Senin, 30 Januari 2012

Aksi Keji HR kepada Wigati

Istri Enggan Dicerai, Suami Dalangi Pembunuhan (2)

“Saya tak habis pikir, kenapa HR tega membunuh istrinya sendiri? Kalau memang sudah tak suka, kenapa anakku tak dicerai saja?” tutur Warti penuh tanda tanya atas sikap menantunya yang telah tega berbuat keji terhadap putrinya. (Foto: Gandhi/Nova)

Cucu Trauma

Padahal, sejak menikah 12 tahun silam hingga sesesaat sebelum kepergian Wigati, aku tak pernah melihat HR berperilaku kasar. Bhkan aku menyebut, ia orang yang kalem. Sifat kalem itu juga lah yang membuat aku menerimanya ketika ia melamar Wigati.

Bila dilihat lagi ke belakang, sebenarnya HR beruntung sekali bisa mempersitri Wigati. Dulu, HR sebenarnya berpacaran dengan Wanti, teman baik Wigati. Di tengah perjalanan cintanya dengan Wanti, HR kemudian mengadu nasib sebagai TKI ke Korea. Di Negeri Ginseng itu, katanya HR terkena musibah. Saat bekerja di pabrik, jari tangan kanannya putus akibat terpotong mesin. Begitu mengetahui HR cacat permanen Wanti langsung memutuskan hubungan.

Setelah diputus Wanti, HR frustasi kemudian mendekati Wigati, yang saat itu baru saja lulus D2 dari Solo. Karena kasihan dan merasa ada kecocokan, akhirnya mereka berpacaran lalu sepakat menikah. Acara pernikahan mereka cukup meriah. Aku masih ingat, saat itu untuk membayar foto wedding -nya saja kami sampai harus mengeluarkan biaya Rp 5 juta.

Setelah mereka menikah pun aku sempat memberikan satu ekor sapi untuk bekal mereka berumah tangga. Alhamdulillah, dalam perjalanan waktu kehidupan ekonomi mereka pun mulai mapan.

Saat ini, selain memiliki usaha penyewaan tenda (terop), keduanya juga punya usaha jual beli palwijaya dn memiliki 10 orang karyawan.Kehidupan mereka semakin lengkap setelah dikaruniai seorang anak yang cakap dan pintar. Ironis, di balik itu ternyata perkawinana HR-Wigati berakhir tragis. Selama ini, jujur aku tak pernah melihat atau mendengar hubungan keduanya bermasalah.

Kini, cucuku, Rangga, sengaja aku titipkan dulu ke anak sulungku, Sugiarti (33), yang berada di Madiun untuk menenangkan jiwanya. Ia pasti trauma melihat ibunya dibantai tepat dihadapannya.

Saat ditemui warga di lokasi kejadian, Rangga terus berteriak-teriak minta tolong sambil berdiri di samping tubuh ibunya yang sudah dalam keadaan meregang nyawa, dengan belasan luka di tubuhnya. Duh, rasanya, pedih sekali bila aku teringat kembali kejadian itu.

Sementara aku hanya berharap HR akan diganjar hukuman mati untuk menebus kesalahannya.

“Tak ada keraguan lagi, dari hasil pemeriksaan para pelaku terjerat pasal pembunuhan berencana. Untuk HR ditambah UU KDRT,” terang I Wayan Murtika. (Foto: Gandhi/Nova)

“Sempat tertunda karena tak tega”

Ditemui NOVA di Mapolres Ngawi, Selasa (10/1), HR (33) maupun sang eksekutor BDN (35) terlihat cukup tenang. Bahkan HR masih sempat guyon, “Wah kalau difoto seperti ini terus-terusan, bisa-bisa saya jadi artis,” katanya sambil tersenyum sebelum wawancara dimulai.

Lelaki bertubuh sedang itu mengakui semua perbuatannya, hanya saja ia tidak mau banyak memberikan alasannya. “Saya melakukan itu semata-mata karena soal seksual. Istri saya selalu menolak jika diajak berhubungan suami istri,” katanya beralasan.

Ia begitu iri sekali dengan cerita para mantan pacar atau teman dekatnya yang kini bisa hidup bahagia bersama suaminya masing-masing. “Saya memiliki banyak teman wanita, rata-rata mereka menceritakan hubungan suami istrinya yang begitu menyenangkan. Nah, saya iri sekali, kenapa saya tidak bisa seperti itu,” ujarnya.

