, dan bahagia.  Kini, tarian nan megah itu bisa disaksikan masyarakat Jakarta yang selama dua hari 28-29/9 mengunjungi Jakipa 2013 di Plaza Selatan, Monas, Jakarta Pusat.

   Hanya beberapa saat jeda, para penari dari Lampung tampil ke panggung membawakan tari Melinting. Tarian yang dibawakan penari putra dan putri ini adalah salah satu tari adat tradisional masyarakat Lampung Timur. Menurut riwayatnya, nama tarian ini diambil dari kreatornya yaitu Ratu Malinting atau Pangeran Panembahan Mas yang memerintah sekitar abad ke-16 Masehi. Awalnya, tarian yang banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur Islam ini tergolong sakral dan hanya boleh dipentaskan di lingkungan istana.

Dalam perkembangannya,  Tari Melinting telah mengalami banyak perubahan. Salah satunya menjadi tari hiburan atau tari persembahan untuk menjemput tamu agung yang berkunjung ke Lampung. Selain itu,  Tari Melinting juga kerap dipentaskan dalam berbagai acara-acara besar seperti upacara perkawinan, acara kesenian Lampung, festival tari. Penampilan mereka di ajang Jakipa 2013 juga mendapat sambutan meriah ribuan penonton.

Acara makin heboh dengan aksi goyang Caesar yang belakangan ini menggoyang khasanah tari kontemporer di Tanah Air. Tarian nan energik ini mengajak para penonton untuk berdiri. Tak hanya menonton, serentak mereka ikut bergoyang. Suasana makin heboh ketika para penononton, termasuk anak-anak tampil ke panggung. Goyang nan heboh dengan senggakan khas “asyik-asyik jos” itu benar-benar menghentakkan Monas. Usai bergoyang, acara berlanjut dengan penampilan reog Ponorogo Surondaru.

Sejenak rehat salat Magrib, panggung kembali diisi beragam atraksi menarik. Kelompok teater tari Sahita dengan empat personelnya menghangatkan acara. Mereka tampil membawakan tari bertema Roro Jonggrang. Dialog dan tari mereka yang kocak membuat penonton tergelak. Para penari yang terdiri dari  Wahyu Widayati (Inonk), Sri Setyoasih (Tingtong), Sri Lestari (Cempluk), dan Atik Kenconosari (Atik) benar-benar tampil prima.

Tak ketinggalan penampilan dari duta Belarusia, Jerman, dan Vietnam membuat penonton terkesima. Aksi akrobatik dari Belarusia berkali-kali mengundang tepuk tangan riuh para penonton.  Acara ditutup penampilan wayang kampung sebelah dari Sidoarjo. Wayang kontemporer ini menyajikan kisah yang diselingi kritik sosial namun disampaikan dengan canda. Malam makin larut, gelak tawa masih terdengar karena aksi sang dalang Jlitheng Suparman.

Selama dua hari, masyarakat Jakarta pun disuguhi tontonan seni yang bermutu.

Henry

Views : 445

blog comments powered by Disqus