Membership
Lupa password?
Peristiwa

Mengajak Cinta Pada Benda Cagar Budaya
Fungsi Baru Bangunan Bersejarah di Semarang & Jogja (1)
Senin, 20 Februari 2012
Lawang Sewu

Foto: Henry Ismono/Nova

Kedua bangunan bersejarah, Lawang Sewu dan Benteng Vredeburg, merupakan peninggalan Belanda yang sarat nilai. Dengan fungsi baru, keduanya menjadi tempat nyaman bagi masyarakat untuk berkunjung. Sekaligus mendidik masyarakat mencintai benda-benda cagar budaya.

Lawang Sewu DARI TEMPAT SERAM MENJADI PUSAT GALERI KARYA

Sekian lama gedung Lawang Sewu di Semarang terbengkalai. Bangunan bernilai sejarah itu, bahkan identik dengan aroma mistis yang dipercaya masyarakat menyimpan keangkeran. Namun, sekarang Lawang Sewu sudah cantik. Sisa-sisa keangkeran tidak tampak lagi. Lawang Sewu disulap menjadi ruang pajang yang memamerkan kekayaan budaya.

Wajah cantik Lawang Sewu bermula tahun 2009. Kala itu, direktur utama PT Kereta Api Ignasius Jonan, menggoreskan kebijakan tentang pentingnya pelestarian peninggalan perkeretaapian. “Semua yang menyangkut industri kereta api merupakan warisan dari zaman Belanda. Keberadaan industri kereta api harus disegarkan. Nah, dirut PT KAI membentuk unit khusus untuk pelestarian, baik konservasi bangunan, trek, lingkungan kereta api, dan benda bersejarah,” ujar Ella Ubaidi, Kepala Pusat Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah PT KAI.

Ella Ubaidi

"Kami akan memaksimalkan Lawang Sewu menjadi showroom yang memperkenalkan aneka kekayaan bangsa," tutur Ella Ubaidi. (Foto: Henry Ismono)

Sejarah Kejayaan

Bertitik tolak dari pandangan inilah, PT KAI merenovasi Lawang Sewu. Apalagi, Lawang Sewu memiliki riwayat sejarah kejayaan kereta api. “Lawang Sewu adalah kantor KA yang dibangun oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Tahun 1886, kompleks ini dikuasai perusahaan KA yang kaya raya. Awalnya mereka membangun kantor administrasi. Tahun 1902-1903, karena kantor mereka di stasiun Semarang sudah enggak cukup, maka dibangun di lokasi ini.”

Menurut Ella, sebelum dipugar kembali, Lawang Sewu kondisinya sudah sangat parah.Pintu dan jendela sudah banyak yang hilang. Sebagian besar kaca patri berantakan. Plafon banyak yang jebol serta dinding yang sangat kusam. “Kami mendata kerusakannya sekaigus mempelajari cara penyelesaiannya. Mei 2009, mulailah proses renovasi berjalan,” jelas Ella.

PT KAI menjalin kerja sama dengan pemerintah Belanda. “Mereka membantu data dan tenaga ahli. Semua literatur dan data tentang Lawang Sewu masih tersimpan rapi di Belanda. Dari sana kami mengetahui bentuk aslinya. Nah, kami pun membuat replikanya. Tentu saja, yang namanya kopian tidak sama dengan wujud aslinya. Tapi, setidaknya mendekati wajah asli.”

Akhirnya, Mei 2011 gedung Lawang Sewu menjadi cantik dan memikat. Kini, Lawang Sewu memiliki fungsi baru. “Kami menjadikannya gerai pamer industri dan kreatif yang mewakili daerah seluruh Indonesia. Ada kios dengan beragam kegiatan. Bukan sekadar toko seperti di mal, lho. Tapi, memajang beragam industri kreatif anak-anak bangsa. Selain show room, juga ada kios-kios kuliner. Kami didukung oleh Dekranas,” papar Ella yang berencana membuat kegiatan sepanjang tahun 2012.

Sebagai uji coba, 5-10 Juli lalu PA KAI bekerja sama dengan Dekranas dan Pemprov Jateng mengadakan acara pameran Kriya Unggulan Nusantara selama lima hari. Pameran yang dihadiri Bu Ani Yudhoyono ini menampilkan aneka produk kreatif dari seluruh Nusantara. Mulai dari busana sampai keris dan angklung. Pengunjung membludak menghadiri acara ini. “Wah, masyarakat sangat antusias. Tentu saja kami sangat senang dan optimis program yang kami laksanakan sukses.”

Yang lebih membanggakan, Lawang Sewu sudah ramai dikunjungi wisatawan, baik dari Semarang maupun luar kota. Lawang Sewu pun sudah tidak tampak angker lagi.