Karena tidak lagi merasa ada kecocokan, kata HR, ia kemudian berusaha mengajak cerai istrinya. Namun sang istri tidak mau. Di sisi lain, ia khawatir bila bercerai baik-baik kelak hak pengasuhan anak jatuh pada istrinya, sementara ia mengaku sangat dekat dengan Rangga, anak tunggalnya. “Karena terjebak pikiran itu, kemudian saya punya niat jahat,” katanya dengan nada enteng.

Ia lalu meminta BDN, anak buahnya, sebagai eksekutor dalam aksi pembunuhaan itu. Perencanaan pembunuhan itu menurut keterangan HR, sudah dirancang sejak dua bulan lalu. Bahkan beberapa kali sempat tertunda karena HR mengaku tak tega pada istrinya. “Sempat beberapa kali saya tunda karena saya kasihan,” ujarnya.

Nah, di hari nahas itu, HR mengaku sudah berketetapan hati untuk menghabisi sang istri. Saat masih di rumah mertuanya, menjelang pulang ia mengontak BDN, yang dibantu SYN sebagai pengantar untuk mencegat Wigati di jalanan sepi di tengah sawah. “Saat itulah saya pura-pura motor saya dipepet motor BDN sampai jatuh, kemudian istri saya dipukul pakai senjata tajam, sementara saya pura-pura lari ke kampung mertua dan minta tolong,” urai Heri.

Yang membuat ia merasa sangat bersalah, aksi keji tersebut harus disaksikan langsung oleh Rangga. “Anakku pasti tahu karena, kan, kejadiannya di depan dia,” imbuh Heri sambil tertunduk. Ketika ditanya apakah ia memiliki hubungan asmara dengan wanita lain, HR menjawab dengan samar. “Saya memiliki banyak teman wanita. Dengan para mantan pacar, saya juga masih banyak yang dekat sampai sekarang,” ujarnya.

Sedangkan, BDN, sang ekskutor mengakui, ia bersedia menjadi algojo pembunuhan yang didalangi sang majikan lantaran kepepet uang. “Saya sebenarnya menolak, tapi bagaimana lagi, saya diminta terus menerus, sementara saya berhutang budi karena beberapa kali pinjam uang pada bos saya itu,” tutur BDN yang di tempat kerjanya bertugas sebagai tukang bongkar pasang terop di perusahaan penyewaan terop milik HR dan Wigati.

Bapak satu anak yang tinggal sedesa dengan majikannya itu mengaku, sebagai upah dari aksi pembunuhan itu ia dijanjikan akan mendapat imbalan Rp 15 juta. Sebagai uang muka, ia sudah mendapat uang Rp Rp 5 juta. Sisanya, belum diberikan tapi sudah keburu tertangkap polisi.

Seperti yang sudah direncanakan, pada saat eksekusi, BDN mengaku dikontak HR. Diantar SYN menggunakan motor, kemudian membuntuti motor HR yang membonceng Wiogati dan Rangga dari kejauhan, ketika mereka mulai melintas jalan yang berada di antara persawahan. Setelah HR memberi klakson dan memainkan lampu sebagai pertanda eksekusi harus segera dilakukan, ia lalu pura-pura memepet motor HR. Iajuga berupra-pura seolah-olah mau menodong hingga motor yang ditumpangi HR terjatuh di tepi parit. “Saat jatuh itulah Mbak Wigati saya hajar pakai kapak belasan kali di sekujur tubuhnya,” cerita BDN polos. Setelah diperkirakan Wigati sudah tidak bernyawa, ia pergi meninggalkan tubuh Wigati dan Rangga yang teriak-teriak minta tolong.

Sementara dari hasil pemeriksaan polisi, ketiga tersangka dijerat dengan pasal yang sama yakni pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Sedangkan HR ditambah lagi dengan UU KDRT. “Tidak ada keraguan bagi kami untuk menerapkan pasal tersebut, sebab hasil pemeriksaan penyidik mengarah ke sana semua,” kata Kasubah Humas Polres Madiun I Wayan Murtika, Selasa (10/1).

 Gandhi Wasono M

Dilihat : 5377 orang
  • Rating :
  • 4/5 (1 votes)
blog comments powered by Disqus