Membership
Lupa password?
Peristiwa

Dahlan Iskan di Mata Nafsiah: Dia Memang Spontan dan Gila Kerja (1)
Rabu, 25 April 2012
Nafsiah

Foto: Moonstar Simanjuntak/Nova

Membuka palang pintu tol, naik kereta, dan menginap di rumah susun, hanyalah sebagian dari aksi ‘koboi’ Dahlan Iskan setelah menjabat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Bapak sejak dulu memang spontan seperti itu,” ujar sang istri, Nafsiah Sabri Dahlan (58). Saat Dahlan ditunjuk sebagai Direktur Perusahaan Listrik Negara (PLN), Nafsiah protes dan marah. Ketika diangkat sebagai menteri, “Saya dan anak-anak menangis sedih plus protes.” Berikut obrolan dengan perempuan Samarinda yang telah 37 tahun mendampingi Dahlan.

Berbagai tindakan “nyeleneh” itu apakah sebuah pencitraan?

Bapak itu orangnya spontan. Tidak bisa diam di belakang meja dan harus melihat langsung. Kalau dalam peribahasa, prinsipnya biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu. Tidak usah kebanyakan mikir. Misalnya, lihat jalanan macet, dia ingin tahu ada apa, lantas turun ke jalan. Pada dasarnya rasa kepeduliannya sangat tinggi. Makanya enggak heran banyak orang terkaget-kaget dan protes karena baru mengenal Bapak sekarang. Padahal di Surabaya, sudah biasa yaang seperti itu. Orang sana sudah tahu dan maklum.

Kami ini besar di koran. Jualan di jalan sudah biasa. Jadi, memang sudah punya mindset kerja, kerja, dan kerja. Lakukan yang terbaik, buang yang buruk, tidak perlu prosedur bertele-tele. Rutinitas rapat, contohnya. Di mana pun jadi, tidak mesti di tempat tertentu dan jam yang baku.

Termasuk juga saat naik ojek, KRL, menginap di rumah warga. Begitulah sidaknya. Daripada kalau direncanakan malah kondisi sebenarnya tidak ketahuan. Dia juga dasarnya orang lapangan dan prinsipnya, kalau pekerjaan bisa selesai hari ini, kenapa menunda esok? Tipikalnya sejak dulu gila kerja. Jadi, saya enggak kaget kalau sampai sekarang pun masih begitu.

Apa ada kaitannya dengan target dalam bursa pilpres 2014 nanti?

Tidak ada pikiran ke sana. Prinsip kerja Bapak, yang penting pemerintah berubah. Meski tidak mudah, memang. Dia pernah bilang, setelah dari PLN ingin pensiun, mengisi hidup menjadi penulis sambil urus cucu. Dulu, kan, tak sempat mengurus anak jadi sekarang saatnya menebus masa itu. Katanya, “Saya mohon maaf dengan perbedaan ini.”

Akibatnya, tidak ada banyak waktu berlibur karena dia doyan kerja. Andai kata semua sudah sesuai, tentu tidak begini lagi.

Bagaimana menanggapi suara sumbang yang bermunculan?

Ya, seperti prinsip kami, kafilah berlalu. Toh, kami tidak mengada-ada, nawaitu (niat) kami, mana yang terbaik kami lakukan, kalau tidak suka, silakan. Bapak itu jenius. Ide dan reaksinya spontan, bukan tipikal manusia yang bisa direncanakan. Jadi, bekerja pun apa adanya, bukan sengaja dibuat-buat.

Katanya, apa pun reaksi di luar sana, dia tetap dengan dirinya. Jika ada yang tidak suka, ya, itu wajar. Tapi inilah salah satu cara dia untuk membuat perubahan positif bagi negara.

Kel Besar Dahlan Iskan

Keluarga besar Dahlan Iskan. Di Keluarga, ia disapa ''Abah'' dan paling suka digelendotin cucu-cucunya. (Foto: Repro, Moonstar Simanjuntak/NOVA)

Apa ada ancaman atas aksi-aksi yang dilakukannya?

Ada tapi kami waspada dan selalu berdoa. Insya Allah, Allah selalu melindungi. Niat kami baik, tidak terlintas untuk minta A, B, C, D, E, F. Kami juga tidak menggunakan fasilitas negara. Makanya waktu dilantik, kami siapkan diri. Jiwa kami pekerja, bukan yang mencari-cari nama atau muka. Kami ingin menyelamatkan negara dari kepincangan-kepincangan. Itu bukan hal gampang.

Saya juga terima cibiran segala macam, tapi saya jalani saja.

Bagaimana awal perkenalan dengan Bapak?

Kami bertemu dalam kegiatan organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia). Berdua, kami sering mengisi program siaran religi RRI di Samarinda. Saya yang baca Al-Qur’an, dia jadi penceramahnya. Intens bertemu, kami merasa cocok, lalu pacaran selama lima tahun. Tahun 1975 kami menikah di Samarinda.

Sebelumnya, dia kuliah di Fakultas Tarbiyah IKIP Sunan Ampel (sekarang IAIN), lalu pindah ke jurusan hukum. Sedangkan saya menjalani pendidikan profesi guru (SPG). Asal tahu saja, dia itu transmigran di Kalimantan, ikut kakaknya merantau dari Surabaya.

Bapak terlahir dari keluarga santri. Masa kecilnya dihabiskan jadi santri di pondok pesantren di Madiun. Tak puas dengan ilmu yang dipelajarinya, dia ikut pendidikan kewartawanan dan terpilih jadi putra daerah meski bukan asli Kalimantan. Setelah itu, tahun 1976 jadi wartawan di Tempo dan bergabung dengan Jawa Pos mulai tahun 1982.

Seperti apa kehidupan kala itu?

Menjadi wartawan adalah pekerjaan yang tak kenal jam. Setelah anak pertama (Azrul Ananda) lahir dan berusia 7 bulan, kami pindah ke Surabaya. Di sana, kesibukannya makin menjadi. Kami juga hidup prihatin karena dia bukan tipe yang suka foya-foya. Tidak ada itu perayaan momen istimewa, semisal ulang tahun anak, pernikahan, dan lainnya.

Kami berdua lantas punya komitmen, suami fokus bekerja sementara istri ada di belakang layar. Saya pegang semua urusan rumah tangga. Begitu pula saat anak kedua (Isna Fitriana) lahir. Saya baru kembali berkegiatan saat anak-anak melanjutkan sekolah di Amerika Serikat.

Bapak, kan, workaholic , bagaimana menjelaskan kepada anak-anak?

Ya, kadang mereka memang rindu ayahnya. Tapi kalau dipikir lagi, semua ini demi masa depan. Saya beri pengertian pada anak-anak lalu beri mereka banyak kegiatan positif. Untung anak-anak mengerti dan berprestasi dengan caranya.

Sebenarnya Bapak tak mau anaknya jadi wartawan. Makanya anak-anak dikirim ke AS supaya sekolah cari ilmu lain. Eh, ternyata di sana bapak angkatnya juga pemilik perusahaan media. Celaka, kan? Sampai akhirnya anak saya enggak mau pulang. Ha ha ha... Sifat kritis dan kemandirian ayahnya juga menurun kepada mereka.

Ade Ryani / bersambung


blog comments powered by Disqus