Membership
Lupa password?
Peristiwa

Kreasi Baru Kue Bolu (1)
Kamis, 14 Juli 2011
Bolu Suka Suka

Kue bulat yang satu ini memang sudah amat dikenal. Pada setiap hari besar atau acara istimewa, kue bolu tak pernah absen dari daftar kudapan yang disajikan. Nah, bila bosan dengan bolu yang itu-itu saja, yuk cicipi aneka bolu kreasi baru berikut ini!

Bolu Suka Suka Satu Jam Jadi

Berawal dari keisengan membuat kue bolu di garasi milik orang tuanya, Dian Nadia (35) kini telah memetik hasilnya. “Awalnya, saudara saya ada yang minta dibuatkan bolu. Saya buatkan dengan modal satu kompor dan oven. Mereka bilang, bolu buatan saya enak, dan mereka menyarankan agar saya buka toko saja. Akhirnya, saya memang buka toko sejak 2004, adanya di dalam sebuah gang,” papar Dian.

Sayang, toko kue Dian kurang terpromosikan dengan baik, apalagi di dalam gang, sehingga kuenya jadi kurang laku. Tahun 2008, Dian memindahkan tokonya ke pinggir jalan, tepatnya di Jl. Purwakarta 50 Antapani, Bandung. “Tadinya sempat jualan bolu kukus, tapi itu sudah ada pasarnya sendiri, jadi kenapa harus ikut-ikutan. Akhirnya, saya fokus jualan bolu rumahan saja, yang punya ciri khas sendiri,” tutur Dian yang memberi nama jualannya Bolu Suka Suka.

Ada cerita dibali penamaan bolu kreasi Dian ini. “Disebut Suka Suka karena pembeli bisa memesan hari itu juga, dan hanya menunggu 1 jam, kue bolunya sudah jadi. Waktu dibawa pulang, bolu masih dalam keadaan hangat.”

Setahun pertama penjualan, usaha Dian belum bisa dikatakan lancar. “Pernah, selama tiga hari bolunya enggak habis. Saya bingung, kenapa enggak ada yang beli. Tiap mau bikin bolu saya jadi berpikir, bagaimana kalau enggak laku, gaji pegawai akan bayar pakai apa? Untungnya saya punya pekerja yang loyal, mereka mau tetap membantu dan memberi motivasi. Jadi, toko ini bisa diteruskan,” terang Dian saat ditemui di tokonya di Jl. Ahmad Yani No. 614, Bandung

Suami dan keluarga besar Dian juga tiada henti memberi dukungan. “Kalau saya mundur, berarti kembali ke nol lagi. Itu yang bikin semangat saya bangkit,” ujar Dian.

Tahun 2010, Bolu Suka Suka akhirnya mulai dikenal dan laku keras, bahkan orang-orang sampai antre untuk mendapatkan bolu ini. Dalam sehari, Dian bisa menghabiskan 200 bolu. Bahkan, di akhir minggu bisa dua kali lipatnya. “Orang silih berganti datang, bolu baru keluar dari oven sudah ditunggu pembeli,” tutur Dian yang berhasil mematahkan stigma bolu sebagai makanan murah dan tidak enak.

CM Bolu Suka Suka

Awalnya, satu buah bolu dipatok harga Rp 12.500. Namun kini, Dian menaikkan harga menjadi Rp 27.500. “Tentu saja bahan dasar yang dibeli lebih bagus, makanya bolunya bisa tahan seminggu dan tetap empuk.” Pelanggan pula yang meminta Dian agar membuka cabang di Jl. Ahmad Yani.

Bolu Suka Suka buatan Dian ada 15 rasa, dan yang paling banyak dicari adalah bolu original marmer. “Bolu, kan, seperti kue rumahan yang dibuat setiap Lebaran. Tapi lebih empuk karena pakai margarin dan tepung yang bagus.” Dian mengaku tak mengambil banyak untung dari dagangannya itu. Jika ada pembeli yang punya dana terbatas, Dian bahkan bersedia membuatkan bolu sesuai dana. “Takarannya saja yang dikurangi. Kasihan, kan, pengin makan bolu, tapi dana terbatas.”

Resep yang dipakai ibu tiga anak ini pun hasil dari mencoba-coba, bukan warisan orang tua. “Saya kembangkan sendiri dan dapat masukan dari pelanggan, ada yang pakai gula merah, pandan. Agar tidak terlalu konvensional, bentuk bolu yang biasanya bulat, saya kreasikan bentuk persegi. Tinggal beda-beda topping -nya saja,” kata anak ke-8 dari 11 bersaudara ini.

