Membership
Lupa password?
Peristiwa

Istri Co-Pilot Adam Air, ”Itu Benar Suara Mas Yoga”
Senin, 11 Agustus 2008
katyy-dolly_resize

Foto: Fadolli Barbathuly/Nova

Beredarnya rekaman yang diduga berasal dari blackbox pesawat AdamAir (AA) yang jatuh di perairan Majene 1 Januari 2007 lalu, seakan mengupas kembali luka keluarga korban. Tapi di sisi lain, Ketthy Mariesta (32), istri co-pilot (alm) Yoga Susanto, justru merasa lega dan bahagia.
Ketika 25 Maret 2008 lalu KNKT merilis penyebab kecelakaan AA karena indikasi human error, aku tak terkejut. Sudah kuduga, pasti akan seperti itu hasilnya. Nah, pekan lalu, ketika tiba-tiba tersiar rekaman yang diduga merupakan pembicaraan dari blackbox, itu sungguh di luar dugaanku. Awalnya aku ditelepon beberapa teman agar menyalakan televisi. Mulanya aku menolak. Aku tak mau lihat. Tidak berani! Namun keesokan harinya aku didatangi wartawan televisi. Dia membawa CD rekaman suara itu lalu memutarnya. Ya Allah, ternyata benar, itu suara Mas Yoga.
Untuk meyakinkan diri, aku minta wartawan itu mengulangnya sekali lagi. Memang ada beberapa bagian yang tidak terdengar jelas. Juga ada suara gemuruh. Tetapi suara takbir "Allahu Akbar" yang pertama kali, itu jelas suara suamiku. Aku, kan, istrinya yang biasa diimami setiap kami salat berjamaah. Aku hafal betul tekanan setiap kalimat yang diucapkan, terutama saat bertakbir. Ibu dan Bapak juga membenarkan, itu suara Mas Yoga. Begitu pula mertuaku di Magelang.
"PAPA BANGET!"
Sekarang orang pasti bertanya-tanya, apa reaksiku setelah mendengar rekaman itu. Terus terang, saat itu perutku mendadak mual. Mungkin asam lambung naik karena stres. Setelah minum obat, barulah aku merasa sedikit tenang. Yang pasti, aku benar-benar lega karena menjelang ajal menjemputnya, Mas Yoga sempat menyebut nama Allah. Aku tidak peduli seperti apa cara kematian suamiku, yang terpenting ia pergi di jalan Tuhan. Bapak mertuaku juga sepakat denganku.
Selain takbir, suara "Captain..captain..captain..." itu juga kuyakini sebagai suara Mas Yoga. Bukan cuma aku yang yakin. Istri Pak Refri Agustian Widodo (pilot AA), Hj Zulfia, juga membenarkan sebagian suara suaminya. Anak-anak Pak Refri bahkan sampai stres setelah mendengar percakapan itu. Mereka bilang, "Ma, ini Papa banget. Ini Papa banget!" Jadi, kami tak peduli jika rekaman itu dikatakan palsu atau rekayasa.
Kebetulan pula, aku masih menyimpan rekaman suara Mas Yoga dalam bentuk MMC card. Nah, suara itu yang aku mintakan bantuan kepada Pak Roy Suryo untuk dicocokkan. Aku sempat kecewa ketika di sebuah stasiun televisi, ada dari pihak KNKT mengatakan aku keberatan dimintai contoh suara Mas Yoga. Padahal, aku tak pernah dimintai, begitu juga dengan Bu Refri. Tapi, ya, sudahlah, tak usahlah masalah ini dibesar-besarkan.
Yang jelas, memang tak bisa dipungkiri, rasa duka kembali terkuak kala mendengar rekaman pembicaraan Mas Yoga. Tetapi itu hanya sesaat. Pasti ada hikmah di balik semua itu. Aku yakin Allah akan memberi sesuatu yang lebih baik.
DARI KANTORAN KE WARUNG
