Membership
Lupa password?
Peristiwa

Belanja Sambil Kursus Masak di TBK (1)
Jumat, 25 Juni 2010
Kursus Di Kijang Mas

"Kursus di Kijang Mas akan dibuka lagi tahun depan," terang Sani (Foto:Rini)

Membagi Resep Gratis

Berbisnis bahan dan alat pembuat kue sudah dilakoni Sani Sanusi (64) pemilik PD KIjang Mas, Bandung, selama 20 tahun. Awalnya, kisah Sani, ia hanya menjajakan bahan-bahan kue dari bakery satu ke bakery lain di wilayah Bandung. “Sebelumnya saya berbisnis sepatu dan meubel. Tapi kemudian dipercaya oleh sebuah produsen bahan kue untuk menjajakannya door to door . Akhirnya keterusan sampai sekarang. Bisnis meUbel dan sepatu saya tinggalkan.”

Setelah 10 tahun menjadi sales , Sani memberanikan diri membuka toko di kawasan Dago dengan nama PD Kijang Mas. “Sejak saat itu saya konsentrasi bisnis di bidang bahan dan alat kue. Tahun 1994 toko saya pindahkan ke Jalan Hariang Banga sampai sekarang.”

Untuk mengembangkan usahanya, tahun 1994 Sani membuka kursus membuat cake , kendati programnya belum terarah. “Waktu itu belum punya guru tetap. Jadi sebulan sekali saja kursusnya. Setelah berjalan beberapa tahun, baru dapat guru. Namanya Pak Asep. Spesialisasinya di bidang cake , pastry , dan cokelat,” terang Sani.

Sebenarnya, saat itu Sani merasa tidak nyaman berdagang bahan kue dan menyelenggarakan kursus masak. “Saya menganggap itu “mainan” kaum perempuan,” terangnya. Hingga suatu kali Sani melihat pameran Asia Food Festifal di Singapura. “Dari sana saya baru sadar, ternyata “pemain” di bidang kue, seperti demonstraternya kebanyakan kaum pria.”

Toko bahan kue dan kursus Sani pun berkembang pesat kala terjadi krisis ekonomi di tahun 1998. Saat itu, terang Sani, banyak karyawan kantor di-PHK. Ibu-ibu rumah tangga juga ingin memiliki penghasilan tambahan dengan membuka bisnis rumahan. “Jadi mereka lah peserta kursus kami. Tapi tak cuma ibu-ibu, kaum pria juga ada yang kursus. Tak sedikit peserta kursus itu para pemula.”

Toko Kijang Mas

Toko Kijang Mas selalu ramai dikunjungi para pelanggannya (Foto:Rini)

Tutup Sementara

Saat kursus peserta diberi waktu sejak jam 10 hingga jam 14. Selama itu guru mengajarkan dari A sampai Z cara membuat cake . “Misalnya belajar membuat pastry , ya diajarkan dari awal sampai bisa. Sistem kursusnya diajarkan/ didemokan oleh chef -nya. Peserta boleh mencoba praktik tahap yang ingin dia kuasai. Biasanya ada empat sampai lima resep yang diajarkan. Maksimal per kursus kami hanya membatasi 30 peserta,” tambah Sani yang sering membagi resep gratis untuk para pelanggan setia tokonya.

Dengan menyelenggarakan­ kursus, toko bahan kue miliknya jadi lebih laris. “Dari waktu ke waktu kami bisa meilihat perkembangannya. Para pemula yang tadinya hanya membeli bahan dalam jumlah sedikit buat coba-coba, lama-lama meningkat jumlah pembelian bahan bakunya. Dari sini ketahuan mereka membuat kue untuk berdagang. Kami senang ilmu mereka juga ikut berkembang.”

Sayangnya, guru kursus andalan Sani baru saja meninggal dunia. Kini, Sani tengah mencari guru yang ahli di bidang pastry , cake , dan cokelat. “Sampai tahun depan kursus saya hentikan dulu. Kebetulan kami judag sedang merenovasi toko agar ruang kursusnya lebih luas. Tahun depan rencananya kami bekerjasama dengan para mantan dosen STIPAR (Enhai) Bandung, menyelenggarakan kursus lagi,” tutup Sani.

Toko Virgin

virgin (kanan) kini tak hanya jualan alat dan bahan kue (Foto:Rini)

Terkenal di Dunia Maya

Nama Toko Ani, terkenal di kalangan pembuat cake dan cokelat. Bagi para pemula yang tinggal di Jakarta dan gemar berselancar di internet, biasanya akan memperoleh “saran” dari netter lainnya agar belanja ke TBK tertentu. Salah satunya ke Toko Ani. Karuan saja nama Toko Ani menjadi semakin terkenal di dunia maya.

Ternyata, Ani bukanlah si pemilik toko. “Dia sepupu saya yang sekarang tinggal di Amerika. Saat ibu saya, Sukreni, membuka toko alat-alat kue di kawasan Senen (kini menjadi bangunan Atrium Senen, Red .) sekitar 1973-an, Ani lahir. Karena toko kami belum punya nama, ibu langsung menamai Toko Ani,” jelas Virginia Laksana. Anehnya, para pelanggan tokonya kini banyak yang menyapa Virgin dengan sebutan Ibu Ani.

Menurut Alumnus Universitas Tarumanegara ini, pada 1988 ia mulai terjun menjalankan Toko Ani. “Ibu saya meninggal muda. Jadi saya kuliah sambil ngurus toko hingga kemudian jadi arsitek. Ternyata tidak mudah konsentrasi di dua bisnis. Akhirnya saya memutuskan membesarkan toko. Saat itu saya hanya menjual alat dan asesoris cake saja. Bahannya cuma buat sampingan.”

Ketika toko di Senen terkena gusuran, Toko­ Ani kemudan pindah ke Jalan Gunung Sahari I. Di sinilah Virginia mengembangkan toko seperti sekarang ini. “Kira-kira tahun ’90-an, kami sudah mendemokan alat-alat yang kami jual untuk pelanggan. Pada perkembangannya, banyak sponsor produk bahan kue yang juga ingin demo di toko kami. Ternyata pelanggan suka. Akhirnya kami menyelenggarakan kursus membuat cake sampai sekarang.”

Siapa peserta kursusnya? “Ada yang pemula, ada pula yang sudah mahir bikin cake dan menghiasnya secara sederhana. Kebetulan, kami punya kerabat pengusaha cake, Pak Heru. Dia yang mengajar menghias cake .”

Sejauh ini, Toko Ani telah “meluluskan” ratusan perempuan terampil dalam membuat dan menghias aneka cake . Salah satunya adalah Ucu Savitri yang kini ahli di bidang pembuatan cake dan cokelat decorating .

Rini Sulistyati/ bersambung

Views : 2695

blog comments powered by Disqus