Membership
Lupa password?
Peristiwa

Siswa Bebas Mengkritik Guru
Asyiknya Belajar di Sekolah Alam (1)
Rabu, 10 Maret 2010
Sekolah Alam

Foto : Ahmad Fadilah/NOVA

Kini, banyak bermunculan sekolah alam di berbagai kota di Indonesia. Sekolah ini ada yang hanya menerima siswa bila orangtuanya punya visi dan misi yang sama dalam mendidik anaknya di rumah. Yakni, menekankan aspek akhlak, budi pekerti, dan kepemimpinan. Di sekolah ini, guru bukan satu-satunya sumber ilmu. Siswa bebas mengkritik dan memberi masukan kepada gurunya. Tertarik?

Dua sekolah alam dengan konsep sama yakni Sekolah Alam Indonesia (SAI), Ciganjur dan Sekolah Alam Bintaro (SAB) digagas oleh praktisi dan pemerhati pendidikan, Ir. Lendo Novo. Visi dan misi utamanya ingin memberikan perubahan kepada anak-anak, terutama pada sisi budi pekerti/akhlak, serta memiliki jiwa kepemimpinan. Di sekolah alam ini, proses pembelajaran berlangsung bersama dan berada di alam. Ruang kelas yang berbentuk rumah panggung/saung hanya sebagai sarana untuk istirahat atau belajar teori beberapa saat saja. Sepulang sekolah, anak-anak juga tidak dibebani lagi dengan PR seperti siswa sekolah konvensional pada umumnya.

Sekolah Alam 1

Oleh karena alam mengajarkan semua, maka aktivitas belajar siswa sekolah alam terbanyak dilakukan di alam dan bersama alam (Foto: Ahmad Fadilah/Nova)

SAI Ciganjur menempati alam seluas 6.800 m2, memiliki jenjang pendidikan mulai pra sekolah (play group , TK), SD, dan SMP. Hanya saja, untuk jenjang SMP lokasinya terpisah dengan SAI di Ciganjur, yakni di kawasan Rawa Kopi, Jakarta Timur. Sehari-harinya, anak-anak pra sekolah melakukan out bond , sebagian lainnya belajar memasak di dapur mini. Sementara siswa tingkat SD sebagian belajar menanam pohon. Belajar memasak, jelas Kepala Sekolah SAI, Pepen Supendi , hanyalah salah satu kegiatan anak-anak TK di SAI. “Hari ini kebetulan sedang masak spaghetti . Gurunya adalah guru tamu, yakni orangtua murid yang punya usaha katering. Menjadi guru tamu adalah salah satu bentuk kontribusi orangtua siswa SAI yang sudah disepakati sebelum anaknya bersekolah di sini. Adanya guru tamu ini juga menjadi ciri khas dari SAI.”

Sekolah Alam 2

Foto : Ahmad Fadilah/NOVA

Konsep pendidikan yang berakarkan kebersamaan, kedisiplinan, dan kepemimpinan lah yang diajarkan di SAI. “Selama mendampingi anak belajar, guru hanya sebagai fasilitator saja,” tambah Pepen. Tak jarang, metode belajar siswa SD pun masih disampaikan lewat lagu. Misalnya pelajaran geografi, mengenal nama-nama samudra di dunia berikut ciri khasnya. Atau, pelajaran soal air ditinjau dari ilmu IPA, Fisika, dan Agama. “Semua lagu diciptakan oleh guru-guru sekolah kami sendiri.”

Sekolah Alam 3

Foto : Ahmad Fadilah/NOVA

Seleksi Orangtua Murid

SAI didirikan pada 2001 di Jl. Damai, Ciganjur, dengan delapan siswa yang dibimbing enam guru. Lantaran jumlah siswa terus bertambah, SAI pun pindah ke Jl. Anda. Kini, siswanya mencapai 373 anak, dibimbing oleh 68 guru, belum termasuk guru bidang studi Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan guru Membaca Al Quran. “Setiap kelas dibimbing oleh dua guru, laki-laki dan perempuan. Konsep “ibu-bapak” ini dimaksudkan untuk mengakomodasi kemungkinan ada anak yang dekat dengan bunda atau ayahnya saat di rumah,” papar Pepen.

SAI juga memiliki program inklusif, yakni menerima siswa berkebutuhan khusus. “Sekarang ini terhitung ada 15 anak autis di SAI. Dalam hal menimba ilmu, kami tak membeda-bedakan apakah anak itu berkebutuhan khusus atau tidak. Memang ada perbedaan, tapi tidak lantas harus dibedakan. Anak-anak yang tidak berkebutuhan khusus sudah kami beritahu. Nah, saat guru-guru tidak ada, justru anak-anak yang tidak berkebutuhan khusus yang menjaga temannya itu. Anak-anak sudah bisa bertoleransi.”

Lantas, siapa saja yang bisa masuk ke SAI? Prinsipnya semua anak bisa, asalkan memenuhi seleksi yang dilakukan oleh guru dan komite sekolah. “Yang diseleksi bukan calon siswanya, lho. Melainkan justru orangtuanya. Seleksinya meliputi, apa visi dan misi orangtua dalam mendidik anak. Kedua, peran orangtua ketika anaknya sekolah di SAI. Ketiga, sejauh mana pemahaman orangtua dalam mendidik anak.”

Kendati pengajarannya berbasis pada alam, namun Pepen mengatakan, lulusan SAI tak terkendala untuk mengikuti ujian nasional. “Kami punya guru bidang studi. Tapi untuk materi diknas, SAI tidak punya target selesai. Target akhir SAI adalah akhlak dan kepemimpinan. Bila budi pekerti/akhlak dan kepemimpinan sudah bagus, untuk mengejar aspek kognitif lebih mudah. Menjelang ujian, anak tidak perlu disuruh belajar, dia sudah punya kesadaran bahwa lulus-tidaknya dia, tergantung diri sendiri. Seperti tombol, kita tinggal tekan saklarnya saja. “

Di akhir tahun ajaran, SAI mengikutkan siswanya ujian nasional. “Untuk jenjang SD sudah ada 6 angkatan yang kami ikutkan ujian nasional. Nilai kelulusan rata-rata di atas 7. Sementara jenjang SMP sudah ikut tiga angkatan dengan nilai kelulusan di atas 7 dari tiga mata pelajaran yang diujikan,” tegas Pepen.

Sayangnya, lanjut Pepen, “Kami belum punya kelas jenjang SMA sehingga anak SMP lulusan SAI kadang terkendala mencari SMA konvensional yang sama visinya dengan SAI. Namun, lulusan SAI bisa melanjutkan ke sekolah internasional yang visinya nyaris sama. “Sekolah internasional memberi ruang kepada anak untuk mengembangkan diri dan bebas mengungkapkan ide-ide dan pikirannya.”

Rini Sulistyati

Foto-Foto : Ahmad Fadilah

Views : 2929

blog comments powered by Disqus