Membership
Lupa password?
Peristiwa

Obrolan Santai Dengan Istri Cawapres
Herawati Boediono: "Surat Cinta Pak Boed Masih Saya Simpan!" (2)
Selasa, 09 Juni 2009
obrolan 3.ok

Sambutan meriah dari massa mejelang detik-detik deklarasi Boediono sebagai cawapres.

Seperti apa Boediono sesungguhnya terhadap keluarga dan mengapa Herawati memilih sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga? Berikut penuturannya saat berbincang dengan Tabloid Nova.

Apa yang membuat jatuh cinta pada Pak Boed?
Orangnya tenang sejak kecil. Enggak banyak omong. Sifatnya baik. Dia sangat memperhatikan kehidupan keluarganya. Sejak SMA, dia rajin membantu ibunya buka-tutup toko. Waktu itu, ibunya Pak Boed jualan baju, kain batik, sarung. Saya perhatikan, laki-laki, kok, mau-maunya buka-tutup toko. Padahal, biasanya anak laki-laki, kan, sulit disuruh seperti itu.

Lalu, faktor apa yang bikin pak Boed jatuh hati?
Enggak tahu. Mungkin cerewetnya saya ini, ha ha. Kami menikah tahun 1969. Saya biasanya yang mencairkan suasana. Kalau Bapak sehari diam saja, sering saya goda supaya senyum.
(Herawati yang sejak kecil dipanggil Herti oleh orangtuanya, adalah anak ke-4 dari lima bersaudara. Ayahnya, (alm) Imam Suwignyo, Kepala Pekerjaan Umum Kabupaten Blitar dan ibunya guru menjahit di Sekolah Kejuruan Pertama, Blitar. Saudara kandung Hera semua pensiunan PNS. )

Gaji Pak Boed sebagai Direktur BI, kan, besar. Kok, hidupnya tampak sederhana? Terbawa juga dalam urusan rumah tangga?
Karena sejak kecil dia memang bersahaja. Jadi, kalau disuruh yang aneh-aneh, ya, susah. Memang kami ada uang tapi dia tidak aneh-aneh. Pertama kali kerja, di Bank of Amerika, Jakarta, semua gajinya diberi ke saya, bruk. Kalau dia mau beli baju, minta uang sama saya. Padahal, saya tak pernah minta seperti itu.

Sampai sekarang juga begitu. Bedanya, sekarang semua uang disimpan di bank. Jadi, kalau saya perlu, ya, ambil seperlunya saja. Dia enggak pernah ngecek pengeluaran saya. Dia sangat percaya pada saya. Jadi, saya harus hati-hati. Tidak boleh boros. Anehnya, dia enggak pernah tanya, uangnya habis atau belum. Saya juga tahu diri. Setiap mau beli barang besar, misalnya mobil atau tanah, minta persetujuan dulu.

Sering dihujani hadiah? Misalnya saat ultah atau ultah

obrolan 4.ok

Menemani suami di sebuah jamuan bersama Menkeu Sri Mulyani.

perkawinan?
Enggak! Hadiahnya disuruh beli sendiri, wong uangnya ada di saya, ha ha ha. Tiap kali saya ulang tahun, dia memang selalu ingat. Paling kasih ucapan selamat, sebab hari ulang tahun adalah hari biasa. Jadi, hadiahnya cukup ciuman, lalu makan di luar bersama anak-anak dan cucu-cucu. Saya juga begitu kalau dia ultah.

Di luar ultah, hadiah kecil-kecilan biasanya diberikan kalau dia pulang dari luar kota. Itu pun kalau sempat membelikan. Kadang saya dibelikan baju, tas, atau perhiasan. Tapi bukan emas, lho.

Hobi Ibu?
Saya suka membaca dan menjahit. Ini, celana panjang yang saya pakai, hasil jahitan sendiri. Saya pernah belajar menjahit tapi tidak selesai. Kadang baju saya dijahit oleh penjahit di Meruya. Namanya Ibu Sugiarto. Saya tidak pernah pakai desainer ternama.

Sengaja memilih jadi ibu rumah tangga sepenuhnya?
Waktu saya kuliah, terjadi peristiwa G30S/PKI. Saya kasihan sama ibu yang kirim uang terus tapi enggak ada perkuliahan di kampus. Lalu saya coba cari kerja dan dapat di BRI Blitar. Sejak itu, saya kerja. Tahun 1969 menikah dengan Pak Boed dan sejak itu waktu sepenuhnya buat mengurus suami dan anak.

Bagaimana soal gaya mendidik anak-anak?
Mengalir begitu saja. Titik beratnya, kalau dari saya, soal sopan santun. Kalau Pak Boed, masalah disiplin. Dulu, waktu anak-anak masih kecil, dia suka menunggui belajar atau bikin PR. Anak-anak sampai sekarang juga hidup sederhana. Mereka melihat orangtuanya begitu, ya, langsung mencontoh saja. Bapak tidak pernah marah, apalagi sama anak-anaknya. Sekarang keduanya sudah berumah tangga. Yang sulung tinggal di Singapura, yang kecil di Jakarta Selatan. Cucu kami sudah lima, lho.

obrolan 5.ok

Berkumpul bersama keluarga adalah saat yang ditunggu Boediono.

Pak Boed suka main bersama cucu-cucu?
Biar sibuk, pulang kantor capek, ya, tetap main sama cucu-cucu. Malah dapat kesegaran baru. Dia paling suka melihat cucu-cucunya. Sampai sekarang pun, kalau cucunya datang, diajak main. Kadang main kuda-kudaan. Cucunya naik di punggung dia, lalu Pak Boed jalan merangkak. Saking cintanya sama cucu, dia sering beli mainan.

Dulu, waktu anak pertama kami mau melahirkan di Singapura, Pak Boed ambil cuti dan enggak sabar ingin lihat cucu pertamanya. Dari bandara, kami langsung ke rumah sakit. Makanya, kalau ada tugas di Singapura, dia lebih suka tidur di rumah anak kami ketimbang di hotel. Selain hemat uang negara, juga bisa ketemu cucu-cucunya.

Kegiatan Pak Boed setelah bangun tidur?
Ya, salat. Beribadah. Lalu olah raga, mandi di kantor, langsung kerja. Pak Boed memilih sendiri pakaian kantornya. Saya cuma mengamati saja. Kalau misalnya celana panjangnya tidak pas dengan kaos kakinya, ya, saya serasikan.

Sejujurnya, Pak Boed terlihat bahagia tinggal di mana? Kayaknya di Yogya. Saya lihat, di pagi hari dia suka membaca sembari berjemur matahari, setelah itu masuk ke rumah. Di Jakarta, mana mungkin bisa dilakukan.

Semasa di Yogya, dia sembari tidur mendengarkan siaran wayang di radio atau dengar musik, main gitar.

Seberapa dekat mengenal Bu Ani?
Secara pribadi, belum kenal dekat. Saya mengenalnya karena dulu jadi istri menteri, sementara Bu Ani istri Presiden. Setelah deklarasi pun, belum pernah telepon-teleponan. Pilpresnya, kan, belum.
Rini Sulistyati

Views : 2196

blog comments powered by Disqus