Membership
Lupa password?
Peristiwa

Kanker Lidah Merenggut Nyawa Si Peduli Kanker (2)
Selasa, 08 Januari 2013
Puti Terbaring

Aku iklhas menerima kenyataan Puti meninggalkanku selama-lamanya. Mungkin ini jalan terbaik baginya. (Foto: Agus Dwianto/NOVA)

Ikhlas Merawat

Ketika itu aku tentu berharap ada keajaiban dan Puti bisa sembuh. Namun kesedihanku memuncak saat suatu kali ia berkata,” Ma, Puti sudah tidak kuat lagi.” Aku selalu memberinya semangat, ”Kamu pasti kuat.” Di hadapannya aku harus terlihat tegar, meski dalam hati aku lemah.

Sebagai ibu tentu saja aku ingin membuat anakku bahagia. Kuupayakan ke mana pun dan apa pun yang bisa menyembuhkannya. Tapi ada kalanya muncul rasa lelah dan capek karena aku mengurus semuanya seorang sendiri.

Aku tahu, sakit yang Puti rasakan pasti sangat luar biasa. Kadang ia suka membuka pembalut luka di dagunya yang baru saja kuganti. Sering aku peringatkan, ia harus bisa melawan godaan untuk membuka pembalut itu. Pernah, saking capek dan kesalnya suaraku meninggi saat menegurnya hingga ia terdiam.

Astagfirullah, aku tersadar, anakku sedang sakit dan tak boleh begitu. Rasa capekku menumpuk, sebab selama merawat Puti aku benar-benar tak bisa melakukan kegiatan lain. Bahkan untuk duduk sekejap pun tak bisa. Waktuku habis untuk berdiri berjam-jam meladeninya, sebab dalam sehari Puti bisa ganti diapers sampai 6 kali. Tapi semua kulakukan dengan ikhlas.

Tiap kali aku mandi atau makan, harus dilakuakn buru-buru atau menunggu ada yang bisa bergantian menjaganya. Pernah aku menyewa suster. Ketika aku pergi sebentar untuk membeli keperluannya, tiba-tiba aku ditelepon suster. Aku diminta pulang karena Puti enggan diganti diapers oleh suster.

ibunda puti

Foto: Noverita / NOVA

Menolak Dijenguk

Sifat keras kepala Puti tampaknya menurun dari aku. Semula, tak ada satu pun temannya yang tahu Puti sakit. Mungkin karena faktor psikis, ia tak mau teman-temannya tahu lalu menjenguknya dan melihat kondisinya sudah berubah. Ia tak mau dikasihani. Puti tak mau dijenguk siapa pun.

Aku mencoba memberinya pengertian, teman atau orang lain datang ke sini selain menjenguk juga mendoakan. “Siapa tahu doa-doa mereka diterima Allah dan menyembuhkan Puti.” Karena tetap tak mau, aku harus menjaga perasaan putriku. Ketika ada temannya yang ingin menjenguk, terpaksa aku tolak dengan halus.

Namun ketika Puti sempat dirawat di RS Siloam, berita sakitnya mulai tersebar. Di saat teman-temannya menjenguk di RS, aku tak bisa lagi melarang. Aku pun berpikir positif, jika teman-temannya datang tentu akan membuat Puti lebih semangat dan tak merasa sendirian.

Dugaanku tepat, ketika teman-temannya datang aku melihat ada kobaran semangat di mata Puti. Semua temannya baik. Bahkan London School, tempat Puti melanjutkan studi, sempat mengadakan malam penggalangan dana dan berhasil membantu meringankan biaya pengobatan Puti, tanpa aku minta.

Tak hanya itu, anak-anak angkat Puti di Yayasan Sayap Ibu pun hadir menyemangati putriku. Bahkan sebelum ajal menjemputnya, Puti sempat memintaku untuk mengantarnya ke sebuah masjid di kawasan Kelapa Gading untuk bertemu anak-anak yatim piatu. Meski harus terbaring menahan sakit, dengan penuh semangat Puti menyapa anak-anak itu.

Ya, sampai akhir hayatnya, Puti masih menyimpan rasa peduli kepada anak-anak yang kurang beruntung. Namun kini Puti sudah kembali ke pangkuan Ilahi. Aku hanya minta doa tulus untuk putriku, Cesillia Putty Vickend, agar dilapangkan jalannya di sana…

dukungan teman puti

Dukungan dari teman-teman Puti tak henti diberikan untuknya. (Foto: Agus Dwianto/NOVA)

Ingin Masuk Surga

Dalam akun Faceboook milik Cecillia Putty Vickend, bisa dilihat sejumlah kegiatan gadis cantik ini lewat foto-fotonya. Cecillia juga menuliskan riwayat pekerjaannya. Tahun 2006, ia bekerja di sebuah spa boutique di Singapura sebagai marketing relations internee. Lalu bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi sebagai staf marketing communication sejak September 2007 sampai Maret 2008. Ia juga pernah bekerja di PT Sharp Electronics Indonesia. Wajahnya yang cantik pun sempat menghiasi sejumlah judul FTV.

Kepeduliannya pada penderita kanker, diwujudkannya bersama dua teman dengan membuat sepatu bermerek Junkiee Shoes. Hasil penjualannya, sebagian disalurkan untuk membantu mengobati para penderita kanker. Kepedulian Cecillia terbalas semasa ia sakit. Begitu banyak orang yang memberikan bantuan untuk dirinya. Bahkan di blog pribadinya, banyak orang yang mengungkapkan perhatiannya untuk Cecillia. Penggalangan dana pun dilakukan oleh teman SMA dan kuliahnya.

Dalam blog pribadi Cecillia http://comicfacecomiclife.blogspot.com/ tertang­gal 11 Mei 2011, ia pernah mengutarakan permintaannya kepada Tuhan, “…­ tolong Tuhan, jadikanlah aku orang yang pantas masuk surga, karena aku mau berada di tempat seperti ini. Amin. Oiyaa dan satu lagi, kalo di dunia ada yang bisa punya tempat seperti ini merekalah yang Engkau beri harta berlimpah dan kekayaan berlebih. Aku nanti aja deh, jangan sekarang yaah.. aku takut jadi sombong dan lupa gimana cara masuk menuju surga yang asli :) tapi janji ya Tuhan, aku mau ke tempat seperti ini :).”

Noverita K. Waldan


blog comments powered by Disqus