Membership
Lupa password?
Peristiwa

Kisah Sedih PRT Korban Penganiayaan
Sabtu, 18 Juni 2011
Ngatinem foto debbi

Ngatinem (Foto: Debbi)

Wajah tua Ngatinem (50) terlihat letih dan kuyu. Mata kirinya juga tampak memerah. Tubuh wanita tua ini kurus dan kucel. Saat ditemui NOVA ditempat persembunyiannya Ngatinem hanya bicara sepatah dua patah kata.

“Saya mau segera  pulang ke Jawa saja. Saya ikhlas saja dengan perbuatan keluarga polisi itu. Yang penting gaji saya selama bekerja disitu segera dibayarkan. Saya mau pulang, saya mau cari kerja di Magelang saja,” tutur Ngatinem dengan mata berkaca-kaca.

Dengan terbata-bata wanita dua putra ini menuturkan kisahnya hingga  ‘terdampar’ di Medan.” Saya pikir saya bisa bekerja di Jakarta. Tapi, ternyata kok malah dibawa kerja di Medan. Tapi, ya sudahlah, ini mungkin sudah nasib saya,” kata nenek tiga cucu.

Ngatinem harus ikut bekerja membantu suaminya yang  terkenah stroke di tangan.” Suami saya kenah stroke setahun yang lalu. Makanya saya harus turun tangan bantu cari makan buat keluarga. Kedua anak saya sudah menikah.Tapi, kalau mengharap mereka tak bisa. Mereka sudah bekerja buat keluarga masing-masing.”

Awalnya, Ngatinem kerja serabutan. “Saya juga pernah kerja sebagai tukang jahit. Namun, dengan menjahit rasanya uangnya tak memadai.” Enam bulan lalu, kata Ngatinem, iseng-iseng dia cerita dengan tetangganya yang kerja di Terminal. "Tetangga saya itu namanya Rustam, menawarkan saya kerja dengan Ibu Intan. Saya lalu dikenalin dengan ibu itu dan saya diajak ke Jakarta. Mendengar kerja di Jakarta, saya langsung setuju. Selain dekat, kalau suami sakit saya bisa cepat pulang ke Magelang,” tutur Ngatinem dengan mata menerawang jauh.

 Namun, wanita malang ini tak mengerti saat diajak ibu Intan menginap dua malam di rumah kerabatnya. ” Saya tahunya kerja pada ibu Intan itu. Lantas, ibu Intan ngajak saya ke Medan. Alasannya akan mengambil uang kost-kost-an di Medan. Dia punya anak kost.”

Ropiah foto debbi

Ropiah (Foto: Debbi)

Dibawah Umur
Namun, sampai di Medan Ngatinem  semakin tak mengerti kalau dia akhirnya kerja di rumah  boru Tobing di Jl Pabrik Tenun. Sejak enam bulan lalu Ngatinem mulai kerja di rumah boru Tobing yang memilki dua orang anak dan dua orang cucu itu.Belakangan Ngatinem baru tahu kalau salah satu anak perempuan boru Tobing adalah seorang polisi, Kompol Elisabeth.

 “Ya sudahlah apa boleh buat, saya kerja di rumah boru Tobing harus saya terima. Mungkin itu sudah jalan hidup saya.Hari demi hari saya lalui di rumah besar yang berpekarangan luas.Namun, dua bulan belakangan ada lagi seorang PRT dari Jawa yang kerja di rumah itu.Nama PRT itu Ropiah. Namun, malangnya perempuan itu baru berumur 14 tahun,” ujar Ngatinem sedih.

Ternyata bukan hanya Ngatinem yang bernasib tragis. Ropiah (14) juga mengalami nasib tak beruntung seperti  Ngatinem. “ Saya mau jadi PRT karena ingin bantu meringankan beban orang tua. Ayah saya sehari-hari kerja sebagai buruh bangunan di Brebes. Untuk menghidupi istri dan kedua anaknya ayah sering tak sanggup. Makanya dalam hati kecil saya ingin bantu beliau,” ujar Ropiah, PRT yang masih dibawah umur.

“Awalnya saya berdua teman dibawa ke sebuah Yayasan di Jakarta Barat. Namun, saat saya hendak dibawa kerja, teman itu tidak ikut. Saya juga enggak terima kerja di Medan. Maunya saya kerja di Jakarta saja. Tapi, permintaan saya enggak digubris yayasan,” ungkap Ropiah kesal.

