Membership
Lupa password?
Peristiwa

Cerita 3 Chef Cantik: Memasak Itu Seksi! (1)
Sabtu, 23 April 2011
Rima Melati Adams

Foto: Adrianus Adrianto

Tiga chef wanita ini adalah ikon baru di dunia kuliner Indonesia. Di tangan mereka, memasak tak lagi identik dengan kegiatan ibu-ibu. Mereka mendefinisikan memasak sebagai kegiatan yang seksi.

Rima Melati Adams Obsesi Punya Resto Sendiri

Nama Rima Melati Adams baru dikenal oleh publik Indonesia setelah wanita cantik ini menikah dengan Marcell Siahaan, 28 Januari 2009 lalu. Dari sekian banyak bakat yang dimiliki Rima, memasak adalah salah satunya. Tak heran, Global TV lantas melirik mantan finalis Miss Singapore Universe 2001 ini untuk memandu acara Kitchen Beib.

“Sejak kecil saya sudah masuk dapur untuk membantu Ibu. Ibu memaksa saya bangun pagi untuk masak. Menurut beliau, wanita itu harus bisa masak jika ingin menikah. Karena saya bukan morning person , kegiatan itu sungguh menyiksa bagi saya yang biasa mendapat tugas memotong bahan-bahan untuk dimasak Ibu,” ujarnya berbagi cerita.

Beranjak dewasa, Rima baru menikmati kegiatan berkutat di dapur. Masakan pertamanya adalah nasi goreng cabai hijau. “Abang saya yang ikut mencicipi bilang, masakan saya enak,” cetusnya.

Bila diminta memilih, Rima yang besar di Singapura ini lebih suka memasak masakan Melayu. Menurutnya, masakan Melayu memiliki bumbu yang lebih “menantang” ketimbang kuliner Barat. Apalagi, dalam dirinya mengalir darah Indonesia dari sang ibu. “Nenek dari Ibu saya, kan, berasal dari Cirebon dan kakek dari Padang. Ketika saya berumur 6 tahun, Ibu bercerai dari Ayah yang berdarah Australia. Setelah itu, kami tinggal bersama Ibu. Itu mengapa saya lebih menyukai makanan Melayu dibanding jenis makanan lain,” jelasnya.

Jika banyak orang mengira memasak makanan Melayu lebih susah ketimbang membuat masakan bergaya western , justru menurut Rima tidak. “Kelihatannya saja susah, tapi kalau sudah tahu basic -nya, semua gampang. Masakan Asia itu rahasianya hanya bawang putih, bawang merah dan cabai. Sisanya, tergantung mau masakan apa, itu juga paling hanya ditambahkan sedikit-sedikit bumbu seperti jahe atau kunyit,” paparnya.

Hidangan khas Singapura, Malaysia dan Indonesia juga tak banyak berbeda. “Indonesia makanannya kurang ber-“lemak”, kalau Malaysia dan Singapura lebih banyak variasi. Misalnya, pucuk ubi dimasak lemak,” ujarnya memberi contoh.

Merasa lebih puas mengeksplorasi bumbu sendiri, Rima pun tak tertarik untuk masuk sekolah dan mendapat gelar di bidang kuliner. Baginya, memasak adalah soal jam terbang. “Untuk meningkatkan skill masak, saya banyak membaca buku dan coba-coba. Yang jelas, harus bisa menguasai basic masakan, sisanya tinggal eksplorasi.”

Sejuta Bakat

Selain memasak, pengalaman Rima ternyata banyak dan berbagai bidang. Ibu satu anak ini sempat bekerja sebagai front office sebuah hotel berbintang 5 di Singapura selama 3 tahun. “Saya berhenti karena it takes a long time jika ingin memiliki kedudukan yang tinggi. Apalagi, saya tidak punya diploma. This is not my path, so I go . Dari situ, saya jadi Operation Manager di sebuah club ,” ujarnya.

Rima juga sempat menjadi model. Namun, dunia catwalk ternyata tak juga memuaskan batinnya. “Saya enggak terlalu suka membuat diri saya exist . Saya lebih tomboi, cuek dan santai,” katanya. Lewat agensinya, Rima lantas berkenalan dengan dunia televisi. Ia lalu menjadi penyanyi dan pemain sinetron.

Setelah menikah dengan suami pertamanya, Rima sempat meinggalkan dunia akting sejenak. “Saya bekerja di Singapore Zoo. Tapi hanya bertahan selama 3 hari, ha ha ha...”

Tahun 2008, Rima mulai dekat dengan Marcell. “Dalam sebuah acara, sekitar tahun 2006, saya sempat bertemu dan berkenalan dengan Marcell. Ketika itu, kami masing-masing masih terikat pernikahan,” kisahnya. Tahun 2008, Rima dan Marcell kembali bertemu lewat Facebook. Saat itu, Rima tengah mencari produser yang mau membantunya menelurkan album di Indonesia.

“Awal 2010, saya mendapat tawaran jadi pembawa acara Kitchen Beib di Global TV. Sejak itu, mulailah saya dapat tawaran berbagai sinetron, FTV dan layar lebar. Banyak orang yang belum mengenal saya secara dekat jadi kaget, kok, saya bisa memasak? Ha ha ha...,” lanjutnya.

