Membership
Lupa password?
Peristiwa

Dokter Pioneer Water Birth Dilaporkan ke Polisi Atas Dugaan Malpraktik
Jumat, 11 Oktober 2013
Martini foto laili

Martini (Foto: Laili)

Hati ibu mana yang tak sedih ketika buah hati yang dinanti selama 9 bulan mengandung terlahir dalam kondisi meninggal dunia. Peristiwa ini menjadi lembar hitam yang diingat selalu oleh Martini Nazif (35), seorang ibu yang harus kehilangan putri pertama saat dilahirkan.

"Waktu melahirkan, tidak ada firasat apa-apa. Makanya waktu meninggal dunia saya syok," ungkap Martini mengenang kejadian 8 November 2011 silam.

Kondisi ini sungguh tak disangka Martini karena dirinya merasa sudah memilih dokter yang tepat. Dokter yang sama menangani sang kakak, Rita Novela (49) ketika melahirkan keponakannya.

"Kakak sudah pernah melahirkan dibantu dokter ini (TOS), namun ketika itu kakak lahiran secara sesar (operasi sesar). Makanya saya maunya sesar juga," ungkap Martini kepada tabloidnova.com di depan SPKT Polda Metro Jaya, Jumat (11/10).

Sayangnya, setelah sekian waktu berkonsultasi, dokter TOS yang menjadi dokter kandungannya saat itu, menyarankan agar dirinya melahirkan secara Water Birth. Alasannya, putri Martini memiliki berat badan terlalu mungil. "Waktu diperiksa USG 4 dimensi saat hamil 7 bulanan dikatakan beratnya 2,6 kilogram. Saat akan dilahirkan sempat di USG lagi dikatakan beratnya 2,9 kilogram. Dokter bilang, kalau melahirkan waterbirth tidak sakit dan lebih baik ketimbang operasi," kenangnya.

Namun secara mengejutkan, bayi yang sedianya diberi nama Mayumi Rose Dees, ternyata dilahirkan dengan berat 3,45 kilogram. Bukan itu saja, proses persalinan yang dijalani Martini berlangsung cukup lama dan penuh kendala teknis. "Saya masuk tanggal 5 November 2011 sekitar jam 09.30 WIB sudah pembukaan penuh, tapi baru pukul 14.15 WIB bayi saya terlahir," ujar Martini berkeluh kesah.

Tak hanya proses yang lama, dokter TOS juga terkesan tak serius menangani dirinya. Mulai saat persalinan sibuk dengan Handphone miliknya sampai menangani lebih dari satu pasien Waterbirth dalam satu waktu. Bahkan perawat juga orang non medis sempat keluar masuk ruang bersalin memindah dan mengembalikan alat penghangat untuk melahirkan waterbirth.

"Belum lagi. Saya juga mendapat 8 kali induksi padahal seharusnya maksimal 3 kali induksi kalau tidak ada perubahan di sesar. Induksi ini saya dapat sejak tanggal 5 November 2011 saya masuk sampai tanggal 8 November 2011 karena pembukaan tidak juga bertambah," papar Martini.

Akibat pemberian induksi yang menyertakan obat penghilang nyeri, diduga mengakibatkan bayi mengalami hipoksia sehingga kekurangan suplai oksigen. Dan saat dilahirkan, bayi Martini sudah meninggal dunia kendati dirinya tak menyadari secara langsung.

Laili


blog comments powered by Disqus