Membership
Lupa password?
Peristiwa

Laris-manis Bisnis Penyewaan Perlengkapan Bayi (1)
Selasa, 12 Juli 2011
Reno Dewayani Ariyanti

Pengalaman pribadi mengantarkan Yani menekuni bisnis penyewaan mainan dan perlengkapan bayi (Foto: Sukrisna)

Usaha penyewaan perlengkapan dan mainan bayi tampaknya tak pernah mengenal kata sepi, termasuk di Jawa Timur. Selain praktis, menyewa perlengkapan bayi juga lebih murah.

Baby Bee Barang Selalu Baru

Baby Bee menjadi salah satu usaha penyewaan perlengkapan dan mainan bayi yang eksis di Surabaya saat ini. “Padahal awalnya ini hanya iseng saja. Untuk mengisi waktu luang karena anak-anak sudah mulai beranjak dewasa,” kata Reno Dewayani Ariyanti , pemilik usaha Baby Bee.

Bagi Yani, begitu wanita berjilbab ini disapa, usaha yang dirintis sejak 3 tahun lalu itu memudahkan ibu-ibu yang punya bayi. “Ini dari pengalaman pribadi. Saat ia melahirkan di Australia, Yani harus punya semacam alat yang disebut kapsul untuk tempat bayinya di mobil. “Karena di sana bayi yang naik mobil wajib pakai alat itu.”

Sebagai pelajar yang uangnya pas-pasan, Yani tak mungkin membeli. “Rupanya, di sana banyak yang menyewakan alat itu. Nah daripada beli mahal, kenapa tidak menyewa saja? Rupanya di sana penyewaan perlengkapan dan mainan bayi sudah membudaya. Padahal, itu pengalaman saya 14 tahun lalu.”

Nah, ketika dua anaknya sudah beranjak dewasa. Yani terpikir untuk merintis usaha ini. “Saya browsing di internet. Di Jakarta memang sudah banyak yang membuka usaha seperti ini, tapi di Surabaya ternyata belum ada.” Dengan bekal perlengkapan bayi yang ia punya, Yani berani menyebar brosur di sejumlah perumahan elite di Surabaya.

Yani Baby Bee

Foto: Sukrisna

Yani tak menyangka, bisnis yang dirintis dari iseng-iseng itu sambutannya luar biasa. “Setelah saya tekuni, bisnis ini gampang-gampang susah, ya. Bisnisnya memang simple , tapi yang harus diperhatikan banyak,” jelas ibu dua anak ini.

Soal mainan misalnya, ia harus update barang setiap kali ada mainan baru. “Makanya jenis mainan yang disewakan sangat beragam. Apalagi anak-anak, kan, gampang bosan.” Dan, mainan yang dibeli juga harus keluaran merek terkenal. Jika yang biasa-biasa saja, tak bakal dilirik pembeli.

Yani juga kerap menjadi konsultan untuk pelanggannya, bagaimana memilih mainan atau baby walker . “Saya sebenarnya bukan ahli, tapi dari pengalaman saja,” kata Yani. Memilih mainan anak-anak, lanjut Yani, memang ada aturan mainnya. Kadang orangtua ingin menyewa mainan tertentu, tapi sebenarnya kurang pas untuk anaknya. Nah, Yani biasanya akan memberi saran.

Bisnis penyewaan yang dirintisnya juga berdasarkan kepercayaan. Artinya, penyewa tidak perlu menyimpan deposit ke Yani, meski ia sebagai pelanggan pertama. “Cuma, untuk pelanggan pertama kami harus mengantarkan dulu barang ke rumah. Setelah itu, baru boleh ambil sendiri ke sini. Tapi jarang banget, sih, pelanggan yang datang ke sini.”

Yani lebih banyak menerima order dari telepon, SMS, Yahoo Messanger atau email. Calon pelanggan biasanya melihat dulu barang-barang yang disewa lewat website atau Facebook Babybee Surabaya. Saat ini, barang sewaan yang paling banyak adalah mainan anak-anak, ada 90 item. Ada juga boks bayi sekitar 30 item, kursi makan, babywalker, stroller , dll. Dari sekian banyak barang itu, hampir 90 persen sudah tersewa. “Bahkan banyak yang harus mengantre alias waiting list .”