Kalau boleh bercerita lebih panjang, suamiku sebenarnya baru setahun bekerja di AdamAir. Sebelumnya dia adalah prajurit AURI yang membawa pesawat tempur. Setelah Mas Yoga pindah ke AA, aku keluar dari Merpati. Juli 2006 kami pindah dari Makasar ke Jakarta. Siapa sangka, baru enam bulan di Jakarta, pesawat yang dibawa Mas Yoga mengalami kecelakaan.
Sejak kepergian Mas Yoga, aku harus berperan ganda. Sebagai ibu sekaligus ayah bagi dua putri kami, Kega Amalania Salsabil (8,5) dan Evana Citya Hasanatulfi'al (5). Aku sempat bekerja sebagai sekretaris di AA sejak April 2007. Sayang, April 2008 AA dinyatakan pailit.
Sekarang aku sedang membutuhkan pekerjaan. Warung dan kantin kecil-kecilan di rumah yang semula kujadikan usaha sampingan, kini justru jadi mata pencarian utama. Rasanya aneh, aku yang terbiasa kerja kantoran, kini harus diam di rumah. Kalau pun terpaksa ke luar hanya karena mengantar anak-anak sekolah atau ke toko buku.
Menikah lagi? Entahlah. Belum terpikirkan dengan serius meski mertuaku berulang kali menyarankan hal itu. Aku bilang pada beliau, bila punya calon yang seiman dan mau menerimaku dengan anak-anak, silakan bawa padaku. Aku ikut apa kehendak Allah saja.
BAJU KOTOR PENGOBAT RINDU
Satu hal yang membuatku prihatin, putri sulungku sepertinya mengalami trauma. Pernah, tiba-tiba dia minta diizinkan menangis karena takut aku tiba-tiba meninggalkannya, seperti ayahnya meninggalkan dia. Ah, kasihan dia. Di usia semuda itu, sudah harus kehilangan orang yang dicintainya. Tapi inilah kenyataan hidup yang harus kami hadapi. Sepahit apa pun!
Tentang almarhum Mas Yoga, semua kenangan manis kami selama bersamanya, akan terus tertanam di hati. Ia akan selalu ada dalam sanubariku dan anak-anakku. Bahkan aku masih menyimpan satu tas baju kotor Mas Yoga sepulang bertugas beberapa hari sebelum kecelakaan.
Ceritanya, sebelum musibah itu, kami merayakan Idul Adha di Magelang. Mas Yoga lalu kembali ke Jakarta karena harus membawa pesawat dari Surabaya dengan tujuan Manado. Saat itu kunci rumah dibawa Mas Yoga. Ia berjanji sepulang dari Manado akan menjemput kami di Magelang, lalu ke Jakarta naik mobil bersama-sama lagi.
Tapi itu cuma rencana karena Tuhan berkehendak lain. Terjadilah kecelakaan itu. Ketika aku dan anak-anak kembali ke Jakarta, pintu rumah pun harus didobrak karena tak ada kunci cadangan. Aku menangis sekeras-kerasnya. Aku ciumi satu tas baju-baju kotor Mas Yoga yang belum sempat dicuci dengan sejuta perasaan yang tak menentu. Saat itu, aku seperti tak ingin menghadapi kenyataan bahwa suamiku tercinta sudah meninggalkan kami.
Baju-baju kotor itulah yang sampai saat ini masih aku simpan sebagai pengobat rindu. Kini aku dan anak-anak hanya bisa mengenang Mas Yoga sebagai suami dan ayah yang penyayang, sabar, dan penuh disiplin. Sudahlah. Sekarang kami sudah tenang. Terutama setelah mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan Mas Yoga sebelum ajal menjemputnya. Aku dan anak-anak yakin, Mas Yoga sudah tenang dan bahagia dia sisi-Nya.

RINI SULISTYATI

Views : 4384

blog comments powered by Disqus