Membership
Lupa password?
Peristiwa

Kreasi Aplikasi Kain Flanel Dengan Desain Eksklusif (2)
Jumat, 12 Agustus 2011
Flanel Ani

Ani selalu menyiapkan dua harga agar bisa dibeli semua kalangan. (Foto: Noverita K Waldan)

Siapkan Dua Harga

Bermodalkan Rp 500 ribu, lewat merek Aneka Flanel, Ani Nurdiana memulai bisnisnya Juni 2010. “Awalnya iseng melihat kain flanel mudah didapat dan unik, bisa dibuat apa saja. Imajinasi saya juga bisa diterapkan di situ,” kata Ani yang ditemui di acara PPK Sampoerna 2011 di Pasuruan. “Sandal dan dompet adalah produk pertama saya. Idenya, ingin membuat sandal jepit menjadi lucu agar tidak hanya dipakai ke kamar mandi saja,“ ujar Ani yang memproduksi di rumahnya, Perum Candra Kartika, Pasuruan.

Sandal jepitnya sebenarnya bisa dibeli pasaran. Namun, Ani kemudian menambahkan hiasan boneka flanel di atasnya agar lebih menarik dan disukai anak-anak. “Saya menyiapkan dua macam harga karena daya beli orang, kan, tidak sama. Ada yang ingin beli, tapi tak punya uang. Harga yang terjangkau mulai dari Rp 10 ribu. Sementara yang agak mahal Rp 15 ribu – 18 ribu dengan kualitas berbeda. Tinggal pilih mau yang mana.”

Setelah sandal, Ani menambah produksi kaus, kalung, kerudung, dan boneka berhias flanel. “Kaus juga disediakan dua harga, Rp 25 ribu untuk bahan kaus murah, dan Rp 30 – Rp 40 ribu untuk bahan kaus mahal,” papar Ani yang mengaku belajar kerajinan ini secara otodidak. “Saya tak pernah ikut kursus. Produk boneka juga inspirasinya dari flanel yang saya terapkan ke boneka,” ujar Ani yang menjual boneka berhias flanel Rp 15 ribu – Rp 55 ribu.

Yang agak sulit, lanjut Ani, membuat aplikasi flanel pada kerudung. “Kalau bukan penjahit yang benar-benar pintar, tidak akan bisa. Harus hati-hati dan teliti biar jahitannya rapi dan tak kelihatan dari luar. Malah tidak bisa dijahit pakai mesin, harus tangan,” papar Ani yang menjual kerudung berflanel Rp 27.500.

Lewat UKM, Ani mencoba mengembangkan produknya. “Banyak manfaat yang saya peroleh, salah satunya UKM menuntut agar saya terus maju meski ada kendala di modal. Lama-lama produk bisa berkembang. Lumayan, buat menambah uang jajan anak dan kebutuhan hidup,” papar Ani yang memasukkan produknya ke sejumlah toko dan melalui Facebook.

Kendala yang dihadapinya sebenarnya lebih ke soal pemasaran, karena usahanya masih tergolong baru. “Bahan dasar, sih, banyak. Kalau tidak ada di Pasuruan bisa cari di Surabaya atau Malang. Pengerjaan produknya, mulai dari pola, desain, dan memotong tetap saya yang lakukan, sementara menjahit diserahkan ke penjahit. Hasil akhirnya tetap saya yang kerjakan,” kata Ani yang memiliki tiga penjahit ini.

Kelebihan Aneka Flanel terletak dari desain dan kualitasnya. “Desainnya unik, tidak pasaran. Kualitasnya pun beda karena saya kerjakan sendiri. Sebenarnya pengin punya toko sendiri tapi modalnya besar. Mending uangnya dipakai buat beli bahan,” tutur Ani yang produknya laku secara musiman. “Kalau banayk yang pesan sandal, kadang saya harus menambah tukang jahit.”

Flanel Uvuq

Diana fokus ke busana muslim berhias flanel, meski tetap membuat produk lain. (Foto: Noverita K Waldan)

Sajadah Anak Berhias Flanel

Berbeda dengan Ani, Diana dari Uvuq Collection memulai bisnis berawal dari keinginan Uvuq, sang anak memiliki sajadah bergambar tokoh Naruto. “Kenapa tidak bikin sendiri saja sajadah bergambar Naruto dari flanel. Selain bahannya mudah diperoleh, warnanya pun sangat pas dengan tokoh itu,” cerita Diana saat ditemui di acara PPK Sampoerna 2011 di Pasuruan. Uniknya, sajadah itu bisa dilipat menjadi tas, sehingga lebih praktis. Di Jl. Juanda Jogosari Pandaan, Pasuruan, Diana memproduksi aneka kerajinan flanelnya.

Di luar dugaan, sajadah itu mendapat respons dari teman-teman Uvuq. “Ternyata banyak yang ingin beli dan mulai pesan.” Bermodalkan Rp 500 ribu dari sisa uang belanja, Diana mulai mengerjakan pesanannya. Ia tak kesulitan menjahit karena sebelumnya kerap menerima jahitan dan membuka kursus menjahit. “Pola Naruto pun saya ambil dari gambar Uvuq yang memang pintar menggambar. Uvuq mengggambar di karton lalu dipindahkan ke kain.”

Tak hanya sajadah, pesanan mulai merambah produk lain seperti sajadah gambar Spongebob dan Dora, mukena, baju muslim, dan kaus. “Setelah punya sajadah bergambar para tokoh, anak-anak senang dan rajin salat,” ujar Diana yang banyak menerima banyak pesanan busana muslim dari TPQ. “Akhirnya, fokus saya ke busana muslim, meski produk lain tetap jalan.”

Harganya bervariasi, mulai dari sajadah Rp 75 ribu dan kaus Rp 45 ribu. Sementara busana muslim tergantung bahannya, ukuran kecil Rp 85 ribu, besar Rp 95 ribu. “Pesanan terbanyak busana muslim perempuan.”

Senada dengan Ani, kendala modal jadi hal utama. “Saya juga tak berani produksi banyak kecuali ada pesanan karena takut tak ada yang beli. Pemasaran juga hanya dijual di sekitar Pasuruan, belum berani ke luar,” kata Diana yang memiliki dua pegawai. Dukanya lagi, ketika pembeli menawar harga. “Padahal, anaknya sudah menangis ingin punya sajadah. Coba kalau ibunya buat sendiri, kan, susah dan perlu tenaga. Tapi, ya, namanya juga pembeli, boleh bebas melakukan apa saja,” tutur Diana.

Noverita K Waldan

Views : 2881

blog comments powered by Disqus