Membership
Lupa password?
Peristiwa

Melestarikan Budaya Jawa Edukasi Unik Lewat Televisi (2)
Kamis, 24 November 2011
Endah Sarawati dan Dimas Tejo Blangkon

Foto: Siswanto

KLINONG-KLINONG CAMPURSARI Rating Selalu di Puncak

Jangan mencari arti kata klinong-klinong dalam kamus Bahasa Jawa. Anda tidak akan menemukan kata tersebut maupun jawabannya. Yang dekat dengan kata itu adalah klenengan (uyon-uyon , menabuh gamelan) atau klintong-klintong (jalan-jalan, melancong). Tetapi bila Anda rajin menyimak acara di Jogya TV, maka akan menemukan program Klinong-Klinong Campursari (KKC). Nah, yang ini adalah acara musik live yang menampilkan lagu-lagu campursari.

Acara berdurasi 1 jam ini kini dibawakan oleh Endah Saraswati Pelipurlara dan Dhimas Tejo Blangkon. “Sempat heran saat ditawari jadi host berbahasa Jawa. Padahal Bahasa Jawa krama saat ini tidak mudah bagi anak muda. Tidak semua bisa. Tapi karena saya orang Jawa, ya, enggak masalah. Pede saja. Saya jadi bangga, bisa jadi host KKC sejak 2008 sampai sekarang,” terang Endah.

Sementara Tejo mengaku membawakan acara itu sejak 2006. Apa kuncinya hingga Tejo bisa bertahan lama di KKC? “Sebelum opening saya selalu menyapa, mendatangi, dan menyalami penonton. Itu membuat mereka senang. Nah, saat opening juga saya selalu menyampaikan pepatah-pepatah Jawa yang bermakna bagi masyarakat. Mulai dari busana, tata bahasa selalu saya sesuaikan dengan slogan Jogja TV, Tradisi Tiada Henti. Mungkin itu salah satu yang ikut membuat rating acara ini bertahan selalu di puncak,” terangnya.

Bebas Ekspresi

Foto: Siswanto

Bebas Ekspresi

Bila memungkinkan, KKC disiarkan secara out door . Tetapi bila hujan atau atau ada halangan lain, disiarkan in door . Acara ini selalu menyedot perhatian masyarakat setempat dan sekitarnya untuk hadir. Mereka tak sekadar mendengarkan musik dan melihat goyangan penyanyinya, melainkan juga turun berjoged hingga acara berakhir.

Kendati menjadi pengampu (pembawa acara, Red .), baik Endah maupun Tejo bebas berekspresi. Seperti di salah satu episode, sebelum membuka acara, Endah menyapa penonton lewat nyanyian Caping Gunung . Tejo pun tak mau kalah, juga melantukan lagu Sewu Kutho diiringi musik grup campursari Lumayan Laras pimpinan Sarman.

Grup musik campursari milik Juragan Soto Lenthuk, Kotagede, itu, kata produser KKC, Henry, sudah tampil hingga 28 kali di KKC. “Itu salah satu grup campursari terbaik saat ini. Jadi tidak perlu saya seleksi lagi. Tapi kalau grupnya masih baru, sebelum tampil di KKC harus melalui seleksi.”

Lantas, sampai kapan KKC akan ditayangkan? “Tidak bisa dipastikan. Selagi masih digemari, akan tetap ditayangkan,” tegas Henry.

Cangkriman

Foto: Siswanto

CANGKRIMAN Bikin Penasaran

Program Cangkriman  kini menjadi salah satu acara favorit pemirsa di Yogyakarta dan sekitarnya. Acara ini dibagi menjadi empat segmen. Yaitu, Batangan (tanya jawab), Mbasakake (kata dari Bahasa Jawa ngoko ke krama ), Manca Warna (menebak seputar dunia pewayangan dan nembang ), serta Trengginas (menjumlahkan angka yang harus diucapkan dengan Bahasa Jawa krama ). Acara semakin menarik dengan hadirnya grup OK Prisma pimpinan Poppy dari Jogja, sebagai pengantar dan pengiring menjelang jeda iklan.

Menonton Cangkriman seringkali membuat pemirsa penasaran dan kadang merasa lebih pintar dari peserta Cangkriman  itu sendiri. Jawaban peserta yang keliru kadang bikin penonton gemas atau tergelak. Terlebih bila sang pembawa acara, Angger Sukisno, menimpalinya dengan guyonan, suasana semakin meriah. Tak jarang guyonannya mampu menutup rasa malu peserta yang tidak mampu menjawab.

Jawaban cangkriman yang keliru dan mengundang tawa, biasanya terjadi di segmen pertama. Peserta diminta nyandra (menggambarkan seseorang atau sesuatu dengan istilah Jawa).

Dalam salah satu episode, pernah seorang peserta diminta nyandra bentuk jangga (leher) seseorang. Jawaban yang semestinya diberikan adalah, “Jangganipun ngulan-ulan .” Tetapi apa yang terjadi? Peserta menjawab “Jangganipun ngandan-andan ”. Penonton di studio pun kontan tergelak. Sebab, istilah ngandan-andan  (mayang terurai), seharusnya untuk menggambarkan bentuk atau kondisi rambut seseorang.

Cang Kriman

Foto: Siswanto

Andalkan Pengetahuan

Pernah terjadi pula kelucuan pada segmen Trengginas, ketika peserta harus menjumlahkan angka lalu mengucapkannya dalam Bahasa jawa krama . Peserta seharusnya menjawab, tiga likur (istilah bahasa Jawa untuk angka 23). Tetapi entah karena kurang konsentrasi atau tidak tahu, peserta menjawab kalih dasa tiga  (terjemahan bebas dari angka dua puluh tiga atau 23). Karuan saja penonton di studio dan pemirsa di rumah tergelak dibuatnya. Mengetahui jawabannya salah, si peserta hanya bisa tersipu malu.

Sekadar ingin mengetes kemampuan Bahasa Jawa-nya Ny. Tien , istri Kapolsek Patuk, Gunungkidul yang asli Jawa Barat, memberanikan diri ikut menjadi peserta Cangkriman . “Untuk meramaikan saja,” jawabnya kala ditanya motivasinya ikut acara ini. Meski akhirnya keteteran dari peserta lain, tetapi Tien patut diacungi jempol untuk nyalinya itu. Sebab, jawabannya tak seluruhnya meleset.

Beda lagi dengan Ny. Sutiyani (41). Berangkat dari rasa gemas tiap kali menonton acara Cangkriman , Kabag Keuangan Kecamatan Patuk, Gunungkidul merangkap guru PAUD itu, nekat mendaftar jadi peserta Cangkriman. Bekal utamanya, mengandalkan pengetahuannya sebagai mantan pemain kethoprak. Hasilnya? Tidak begitu mengecewakan. Banyak pertanyaan sulit mampu ia jawab, termasuk menjawab soal dunia pewayangan.

Sekadar info, di segmen ketiga atau Manca Warna, ditampilkan Rendy, calon dalang yang kini berstatus mahasiswa UNY. Rendy mendalang secara climen alias sederhana, dengan lakon amat singkat. Lalu peserta ditanya seputar dunia pewayangan. Mulai dari nama tokoh wayang hingga jimat , tempat dari lakon yang ditampilkan Rendy.

Nah, bagi yang berminat mengikuti acara ini, sebaiknya perbaiki dulu ilmu bahasa, sastra, dan budaya Jawa Anda mulai sekarang. Lalu, silakan uji nyali di acara Cangkriman .

Rini Sulistyati

Views : 1624

blog comments powered by Disqus