Membership
Lupa password?
Peristiwa

Komunitas Perempuan Berjilbab, Tak Sekadar Adakan Pengajian (1)
Rabu, 03 Agustus 2011
Hijab Style Community

Foto: Istimewa

Sejumlah perempuan berjilbab ini membantuk komunitas. Bukan menciptakan eksklusivitas, tetapi menjadi ajang silaturahmi dan berbagi. Mereka juga berharap, meski berjilbab masih tetap bisa gaya. Yang penting, sesuai aturannya.

Hijab Style Community PUNYA BANYAK CABANG

Berawal dari keinginan memiliki wadah silaturahmi para muslimah, Hijab Style Community (HSC) dibentuk pada 23 Januari 2011 di Palembang. Ide ini digagas oleh Ammy Julian bersama tiga temannya, Dina Noviana, Dora Darmawati, dan Masayu Febrina Fanary. Ketika ide ini dikemukakan lewat jejaring sosial dan orang-orang terdekat, banyak para pemakai hijab yang antusias ingin bergabung.

Lantaran info ini tersebar di dunia maya, banyak permintaan dari luar kota yang ingin mendirikan cabang HSC. Dalam waktu singkat, HSC didirikan di Jakarta, Pekanbaru, Batam,dan Bandung. Yang baru saja bergabung adalah Lampung dan Mamuju (Sulawesi Barat). Slogan komunitas yang berbasis di Palembang ini adalah “Berhijab membebaskan muslimah untuk maju dalam kebaikan.”

Maksudnya, ”HSC membebaskan kita beraktivitas, mengerjakan pekerjaan, dan berteman dengansiapa saja. Dengan berhijab, pergaulan dengan lawan jenis jadi lebih terjaga dengan baik,” jelas Eiya Agnesya Chaniago (23), Humas HSC.

Tak ada batasan umur untuk jadi anggota HSC. Namun, tiap anggota harus mematuhi aturan yang diberlakukan HSC. Antara lain datang saat ada jadwal silaturahmi HSC yang diadakan sebulan sekali, mengisi formulir registrasi keanggotaan, dan siap menjalankan visi serta misi HSC.

Peraturan keanggotaannya pun cukup sederhana. Yaitu, memakai hijab secara permanen, berperilaku sepantasnya perempuan muslimah, menjaga nama baik pribadi dan keluargadan HSC, serta menaati keputusan yang telah disepakati bersama. Bila tiga kali berturut-turut tidak hadir pada acara silaturahmi HSC tanpa kabar, dianggap mengundurkan diri dari keanggotaan. Yang juga penting, bila memutuskan tidak lagi menggunakan hijab berarti mengundurkan diri dari HSC.

Di setiap pertemuan, anggota dikenakan uang kas Rp 20 ribu, atau jumlahnya bisa disesuaikan bila ada acara khusus. Uang kas ini digunakan untuk kegiatan amal dan tausiyah. “Misalnya, untuk berbagi ke panti asuhan. Sejauh ini, sih saat kumpul acaranya antara lain berbagi ilmu memakai hijab, tausiyah, dan acara amal,” ujar Eiya sambil menambahkan, anggota yang rata-rata memiliki butik busana muslim biasanya menggelar barang dagangan seusai pertemuan.

Eiya menandaskan, meski anggota HSC menyukai fashion hijab, mereka tidak boleh lupa dengan syariat Islam. “Yang penting, tidak berlebihan, karena tujuan kita mendirikan HSC, kan, bukan semata untuk urusan fashion .”

Hijabers Community

Foto: Dok Pri

Hijabers Community TAK HANYA KELAS ATAS

Adalah Jenahara Nasution (25),Ria Miranda (25) dan Dian Pelangi (20), tiga perempuan yang mengawali berdirinya Hijabers Community. Jangan salah, mereka tak sekadar berbagi soal fashion muslimah. Banyak kegiatan lain yang dikembangkan. Seperti berbagi soal tips rumah tangga, pemberdayaan perempuan, seminar kecantikan (beautypreneurship ) muslimah, danlainnya.

Komunitas ini berawal dari acara buka puasa bersama yang diprakarsai Dian, yang juga seorang perancang busana. Di acara itu, Dian mengundang Ima Mutiara dan Monica Jufri, dua perancang busanamuslimah lain. Tak disangka, pesertanya membludak. Dari ajang itu, beberapa peserta lalu membuat grup BBM Perempuan Berjilbab. Grup ini diharapkan bisa jadi wadah silaturahmi, tempat berbagi dan saling menginspirasi.

Sebulan kemudian, tepatnya 27 November 2010, secara resmi komunitas Hijabers Community (HC) dibentuk. Trtapi baru pertengahan Maret lalu komunitas ini diluncurkan di Pondok Indah Lestari. Pasa saat peluncurannya, mereka juga mengundang para followers Twitter @hijaberscomm.

Kenapa dipilih kata hijab? Ini mewakili kepentingan pengikutnya yang berpakaian tertutup. Hijab memiliki arti “tirai”, sementara jilbab berarti “jubah”. Setelah resmi, komunitas yang diketuai Jenahara ini memiliki banyak sekali agenda yang dibuat berdasarkan masukan para anggota. Mulai dari pengajian bersama, kelas berhijab, hingga acara penggalangan dana. “Setidaknya kami sudah mengadakan tiga kali pengajian dan dua kali hijab class dan charity setelah peluncuran pada 19 Maret lalu,” papar Ria.

Yang mencengangkan, dalam waktu singkat meraka sudah punya lebih dari 10 ribu followers fi Twitter. “Secara resmi, sih, kami belum bikin kartu keanggotaan. Selama ini hanya melihat dari follower Twitter, blog dan Facebook,” ungkap Ria menjelaskan sifat keanggotaan HC yang cukup terbuka.Anggota HC juga berasal dari berbagai profesi dan tersebar di berbagai kota di Indonesia, bahkan beberapa berasal dari luar negeri. “Untuk cabang resmi, sementara kami hanya buka di Yogya dan Bandung,” tegas Ria.

Kendati demikian, Ria optimis HC akan terus berkembang dan punya implikasi luas terhadap perempuan Indonesia. “Dalam skala kecil, sudah banyak teman-teman yang sebelumnya belum berjilbab , sekarang sudah mulai berjilbab,” ujar Ria senang. Akan tetapi, Ria tak menapik jika ada pandangan HC sekadar komunitas fashion atau kumpulan perempuan berhijab kelas atas. “Padahal semua bisa jadi anggota. Kami tak pernah pilih-pilih.”

Hasuna, Laili / bersambung


blog comments powered by Disqus