Penganiayaan demi penganiayaan dialami Ngatinem dan Ropiah.” Kalau kerja sedikit saja salah atau kerja kami lama bagi mereka.Tak segan-segan badan kami dipukul,rambut dijambak.Bahkan,saya pernah ditunjang oleh ibu Elisabeth. Apalagi,ibu itu kan polisi, hanya dengan kedua jarinya dia bisa memiting badan saya. Pedih sekali tapi apa mau dikata,” ujar Ropiyah yang diiyakan Ngatinem.

Yang paling fatal, saat kepala Ropiah di ketok pakai sendok nasi yang terbuat dari kayu. Belum lagi tangan Ropiah diikat dan tubuhnya digantung di jendela.” Kursi yang menempel di kaki saya dibuang. Bukan hanya saya saja, tubuh mbok juga ditimpa dengan kursi kayu yang ada di rumah itu.Pokoknya miris sekali kejadian itu kalau diceritakan kembali. Kami tahu kami memang orang susah,kerja sama orang kaya. Mobil mereka saja ada 3. Tapi, apa pantas kami dibuat seperti itu,” pinta Ropiah pilu.   

Sehari-hari Ngatinem dan Ropiah  tak luput dari pemukulan di rumah itu. “ selain dipukul,kami juga dibatasi makan.Sehari kami cuma makan dua kali.Pernah, saat kami lapar minta makan. Ternyata rintihan kami terdengar guru les yang sedang mengajar cucu-cucu boru Tobing di rumah.Mungkin karena mereka malu, kami ditampar dan dipukuli. Kalau dihitung entah sudah berapa kali pukulan mendarat di tubuh kami,” kata Ropiah yang sehari-hari tidur di kamar boru Tobing,” tapi saya tidur cuma beralaskan karpet tidak pakai kasur.”

Puncak kemarahan keluarga di rumah itu tak jelas entah masalah apa.Tiba-tiba anak bungsu boru Tobing, bu Ande, menonjok kedua mata Ngatinem  dengan kedua tangannya. Sehingga mata sebelah kiri Ngatinem memerah.Sungguh pilu nasib kedua PRT ini. Karena tak tahan lagi mereka berusaha untuk melarikan diri. Saat semua orang di rumah itu sedang pergi keluar, Senin (13/6). Ropiah mencari linggis di gudang. Dengan sekuat tenaga kedua PRT ini berusaha membuka pintu belakang  menggunakan linggis.

Setelah berada diluar.Mereka segera memanggil becak bermotor minta diantar ke kantor polisi. Tapi, dari kantor polisi mereka disuruh mendatangi kantor HAM, dari sana mereka diarahkan lagi ke kantor LBH Apik (Lembaga Bantuan Hukum, Assosiasi Perempuan Untuk Keadilan) di Jl Sisingamangaraja. ” Disini barulah kami tenang. Saya sudah mengikhlaskan semuanya. Tapi, saya berharap majikan saya mau memberikan gaji saya selama enam bulan yang belum pernah dibayarkan pada saya. Gaji saya Rp 700 ribu sebulan dijanjikan keluarga itu.Saya mau pulang ke Magelang saja.Saya sudah rindu keluarga. Setelah saya masuk televisi keluarga saya di Magelang sudah tahu cerita tentang saya.Keluarga mau jeput tapi tak usah biar saya pulang sendiri saja,” papar Ngatinem.

Sama seperti Ngatinem, Ropiah juga berharap majikannya mau membayarkan gajinya selama empat bulan yang belum dibayarkan.” Saya mau pulang saja.Biarlah saya bekerja di Brebes saja.Saya mau jadi petani,biar hidup saya lebih tenang,” jelas Ropiah yang juga empat bulan belum digaji yang sebulannya Rp 700 ribu.

Menurut Ketua LBH Assosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan (APIK-Medan) Hj Cut Bietty SH yang menangani kasus ini mengaku dengan adanya pengaduan ini diharapkan polisi bertindak cepat Karena kasus ini sudah yang kedua kalinya. “Ada kesan pembiaran terhadap tersangka yang melakukan penganiayaan. Kasus ini sudah berulang, tolonglah diproses sesuai hukum. Apalagi, salah satu korban berumur 14 tahun,” tegas Cut Bietty.

Kabid Humas Poldasu AKBP Raden Heru Prakoso mengaku jika korban telah membuat laporan. ” Jika terbukti bersalah maka tersangka dapat dikenakan sanksi pidana umum.”
Debbi Safinaz


blog comments powered by Disqus