Museum Vredeburg

Foto: Henry Ismono/Nova

Museum Benteng Vredeburg MENDEKATKAN MUSEUM DENGAN MASYARAKAT

Di Yogyakarta, Beteng Vredenburg menjadi salah satu museum yang ramai dikunjungi wisatawan. Bahkan, menjadi salah satu tempat wisata favorit. Masyarakat sudah begitu akrab dengannya. Padahal, sebelumnya Beteng Vredenburg untuk fungsi militer. “Ketika dibangun 1756, bentuknya masih sangat sederhana,” ujar Agus Sulistya (40), penanggung jawab pengkajian dan dokumentasi.

Pembangunan beteng merupakan wujud kekhawatiran Belanda melihat perkembangan kraton yang begitu hebat. Masa itu, Nicholas Harting, direktur Pantai Utara Jawa, meminta Sultan HB I membangun beteng dengan dalih menjaga keamanan kraton dan sekitarnya. “Tempat ini sekaligus untuk mengontrol kraton. Bila dilihat dari posisinya, kan, hanya satu jarak tembak meriam. Fungsi strategis benteng ini adalah untuk mengawasi kraton.”

Mulai dibangun 1756, benteng selesai 1760. “Awalnya temboknya hanya dari tanah yang diperkuat tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren. Keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan. Pada masa Gubernur Van Ossenberg, beteng dibuat lebih permanen mulai 1767 dan baru selesai tahun 1787. Setelah jadi dinamakan Benteng Rustenburg yang berarti beteng peristirahatan.”

Menurut Agus, ada teori yang mengungkapkan perubahan nama Rustenburg menjadi Beteng Vredenburg. “Perubahan nama ini terjadi setelah Jogja mengalami musibah gempa bumi tahun 1867. Vredenburg artinya beteng perdamaian, untuk mengindikasi bahwa setelah terjadi Perang Diponegoro, tidak pernah terjadi perang lagi. Ini manifestasi perdamaian,” kata Agus.

Zaman berganti, ketika Indonesia merdeka, terjadi pemilikan aset termasuk beteng. “Setelah merdeka, beteng diserahkan kepada TNI. Ide menjadikan beteng untuk tempat nguri-nguri kabudayaan terjadi tahun 1976 setelah diadakan studi kelayakan dari UGM. Hasil studi ditindaklanjuti dengan pemugaran. Dalam perkembangannya, karena nilai yang ada dalam beteng, mulai tahun 81 ada perhatian dari Menteri P dan K. Beteng ditetapkan menjadi benda cagar budaya. Dari situ pemanfaatan beteng dikhususkan menjadi museum.”

Agus

Agus dan kawan-kawannya berusaha terus-menerus mendekatkan museum dengan masyarakat luas. (Foto: Henry Ismono/Nova)

Rangkul Tukang Becak

Selanjutnya, beteng dipugar tanpa mengubah faset. “Proses awal dibuat diorama yang menggambarkan peristiwa yang ada di Jogja tapi berdampak nasional. Misalnya diorama tentang Diponegoro. Ada 55 diorama mulai dari zaman sebelum sampai sesudah kemerdekaan.

Untuk melengkapi museum, ditampilkan berbagai koleksi yang disebut koleksi realita. “Merupakan koleksi yang berupa benda material yang benar-benar nyata, bukan tiruan. Benda ini berperan langsung dalam proses terjadinya peristiwa bersejarah. Antara lain peralatan rumah tangga, senjata, naskah, pakaian, dan lain-lain.”

Tahun 1987, museum dibuka untuk umum dan sejak November 1992 secara resmi menjadi museum khusus perjuangan nasional dengan nama Museum Beteng Vredenburg. Menempati areal tanah seluas 22.480 meter pesegi dengan luas bangunan 8.483 meter pesegi, museum diupayakan menjadi tempat yang disukai masyarakat. “Kami melakukan sejumlah program untuk mengenalkan museum kepada masyarakat,” tutur Agus.

Bekerja sama dengan Dinas Pariwisata, “Kami melakukan serangkaian promosi ke pelaku industri pariwisata. Mulai dari hotel sampai restoran. Kami juga mengadakan program memperkenalkan museum kepada anak-anak sekolah dengan nama museum masuk sekolah. Kegiatannya bermacam-macam seperti lomba, ceramah, pameran, dan sebagainya.”

Yang menarik, pihak museum juga merangkul tukang becak dan sopir taksi sebagai salah satu ujung tombak promosi. “Mereka, kan, berhadapan langsung dengan wisatawatan. Nah, mereka bisa cerita kepada penumpangnya tentang keberadaan museum.”

Tak seperti kondisi museum pada umumnya, Benteng Vredenburg sanggup menarik wisatawan untuk berkunjung. Dari tahun ke tahun, pengunjung terus meningkat. Apalagi, museum juga dilengkapi area hotspot yang memungkinkan siapa pun bisa bersantai berselancar di dunia maya sambil menikmati keindahan museum. Yang tak kalah penting, perubahan fungsi bangunan bersejarah itu bisa mendekatkannya dengan masyarakat.

Henry Ismono /bersambung


blog comments powered by Disqus