Membership
Lupa password?
Peristiwa

Kisah Vera Lolos dari Maut “Risikonya, Ibu Akan Sembuh!” (2)
Rabu, 26 Juni 2013
vera dan tomo

Kenangan bersama Mas Tomo, pria paling sempurna bagiku. (Foto: Dok Pri)

Diantar Sahabat

Di tengah kesedihan, aku lalu mendapat kabar dari sahabatku, Patricia. Katanya, di Surabaya ada seorang dokter ahli bedah saraf yang juga ahli di bidang pengangkatan tumor di otak. Meski tak berharap banyak, pada 30 April 2012 aku diantar Patricia menemui dr. Sofyanto, SpBS, di RS Bedah Surabaya.

Namun perjalanan itu tak semulus harapanku. Maskapai penerbangan yang kutumpangi keberatan mengangkutku sebagai penumpang karena alasan kesehatanku yang sangat mengkhawatirkan. Mereka tak ingin digugat andai aku meninggal di atas pesawat. Patricia pun balik mengancam, jika aku sampai meninggal, maka ia yang akan menggugat. Syukurlah, atas rekomendasi dokter dari maskapai itu aku bisa terbang ke Surabaya.

Setelah bertemu dokter yang dimaksud, aku segera diperiksa. Beliau dan timnya sigap menyiapkan meja operasi. Sebelum tindakan dilakukan, aku ingat betul saat bertanya soal risikonya. Dengan yakin sang dokter menjawab, “Risikonya, Ibu akan sembuh!”

Bagai punya semangat baru aku mendengar jawabannya. Aku ingin sembuh! Bermodal keyakinan itu pula aku tak takut untuk segera dioperasi esok harinya. Alasan lainnya, aku sudah tak punya “utang” lagi, karena telah menunaikan kewajiban melakukan selamatan 40 hari bagi Mas Tomo.

Alhamdulillah, operasi yang berjalan 12 jam itu berjalan sukses. Setelah menginap dua hari di ruang ICU, aku dipindah ke ruang perawatan. Total 13 hari lamanya aku menginap di RS. Bagai mukjizat, setelah keluar dari RS dan kembali ke Yogjakarta, kondisi fisikku semakin hari semakin membaik. Selesai operasi aku pun belajar menggerakkan badan, berjalan, hingga akhirnya fisikku kembali seperti sedia kala. Aku pun bisa melakukan segala aktivitas. Sungguh ini bagai mukjizat Tuhan!

Setiap ingat semua ini, nyaris aku tak percaya. Namun ada satu hikmah yang aku petik dari cobaan ini. Ketika manusia mendapat cobaan seberat apa pun, jangan berhenti berusaha dan berdoa. Kini, aku sudah bisa melakukan hari-hariku seperti dulu sebelum sakit. Setiap hari aku mendesain batik di perusahaan batik milikku dan menjalankan banyak aktivitas lain bersama belasan karyawanku yang setia.

Di sela mendesain batik, aku tak pernah lepas berzikir dan beristigfar kepada Allah SWT agar selalu diberi jalan terbaik. Sebagai bentuk ucapan terima kasihku atas kesembuhan ini, kini aku berusaha mendatangi orang-orang sakit, terutama yang mirip seperti yang aku derita.

Aku memberi motivasi kepada mereka agar tak putus asa dan berhenti berusaha mencari kesembuhan. Sebab aku sadar, sekali lagi hidup dan mati manusia ada di tangan Tuhan. Namun keajaiban akan selalu ada bagi mereka yang tak lelah berikhtiar.

jam operasi

Diperlukan terbang tinggi untuk menangani kasus seperti yang dialami Ibu Vera, kata dr Gigih. (Foto: Gandhi / NOVA)

Dipotong Per Bagian

Dokter Gigih Pramono, SpBS, dari Rumah Sakit Bedah Surabaya (RSBS) yang melakukan pengangkatan tumor yang bersarang di batang otak Vera menjelaskan, operasi yang dilakukannya tergolong cukup sulit. Sebab, posisi tumornya menempel di antara batang otak dan sumsum tulang belakang. Yang membuatnya lebih sulit lagi, lanjutnya, posisi tumor berada di bagian depan batang otak dan sumsum tulang belakang Vera.

“Padahal operasinya dilakukan dari arah belakang atau tengkuk,” kata Gigih yang mendalami bedah tumor di Yokaici Japan dan Strassbourg Prancis.

Lantaran terhalang batang otak, Gigih terpaksa melakukan pembedahan dari celah yang sangat sempit, sedikit ke arah samping. Untuk memudahkan pengangkatan tumor, katanya, tak bisa dilakukan secara langsung tetapi harus dipotong bagian per bagian. “Itulah salah satu faktor mengapa operasinya membutuhkan waktu cukup lama,” ujar Gigih yang saat mengoperasi Vera satu tim dengan dr. M. Sofyanto, SpBS.

Gigih mengatakan, kondisi Vera pada saat itu sudah cukup parah, 70 persen volume tumor sudah menekan rongga batang otak dan sumsum tulang belakangnya. Tekanan tumor yang ada di batang otaknya mengakibatkan beberapa fungsi tubuh Vera terganggu, mulai dari terjadinya kelumpuhan pada seluruh anggota tubuh serta kesulitan bernapas karena pusat pengendali pernapasan di batang otak tertekan oleh tumor.

Yang tak kalah rumitnya, operasi yang menggunakan teknik micro surgery itu harus ekstra hati-hati dilakukan agar tidak merusak organ-organ penting yang ada di sekitarnya. “Kesalahan sedikit saja bisa fatal akibatnya,” kata Gigih sambil menjelaskan, diperlukan jam terbang tinggi untuk menangani kasus-kasus seperti Vera.

Gandhi Wasono M.


blog comments powered by Disqus