Selasa, 31 Agustus 2010

Kampung Makanan Lezat (1)

Siti bangga satenya dicicipi keluarga Presiden SBY (Foto:Gandhi)

Dua kampung di Jatim ini adalah sentra kuliner yang populer. Yang satu dikenal sebagai pusat penjual sate ayam, lainnya adalah sentra ayam panggang. Tiap hari pembeli berjubel. Sementara satu dusun di Klaten (Jateng) adalah sentra penghasil keripik belut yang gurih nan renyah. Menjelang Lebaran, pesanan memuncak.

Sate Siti Dipuji Bu Any

Selama ini Ponorogo terkenal dengan seni reognya. Padahal, urusan kulinernya juga terkenal. Salah satu makanan yang sangat populer adalah sate ayam. Bedanya sate ayam Ponorogo dari sate kota lainnya adalah ukuran irisan dagingnya yang besar-besar, namun tetap empuk. Kelezatannya terasa di lidah bila telah dicampur bumbu kacang.

Tak terlalu sulit menemukan warung-warung sate itu. Sebab, masing-masing pedagang membuka warung di emperan rumah penduduk. Mereka tersebar di Kampung Purbosuman, Setono, dan di Jl Lawu atau lebih kondang dengan sebutan Gang Sate. Sebutan itu muncul sekitar tahun 2005 setelah tumbuh “barisan” penjual sate di Jl Lawu, yang kini jumlahnya ada 13 warung.

Salah satu yang paling laris adalah dagangan Hj. Siti Amini (60), istri mendiang Tukri Sobikun yang memelopori berjualan sate di emperan rumah. Sebelumnya, mendiang Turki berjualan di emperan toko di pusat kota. “Ini usaha turun-temurun. Sampai sekarang sudah ada lima generasi. Perintisnya Mbah Suro, kakek buyut kami. Dulu, kakek jualan keliling kampung dengan cara dipikul. Tapi yang merintis membuka warung di gang sate ini, ya, saya,” kata Siti yang berjualan sejak 1975.

Seribu tusuk sate ludes per hari (Foto:Gandhi)

Begitu terkenalnya sate Siti, mendiang Presiden Soeharto dan Presiden SBY pernah mencicipinya. “Mertua saya dulu juga pernah membuat sate untuk Presiden Soekarno, lho,” ujarnya bangga. April lalu, Siti mendapat kejutan lantaran Presiden SBY bersama rombongan datang langsung ke warungnya untuk menikmati sate buatannya.

“Saya bingung, bayangkan, diberitahu Pak SBY mau datang baru satu jam sebelumnya. Jadi, keadaan warung saya, ya, masih tidak karu-karuan seperti ini. Tapi alhamdulillah semua lancar, bahkan Bu Any Yudhoyono, memuji kelezatan sate kami,” ujar Siti senang.

Dalam sehari, Siti mampu menjual sekitar 10 ribu tusuk sate atau setara dengan 150 ekor ayam. Bumbu kacangnya sekitar satu kuintal per hari. Beberapa penjual sate pun memasok sekitar 1.000 tusuk sate ke warungnya tanpa bumbu. “Pasokan itu saya perlukan mengingat tenaga yang ada di sini terbatas. Lagi pula, ini juga untuk membantu pedagang lain yang tak seramai di sini,” tutur Siti yang berpenghasilan kotor Rp 20 juta per hari. Maklum, harga sate Siti di atas rata-rata pedagang lain. Seporsi sate daging isi 10 tusuk Rp 15 ribu dan Rp 14 ribu untuk sate jerohan.

HARGA TERGANTUNG UKURAN

Ayam kampung panggang harganya tergantung ukuran (Foto:Gandhi)

Tidak berbeda jauh dengan perkampungan sate ayam di Ponorogo, di Desa Gandu, Magetan (Jatim) juga terdapat lokasi wisata kuliner. Masakan yang terkenal adalah ayam panggang. Lokasinya sekitar lima kilometer dari Terminal Maospati ke arah Ngawi.

Sedikitnya ada sekitar 20 pen­jual ayam panggang di sa­na. Oleh karena nama desa itu sudah lekat dengan ayam panggang, Pemkab Magetan mencanangkan desa tadi sebagai kawasan wisata panggang ayam.

Jalan desa yang tidak terlalu besar itu saban hari dilalui ratusan orang yang ingin mencicipi lezatnya ayam panggang. Salah satu perintisnya bernama Ibu Mami alias Bu Setu (Setu adalah nama mendiang suaminya).

Mami bercerita, desanya terkenal sebagai loksi wisata kuliner ayam panggang sekitar 13 tahun lalu. “Awalnya warung saya hanya didatangi beberapa orang untuk menikmati ayam panggang olahan saya, selanjutnya terus berkambang pesat sampai sekarang,” kata ibu empat orang anak tersebut.

Dulu, kisahnya, ia berjualan ayam kampung di pasar desa, sementara suamimya hanya petani kecil. “Hidup kami susah, semua serba pas-pasan. Saya lalu banting stir jualan ayam panggang keliling dari kampung ke kampung pakai sepeda pancal. Setelah lima tahun, orang mulai mengenal ayam panggang saya.”

Suatu ketika, beberapa tetangga desa datang ke rumahnya ingin dibuatkan ayam panggang sekalian disantap di rumahnya. Sejak itu, kabar kelezatan ayam panggangnya menyebar dari mulut ke mulut. Ia pun berhenti jualan keliling, lalui memilih buka warung di rumahnya.

Menu Ayam panggang kini semakin beragam (Foto:Gandhi)

Setiap hari minimal Mami mengolah 400 ekor ayam kampung dan jumlah itu melonjak jadi 1.500 ekor per hari pada saat hari raya. Mami pun sudah tak susah lagi. Kini, ia memiliki rumah besar. Warga pun ikut-ikutan berjualan ayam panggang, ingin berhasil seperti Mami.

Menu ayam panggang Mami kini semakin beragam. Ada ayam panggang bumbu rujak dan bumbu bawang. Toh, ia tak menolak bila pelanggan minta dibuatkan ayam goreng. “Kalau cuma sesekali, boleh lah,” ujar Mami yang kini memiliki 30 karyawan.

Mami mengaku tidak memiliki resep khusus ayam panggang. Ia hanya menjaga kualitas bumbu serta kesegaran ayamnya. “Saya benar-benar jual ayam kampung.” Oleh karena itu harga ayam yang dijual tidak selalu sama, tergantung besar-kecilnya ayam. “Tiap hari sudah ada yang memasok ayam kampungnya,” terangnya.

Gandhi Wasono / bersambung

Artikel Terkait

Dilihat : 1648 orang
  • Rating :
  • 0/5 (0 votes)
blog comments powered by Disqus