Membership
Lupa password?
Peristiwa

Derita Ayah Kehilangan putri & Istri ”Kini Saya Sebatang Kara…” (1)
Kamis, 11 April 2013
wardi

Belum kering air mata saya kehilangan putri satu-satunya, istri saya tak lama menyusul meninggalkan saya, ucap Wardi lirih. Foto: Debbi (NOVA)

Sungguh malang nasib Mawardi. Pria yang tak bisa melihat asal Aceh ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Baru saja kehilangan putri tunggalnya yang masih duduk di bangku SD, tak lama berselang sang istri menyusul meninggalkannya. Kini hanya kesedihan yang mewarnai hari-hari pria yang biasa disapa Wardi ini.

Suasana rumah Wardi (40), Rabu (3/4) masih terasa penuh duka. Tenda dan kursi-kursi di depan rumah pria buta ini masih tampak berjejer. Pria yang memiliki satu-satunya anak perempuan ini semula kerap diantar sang putri yang setia memandunya ke mana pun ia pergi.

“Anak saya, Diana (6) selalu siap menuruti perintah saya. Dia selalu memegang tangan saya tiap kali saya hendak beranjak ke tempat lain, entah kamar mandi, meja makan, atau ke masjid dan tempat lain. Tapi kini dia sudah pergi meninggalkan saya. Perih sekali hati ini jika mengingat Diana,” tutur Wardi dengan suara tercekat.

Wardi sehari-harinya bekerja menjaga kios miliknya di depan rumah. Kendati kedua matanya buta, namun warga di kampungnya begitu sayang kepada keluarga ini. Namun belum kering rasanya air mata Wardi, Senin (1/4) lalu, sang istri Agus Mawar (27) menyusul pergi meninggalkannya.

“Rasanya makin hancur hati ini. Dua orang yang saya kasihi pergi meninggalkan saya dalam waktu nyaris bersamaan. Sakitnya tak terkatakan,” ucap Wardi dengan mata berkaca-kaca. Sambil menerawang, Wardi berkata, “Saya tak mau lagi menceritakan peristiwa itu. Saya tak mau teringat-ingat terus pada orang-orang yang saya cintai,” ucap Wardi sambil menahan tangisnya yang mulai pecah.

Informasi dari Internet

Pekan lalu, warga Desa Lorong V, Desa Peulanggahan, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh langsung gempar karena ada tiga peristiwa tragis terjadi dalam satu waktu. Putri tunggal Wardi, Mardiana atau Diana, diperkosa pamannya HL (17) dan temannya, Amd (30). Bocah malang itu kemudian dengan sadis dibunuh dan jenazahnya ditemukan tak jauh dari rumahnya, Rabu malam (27/3).

Tragisnya lagi, sang ibu, Agus Mawar, yang baru pulang dirawat dari rumah sakit akibat menderita penyakit TBC dan komplikasi, setelah mengetahui peristiwa yang menimpa putrinya, langsung syok dan histeris. Akibat tak kuasa menahan penderitan, Agus pun mengembuskan napasnya menyusul putri tunggalnya sepekan kemudian, Senin (1/4).

“Warga kampung ini sebenarnya sudah ingin menghabisi HL dan temannya itu. Tapi karena ada sebagian warga melarang, kami akhirnya membawa kedua orang itu ke Polsek Kutaraja,” tutur Keucik (kepala desa) Desa Peulanggahan, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh, Husaini (40).

Menurut Husaini, seminggu sebelum Diana ditemukan tewas di rawa-rawa tak jauh dari desa, Wardi sempat panik dan memberi tahu warga desa bahwa putrinya menghilang tak kunjung pulang. “Wardi bilang, sore itu Diana sempat disuruhnya mandi dan makan sekenyang-kenyangnya. Lalu diminta pakai baju yang cantik. Kemudian diajaknya pergi oleh HL, entah ke mana. Wardi hanya diberitahu HL, Diana terlepas dari tangannya setelah 20 menit pergi. Mungkin Diana tersesat di Taman Sari,” papar Husaini menirukan ucapan Wardi.

Malamnya, warga langsung mencari keberadaan bocah cilik yang dikenal baik dan periang itu ke seluruh sudut desa. Satu, dua, tiga hari, pencarian berakhir nihil. Namun, ”Di hari ke empat mulai ada pencerahan. Seorang warga memberi info soal Amd yang sempat berkasus di Lhokseumawe pada 2004 lalu. Warga tahu itu dari internet.”

