Membership
Lupa password?
Peristiwa

Sepeda Serasa Berlampu Disko
Kisah Dua Perempuan Penggila Sepeda Lipat
Jumat, 01 Mei 2009
Seli Ira

Meski sempat jatuh karena disenggol motor di jalan, Ira tak kapok (Foto : Daniel Supriyono)

Dua perempuan ini kerap pelesir ke luar kota, bahkan luar negeri, dengan membawa sepeda lipat, atau seli. Memang, bukan di-gowes menuju tempat tujuan, tetapi keliling ke kota wisata dengan sepeda. Praktis dan menyenangkan.

Salah satu pecinta seli adalah Imelda Irawati, atau Ira. Ia aktif di Indonesia Foldingbike (Id-Fb), perkumpulan pemilik seli. “Anggotanya asyik-asyik, acaranya juga seru-seru,” kata Ira semangat. Apalagi, tambahnya, naik sepeda bisa berolahraga, sekaligus berwisata kuliner, menambah teman, dan memperkenalkan alat transportasi yang ramah lingkungan. Satu lagi, bisa menertawakan orang yang sedang kena macet! “Puas rasanya. Apalagi kalau sedang ikut Car Free Day (CFD) di Jalan Sudirman tiap akhir bulan,” jelas wanita yang oleh rekan-rekannya sering dijuluki Bu Lurah (bundaran) HI ini.

Ira yang berprofesi sebagai Music Director Assistant di Radio Indika Jakarta ini, menjadikan kegiatan bersepeda sebagai acara wajib saat akhir pekan. Kegiatan touring Id-Fb ke Bogor saat Valentine lalu, misalnya, juga diikutinya. Di acara bakti sosial ke panti asuhan itu, Ira dan rombongan Id-Fb yang jumlahnya sekitar 80 orang, bersepeda melalui jalan-jalan kampung ke Bogor. “Padahal, cuaca sedang panas banget. Kami berhenti berkali-kali di pinggir jalan, beli minuman dingin di warung. Lemari pendingin minuman di warung kami buka untuk mendinginkan badan,” ujarnya sambil terbahak.

Selain Bogor, Ira juga pernah ke Bandung, menghadiri resepsi perkawinan salah satu anggota Id-Fb. “Kami berangkat naik mobil, sampai di sana baru naik sepeda. Datang ke resepsi juga naik sepeda, lengkap dengan kostum warna pink, sampai jadi pusat perhatian undangan lainnya. Tapi kami cuek,” tutur Ira yang liburan ke Bali selama tiga hari bersama 12 temannya, sekaligus merayakan ulangtahun Id-Fb ke-2.

Bahkan pernah juga Ira ke Singapura bersama 10 temannya. Di sana, mereka ditemani pemilik toko sepeda lipat dari Singapura, diajak keliling selama beberapa hari.

Ganti Belasan Kali

Di Bali, perempuan lajang ini bersepeda ke berbagai tempat. “Hari kedua, kami ke Ubud, bersepeda sekitar 40 Km. Cuaca sedang panas-panasnya dan jalannya menanjak. Rasanya sudah mau pingsan.” Saking kepanasan dan lelah, “Tabung gas elpiji 3 Kg warna hijau, dari jauh kami kira kelapa muda. Padahal, kami sudah semangat pingin beli,” tuturnya terbahak.

Ia berkisah, mengenal seli akhir tahun 2007, saat mengunjungi kejuaraan sepeda statis. Itulah momen bersejarah dalam hidupnya. “Sejak itu, saya tergila-gila seli,” papar Ira sembari tergelak.

Setelah 15 kali ganti sepeda, kini ada 5 sepeda dengan spesifikasi berbeda yang nangkring di apartemennya. “Saya pilih seli karena praktis, gampang dibawa, dan bentuknya unik. Kalau bannya bocor, tinggal lipat, terus nyetop taksi. Ha..ha…” ujar Ira yang pernah jatuh dari sepeda akibat disenggol motor.

Pernah juga, ia “dipepet” pengendara motor saat bersepeda di Bali. “Sudah deg-degan juga. Ternyata dia cuma mau tanya, saya beli sepeda di mana dan berapa harganya,” kisah Ira yang “meracuni” Nenden Saridewi (35), rekan sekantornya, sehingga akhirnya sama-sama suka seli.

Mirip Disko

seli nenden

Meski bersepeda, Nenden merasa urusan gaya dan padu padan tak boleh dilupakan

Saat pertama kali membeli seli, kisah Nenden, sang suami (Suryo Endropriyanto), sempat protes. Ia dianggap buang-buang uang. “Saya minta dia mencoba. Eh, malah dia yang akhirnya jadi suka banget dan ikut beli. Sekarang, dia lebih ketagihan dan lebih sering ganti sepeda ketimbang saya,” tutur Nenden yang sudah 11 kali ganti sepeda.

Nenden kerap bersepeda bersama suami dan dua anaknya, Khaira Adelazahra (2) dan Jasmine Almazuhra (6). “Saya selalu ingin dekat dengan mereka, tapi enggak mau mengajak jalan ke mal. Ya, sudah, diajak naek sepeda bareng. Makanya saya beli boncengan untuk mereka, satu di belakang sepeda saya, satu di sepeda suami. Dengan begitu, sekaligus dapat waktu bersama keluarga, teman, jalan-jalan, sekaligus olahraga,” papar sekretaris Executive Vice President Indika Energy ini.

Selain itu, Nenden juga melengkapinya dengan semacam kereta boncengan bikinan Jerman yang dipasang di samping sepeda. Di situ ia menaruh makanan, minuman, dan perlengkapan lain buat buah hatinya. “Kalau mereka haus atau lapar, tinggal ambil.” Biasanya tiap akhir pekan mereka ke tempat rekreasi. Sampai di tempat tujuan, misalnya pantai, kolam renang atau tempat wisata lainnya, Khaira dan Jasmine bisa main sepuasnya, lalu disambung dengan acara makan, sebelum pulang dengan mobil. Mereka juga kerap ikut kegiatan Id-Fb jalan-jalan keluar kota, termasuk Bandung, Yogya, dan Bali.

Perempuan asal Bandung ini punya pengalaman menarik saat bersepeda di Jalan Malioboro, Yogya. “Mendadak seorang pria menyuruh berhenti, lalu tanya-tanya sepeda saya. Ternyata Kapolwil DI Yogyakarta yang menyuruh orang itu karena dia tertarik melihat sepeda saya yang “lucu” . Akhirnya, kami diundang makan di rumahnya dan dia tanya-tanya soal seli.”

Meski rela kepanasan saat bersepeda, bukan berarti Nenden dan Ira lupa bergaya. Warna busana dan sepatu yang ia kenakan, misalnya, sebisa mungkin senada dengan warna sepeda, helm, buff (penutup muka), lampu, dan sarung tangan. Pernah, Nenden ingin bergabung dengan teman-temannya yang berencana bersepeda ke Kemang sepulang kantor, tapi ia berbusana resmi, bersepatu wedges , dan membawa tas bermerek.

“Akhirnya, ya, ikut juga, walaupun diliatin orang di jalan,” ujar Nenden yang juga memasang banyak lampu di sepedanya agar aman dipakai bersepeda malam hari. “Tapi dasar centil, saya pasang lampunya banyak, kecil-kecil, sehingga terlihat ramai, kayak lampu disko. Hahaha.”
Hasuna Daylailatu


blog comments powered by Disqus