Permintaan waralaba pun berdatangan, tapi Dian belum mengiyakan. “Saya masih belajar dan banyak kekurangan yang harus dibenahi. Saya ingin bolu ini jadi oleh-oleh khas Bandung, tapi enggak ngoyo . Takutnya, kalau buka di luar kota malah enggak bakal dicari lagi,” papar Dian yang menganggap kritik pembeli sebagai aset.

Bolu Kodja

Boloe Kodja Lestarikan Resep Nenek

Berbeda dengan Bolu Suka Suka yang kering, Boloe Kodja ini dibuat sengaja agak basah, mirip pudding tetapi matang dengan cara dibakar. Ada beberapa lapisan pada kue bolu ini. Padat di bawahnya, lembut dan lumer di tengahnya, namun terasa cruncy di atasnya, dengan pilihan aneka topping .

“Saat dimakan, rasa manisnya baru akan terasa belakangan. Tapi bolu ini cukup tahan lama karena prosesnya dibakar dengan kematangan yang sempurna. Aroma dan rasanya sangat enak,” jelas pasangan Deina Fransia (30) dan Ginda Sonagi (30), pemilik Boloe Kodja, saat ditemui di tokonya, Lengkong Besar 109 Bandung.

Rasa yang ditawarkan ada beberapa macam, yakni bolu original dengan toping kismis, keju, almond, klasik (gula aren), lobi-lobi, dan bolu ala Palembang berbentuk persegi yang menggunakan pandan dan susu. “Harganya mulai dari Rp 23 ribu sampai Rp 27 ribu,” jelas Deina. Lucunya, saking larisnya, saat Lebaran tahun lalu ada yang sampai berani menawar satu loyang Rp 100 ribu karena tak kebagian. “Makanya saya batasi produksinya, takut ada calo yang menjual lagi produk saya.”

Pasangan ini mengawali bisnis dari kamar yang kini diubah jadi toko, pada Mei 2009. “Bolu, kan, sudah dikenal sejak tahun 1940-an. Resepnya warisan nenek, karena ini makanan khas keluarga. Ibu selalu bikin setiap Lebaran,” cerita Deina yang memutuskan keluar kerja dan fokus membuat Boloe Kodja.

Bolu Kodja 1

Diakui Ginda, awalnya mereka sempat ragu menjual produknya. “Waktu belum punya toko, order banyak datang. Tapi, kan, bisa saja pas punya toko, malah sepi pembeli,” kenangnya. Akhirnya, dengan modal pinjaman Rp 200 ribu dari orang tua, mereka memulai usaha secara perlahan. Mereka bahu membahu membangun usaha Bloe Kodja. “Kalau yang satu sedang down , yang lainnya menyemangati.”

Duka pun pernah dialami bapak satu anak ini. “Sekali waktu, pernah sama sekali tidak ada yang beli sampai akhirnya bolunya dibagi-bagikan ke tetangga. Sempat pengin berhenti, tapi kami nekat jalan terus. Kami coba masukkan ke Facebook, ternyata banyak yang tertarik.”

Sejak itulah, respons mulai berdatangan. Dalam sehari, Boloe Kodja bisa laku sampai 60-100 buah, sementara di hari libur, bisa mencapai 250 buah. Sementara ini, Deina dan Gina mengaku, produksi masih dibatasi jumlahnya. “Biar orang penasaran, jadi enggak bosan,” kata Deina yang pernah melihat produknya ternyata dijual orang di sebuah hotel dengan harga 3 kali lipat. “Biar saja, selama tidak merusak rasa. Tapi, kalau belinya di sini, pasti jauh lebih murah,” tukas Ginda.

Dalam membuat bolunya, Deina selalu cermat menggunakan bahan-bahan pilihan. Santannya dipilih dari kelapa asli asal Singaparna yang terkenal lebih gurih dan kental, telur dari Sukabumi, dan gula dari Madiun.

Soal takaran resep, sampai saat ini Deina masih melakukan sendiri. Produksi dilakukan pagi hari, dan sorenya pasangan ini mulai menjaga toko. “Untuk memperkaya jenis kue yang dijual, Deina pun mulai menawarkan Litches atau kue bola-bola keju.

Deina mengaku di saat tertentu ia merasa lelah melakukan semuanya sendiri, apalagi menjelang Lebaran. “Tapi, ada kepuasan tersendiri ketika produk kami digemari orang, bahkan sampai habis,” tandas Deina.

Noverita, Debbi / bersambung


blog comments powered by Disqus