Padahal, bila menengok blog pribadi Rima, isinya tak jauh-jauh dari soal masakan. “Seru saja, masak dan hasilnya dipotret sendiri,” ujarnya. Cita-citanya saat ini pun tak jauh-jauh dari urusan dapur. “I want to have my own restaurant . Semoga sukses!”

Vindy Lee

Foto: Fadoli Barbathully

Vindy Lee Sang Penemu Sexy Food

Penulis buku berjudul Sexy Food ini tadinya bermukim di Los Angeles sebagai personal chef . Dua tahun belakangan, Vindy Lee yang kelahiran Jakarta ini kembali ke tanah air untuk berbagi pengalaman memasak. Padahal, Vindy sama sekali tak pernah duduk di sekolah kuliner, bahkan jurusan yang diambilnya di University of Soutern California adalah bidang politik.

“Sejak umur tujuh tahun, saya sudah suka masak. Saya belajar memasak masakan rumahan dari nenek saya.”

Apa jenis masakan yang pertama dipelajari dari nenek saat ia tinggal di Singapura? “Tomat dan daging sapi yang dioseng dengan kecap asin. Ya, mirip bolognise sauce, cuma potongan dagingnya lain, tidak dicincang. Begitu saya praktikkan resep nenek, rasanya langsung enak. Sejak itu, saya jadi suka ke dapur memasak apa saja. Mulai dari omelet, ayam, apa saja.”

Lulus kuliah, Vindy nekat terjun ke dunia kuliner secara profesional. “Saya belajar masak di restoran Prancis di Amerika. Memang saya sudah biasa masak. Tapi, kalau di restoran, kan, beda, ya,” tuturnya.

Setelah dari restoran tadi, Vindy sempat bekerja di restoran Italia di Los Angeles. Di sini, Vindy harus melayani puluhan pengunjung restoran dengan cepat. “Bekerja di restoran, bagi saya bukan mengejar uang, melainkan pengalaman.”

Tahun 2005, Vindy memutuskan jadi personal chef . “Saya ingin fokus ke masakan rumah. Kadang saya juga memberi pelatihan atau kursus privat.” Sebagai personal chef , Vindy sering diundang oleh keluarga-keluarga pebisnis besar di Amerika yang tengah menjamu teman atau kerabat di rumahnya.

“Di Amerika, ada kebiasaan entertainment home , menjamu teman atau relasi di rumahnya yang besar dan bagus, agar tamunya berkesan. Rata-rata yang menggunakan jasa personal chef adalah orang yang mengerti makanan. Sebaliknya, orang Indonesia kalau mau makan besar malah ke restoran. Nah, sebagai personal chef , saya memasak di rumah-rumah itu dengan membawa asisten. Sebelum deal akan memasak di rumah mereka, saya diskusi dulu, mereka mau makan apa?”

Pernahkah Vindy menawarkan masakan Indonesia kepada kliennya? “Oh, pernah. Mereka terkesan karena masakan Indonesia banyak bumbunya, seperti soto,” ucap Vindy yang kini masih menjadi personal chef di Jakarta dan Bali.

Menulis Buku

Karena kecintaannya pada dunia masak-memasak, Vindy mengaku sedih karena kini banyak anak muda tak mengerti cara memasak. “Berbeda dengan 10 atau 20 tahun lalu, anak muda tahu bagaimana membuat masakan rumah. Karena itu, saya menulis buku agar bisa mengembalikan kesenangan memasak di rumah. My goal is bring back home cooking ,” tegasnya dengan Bahasa Indonesia yang masih patah-patah.

Dari ide itulah, Sexy Food lahir. Pengalamannya menjadi personal chef di Negeri Paman Sam dituangkan secara lengkap di buku pertamanya ini. Pemilihan judul yang mencolok pun bukannya tanpa alasan. “Bagi saya, makanan itu sangat seksi. Kalau suatu makanan terlihat bagus, wangi, namanya terdengar enak, lalu ketika dimakan orang akan berseru, “Oh my God!” Nah, itulah seksi,” ujarnya sambil tertawa.

Dua tahun dihabiskan Vindy untuk membuat bukunya itu. Mulai dari ide resep, stylist , hingga model pemotretan, ia lakukan sendiri. Uniknya, dalam buku resep masakan ini terdapat beberapa foto masakan yang menggunakan beberapa bagian tubuh Vindy sebagai latar belakang pemotretan. Misalnya bibir, kaki, dan lidah.

“Idenya muncul tiba-tiba saja. Saya tidak pernah secara sengaja mencari ide. Kadang saat melihat alam atau sesuatu hal, langsung timbul ide, entah itu soal warna atau resepnya,” terangnya.

Kini, Vindy sudah menyiapkan buku kedua yang masih dirahasiakan judulya. “Yang jelas, masakan fusion. Ada masakan Indonesia yang dicampur gaya Eropa.”

Edwin, Rini / bersambung


blog comments powered by Disqus