Harga sewa tentu beragam. Antara Rp 30 ribu hingga Rp 250 per bulan. Yang paling lama adalah penyewaan boks bayi. “Biasanya, sih, sampai tiga bulan. Malah ada yang diperpanjang.” Sementara untuk mainan, Yani selain menyewakan bulanan juga mingguan. “Soalnya, mainan, kan, kadang anak cepat bosan. Jadi waktu sewa bisa diperpendek.”

Yanuta Triana Santi

Baby Farra adalah usaha sampingan Anna. Meski demikian, ia akan terus mengembangkannya sesuai permintaan pelanggan. Salah satunya, membuka peluang kerja sama yaitu titip sewa (Foto: Sukrisna)

Baby Farra Anak Girang, Ibu Senang

Keprihatinan Yanuta Triana Santi akan mahalnya mainan anak-anak yang edukatif membawa ibu seoarang anak ini memulai bisnis penyewaan perlengkapan dan mainan anak. Ternyata, baru setahun dirintis usaha yang dilabeli Baby Farra Rental ini sudah berkembang pesat. Dari jumlah barang yang semula hanya sekitar 10 mainan yang menjadi koleksi Farra, anaknya, kini sudah berjumlah seratus lebih.

Semula, mainan-mainan itu sengaja dipampang di blog Anna. “Nah dari respons pembaca blognya akan ketahuan, apa, sih, sebenarnya yang dibutuhkan para ibu muda ini. Dari situ akhirnya saya mulai membeli satu per satu barang yang dibutuhkan pelanggan. Usaha pun mulai berkembang.”

Koleksi barang yang disewakan Baby Farra hampir sama dengan bisnis penyewaan alat bayi lainnya. Dari mainan anak hingga boks bayi. Namun, wanita yang sehari-hari bekerja di sebuah klinik di Rungkut ini juga menyewakan breast pump . Saat ini justru alat pompa ASI ini yang banyak diminati. “Waiting list -nya sampai Desember, lho.”

Anna juga mengandalkan internet sebagai sarana promosi dan transaksi. “Ini lebih praktis, mengingat usaha ini hanya sebagai sampingan saja. Jadi transaksi bisa lewat internet dan telepon.” Setelah deal , barang akan diantar suaminya ke rumah pelanggan. “Tentu ada ongkos kirimnya.”

Baby Farra

Foto: Sukrisna

Sampai saat ini pelanggan Anna lebih banyak pasangan muda yang tinggal di perumahan. “Lebih banyak dari kalangan menengah. Tapi ada juga sih yang rumahnya masuk gang,” jelas Anna yang kini juga menyediakan layanan baby corner .

Layanan ini berupa penyewaan satu set mainan anak-anak yang dipasang saat acara pesta ulang tahun atau lainnya. “Sewanya per 6 jam sekitar Rp 450 ribu. Jika lebih, akan dikenai biaya tambahan per jamnya,” lanjut Anna yang mengaku layanan ini juga sering diminati para EO yang menggelar acara anak-anak.

Pelanggan Anna tak sebatas warga Surabaya. Banyak juga orang luar Surabaya yang berkunjung ke Surabaya. “Daripada repot bawa stroller , mereka suka menyewa ke kami.” Nah, untuk pelanggan ini, Anna punya waktu sewa fleksibel. Tak perlu perbulan, bisa sewa mingguan.

Sebaliknya, Anna bercerita, ada dua pelanggan yang membawa stroller- nya ke luar negeri. “Mungkin mereka sudah membandingkan daripada sewa di sana atau beli, harganya tentu lebih mahal.”

Anna memang masih membuka kesempatan model sewa barang-barangnya. Termasuk menerima titip sewa dari pelanggan yang punya barang atau mainan anak. “Tapi syaratnya barang minimal 90 persen. Kalau di bawah itu, saya tak bisa menerima,” kata Anna yang sudah menyiapkan aturan profit sharing untuk model titip sewa ini. “ Kami dapat berapa persen, pemilik barang dapat berapa.” Semua penawaran barang sewa beli itu dilakukan via email atau SMS.

Selama menekuni bisnis, Anna mengaku jarang menemui kendala. “Pernah, sih, ada mainan yang rusak. Akhirnya penyewa bertanggung jawab. Karena memang di klausul perjanjiannya, dia harus mengganti jika ada barang yang rusak atau hilang. Tapi, jarang terjadi.”

Sukrisna / bersambung


blog comments powered by Disqus