Sebelum bencana tsunami menerjang Aceh tahun 2004 itu, lanjut Husaini, “Amd pernah dilaporkan memperkosa lalu membunuh bocah 5 tahun bernama Sri wahyuni dengan cara menjerat leher bocah itu dengan tali. Namun karena tak lama tsunami datang, berita itu jadi tak terekspos.”

Berbekal infromasi itu, Husaini langsung lapor polisi dan menjelaskan kepada Kapolsek Kutaraja, Amd adalah salah satu pria yang membawa Diana bersama HL sore itu. “Dulu, Amd dikeluarkan dari penjara dengan pembebasan bersyarat.”

Tak lama, HL dan Amd pun diringkus polisi di rumah Wardi. Setelah diperiksa, kedua pemuda itu mengaku sebagai pelakunya. Rabu (27/3), jasad Diana akhirnya ditemukan di rawa-rawa tak jauh dari rumahnya. Diana ditemukan dengan kondisi cukup mengenaskan. Kepalanya terpisah dari badan, kakinya patah, dan sudah tak mengenahkan celana dalam.

rekonstruksi ulang

kamis (4/4) lalu ketika Polresta Banda Aceh melakukan rekonstruksi ulang peristiwa pembunuhan yang menewaskan Diana (6) di Desa Lorong V, Desa Peulanggahan Banda Aceh. Foto: Debbi (NOVA)

Pelaku Jangan Dibebaskan

“Orangtua mana yang tak mengutuk perbuatan itu. Sehari-harinya Diana menjadi tumpuan hidup saya. Oleh karena ibunya sakit selama beberapa tahun ini, anak saya yang masih kelas 1 SD itulah yang jadi satu-satunya kebanggaan saya. Tak pernah terbersit di pikiran saya harus berpisah dengannya lewat cara seperti ini,” tutur Wardi yang mengalami buta pada kedua kelopak matanya sejak 2002.

”Saya tak tahu kenapa mata saya jadi buta. Sebelumnya, saya sempat demam dan muntah-muntah,” paparnya. Namun, menurut Wardi, ia kemungkinan menderita glaukoma hingga akhirnya mengalami kebutaan.

“Itu terjadi, setelah tiga tahun saya kerja di Meulaboh sebagai PNS Pemda, sebagai ajudan bupati. Tahun 1994, selulus dari SMEAN 1 Aceh, saya sempat kerja serabutan, mulai dari tenaga foto kopi sampai kerja bangunan.” Karena mengalami kebutaan, Wardi memutuskan pensiun dini dari pekerjaan dan kembali tinggal di Banda Aceh.

Pria berkulit hitam ini pun pernah mencoba mengobati matanya ke berbagai tempat. Di sejumlah rumah sakit hingga orang pintar. Namun butanya tak kunjung sembuh. Hingga tahun 2004 saat tsunami melanda Aceh, 12 orang keluarga Wardi meninggal tersapu air dan hanya ia seorang yang selamat.

“Dengan kondisi mata tak bisa melihat, siapa yang mau menolong saya? Semua sibuk menyelematkan diri. Syukurlah saya mendengar suara tangisan bayi. Pelan-pelan saya ikuti suara tangisan itu di tengah gelombang air bah. Akhirnya saya selamat,” kenang Wardi.

Pada tahun 2006, ia menikah dengan seorang gadis asal Meulaboh, Agus Mawar, dan dikaruniai seorang putri, Mardiana. Namun kedua orang yang paling disayangnya itu kini telah tiada. Ia hanya bisa pasrah.

“Tiap hari saya menangis. Rasanya sampai kering air mata ini. Saya serahkan semua cobaan ini kepada Allah. Mungkin semua ini ada hikmahnya. Saya yakin ini kehendak Allah. Tapi saya ingin pelakunya dihukum berat. Cukup anak saya saja yang mengalami musibah ini. Jangan ada lagi anak-anak lain jadi korban. Saya takut jika pelaku dibebaskan dan kembali berkeliaraan, akan melakukan hal yang sama kepada anak-anak tak bedosa.”

“Untuk memberi pelajaran bagi pelaku pemerkosaan dan pembunuhan seperti HL dan Amd, sebaiknya keduanya dihukum mati saja. Saya ingin mereka tetap dikawal di persidangan nanti. Sebagai keucik di desa ini saya berharap, ada dermawan yang mau memberi bantuan untuk Wardi. Kasihan, selain hidup miskin dia juga kini sebatang kara,” ucap Husaini.

 Debbi Safinaz

Views : 985

blog comments powered by Disqus