Membership
Lupa password?
Wanita

Setelah Kuret, Benarkah Susah Hamil?
Senin, 28 Februari 2011
wanita8

B enar nggak sih? Lagipula, tindakan kuretase pun dituduh sebagai pemicu kanker. Aduh, seremnya!

Anggapan kuretase (curettage)  menjadi biang keladi seorang wanita susah punya anak sama sekali tidak benar. Karena, menurut Dr. Musa Soebiantoro, Sp.OG,  bisa tidaknya seseorang untuk memiliki anak setelah dikuret tergantung dari tingkat kesuburan pasangan tersebut. "Jadi kalau tingkat kesuburannya tinggi biar dikuret sampai sepuluh kali pun, ia tetap bisa hamil." Sebaliknya, bila tingkat kesuburannya rendah, tidak dikuret pun, akan ada kemungkinan untuk sulit hamil.

Lantas, mengapa seorang wanita perlu mendapat tindakan kuretase?

TUJUAN KURETASE

Kuretase, menurut Musa, adalah suatu tindakan untuk membantu wanita yang mengalami keguguran mengeluarkan sisa buah kehamilan. Seperti kita tahu, kata Musa, wanita yang mengalami keguguran akan mengalami perdarahan yang disebabkan oleh adanya sisa plasenta yang ada di dinding rahim. Sisa plasenta inilah yang diambil (baca: dikuret) dengan harapan bisa menghentikan perdarahan. "Tetapi, kuret juga bisa digunakan untuk terapi lain. Misalnya pada kasus perdarahan menorrhagia, yang terjadi diantara dua haid." Bila perdarahannya banyak sekali, maka kuret diperlukan untuk menghentikan perdarahan itu. Kecuali itu, kuretase juga bisa digunakan untuk menegakkan suatu diagnosis. Misalnya pada kasus perdarahan dua haid. Bila darah yang keluar hanya sedikit, biasanya kuret dilakukan untuk mengambil jaringan yang akan diperiksa ke laboratorium. Sehingga dokter bisa mengetahui dengan pasti penyebabnya," terang ahli kandungan dari RS Puri Cinere, Jakarta.

Jadi, pada intinya kuret itu adalah untuk membersihkan lapisan dalam rahim. Secara sederhana bisa digambarkan sebagai berikut: rahim, kan, merupakan daerah yang berlapis-lapis. Terdiri dari otot luar, otot dalam dan yang paling dalam disebut endometrium yang strukturnya berubah sesuai dengan siklus haid. "Pada kasus menorrhagia  tadi yang dikuret adalah endometrium yang memang sifatnya tumbuh, bukan menetap."

Sementara, pada kasus keguguran, yang dikuret adalah sisa ari-ari yang menempel di dinding rahim. Ari-ari itu, kan, juga merupakan hasil dari suatu pembuahan. Bukan sesuatu yang menetap selamanya. Jadi, seorang wanita yang mengalami keguguran, harus dibersihkan ari-arinya. "Jadi, tidak ada kaitannya tindakan kuret dengan penyulit kehamilan," tegas Musa.

PROSES KURETASE

Seorang ibu yang pernah mendapat tindakan kuretase mungkin akan merasa kapok melakukannya lagi. Alasannya, sakit yang ditimbulkan akibat tindakan tersebut, luar biasa nyeri. Menurut Musa, sakit tidaknya dikuret, sangat individual. Kecuali itu, lanjutnya, "Segi psikis sangat berperan." Misalnya ada pasien yang mengalami syok sebelum dikuret, karena rasa takut yang amat sangat.

Padahal, rasa takut inilah yang akan menambah rasa sakit sehingga bisa membuat pingsan pasien saat menjalani tindakan. Rasa takut ini pula, kata Musa, yang bisa mengakibatkan obat bius yang disuntikan berkurang manfaatnya/tidak mempan. Misalnya, obat yang disuntikkan menjadi tidak mempan, karena rasa takut membuat reaksi psikisnya bekerja lebih dulu ketimbang obat yang masuk. Jadi, ketika obat bius tadi disuntikkan, obat itu tidak akan bekerja dengan sempurna. Nah, kalau sudah begini dokter terpaksa perlu memberi obat dengan dosis yang lebih tinggi lagi.

Yang patut disadari, terang Musa, ketakutan ini muncul karena kita menciptakannya. Artinya, kita jugalah yang bisa melawan ketakutan tersebut. "Bilang saja pada diri sendiri bahwa kuret ini tindakan yang tidak sakit," saran Musa.

Mungkin buat sebagian orang yang belum pernah mengalaminya akan bertanya-tanya seperti apa, sih, proses kuret itu?

Saat kuret, jelas Musa, dokter akan memasukkan alat semacam sendok ke dalam vagina. Lalu, mengerok lapisan yang ada di dinding uterus dengan cara melingkar sampai bersih. Bisa juga dilakukan dengan cara searah jarum jam. Maksudnya, agar tak ada yang terlewat. Yang terpenting, tegas Musa, kuret itu harus urut sehingga tak ada sisa dari plasenta. Nah, biasanya kalau kuret sudah akan selesai akan terdengar suara yang kasar berbunyi "krok-krok" yang disebabkan beradunya sendok kuret dengan otot rahim. "Proses kuret sendiri, sebentar saja, kok. Tidak lebih dari sepuluh menit, tergantung dari besar kecilnya kandungan. Itu pun sudah termasuk persiapan peralatan."

MENGAKIBATKAN KANKER

Apa yang ditakutkan orang tentang kuretase pemicu kanker, tak dibantah oleh Musa. "Tapi, jangan langsung mengecap kuretase ini buruk," tandasnya. Karena, untuk diketahui, yang disebut kanker trofoblast atau kanker yang disebabkan oleh sisa plasenta yang ada di dinding rahim jarang sekali terjadi. Hanya sekitar satu persen saja. "Ini pun bisa dihindari bila kuretase dilakukan dengan benar-benar bersih."

Bila hasilnya tak bersih, kuretase memang memiliki efek samping. "Yang paling ganas, ya...kanker itu tadi." Kecuali itu, bisa timbul infeksi. Karena, kuman, kan, senang berkembang biak di daerah-daerah yang mengeluarkan darah. Ditambah pula, perdarahan, kendati keluar sedikit-sedikit, bila dalam jangka waktu lama, bisa juga menyebabkan pasien mengalami kekurangan darah atau anemia.

Tetapi, tegas Musa, kuret yang dilakukan sembarangan umumnya dilakukan bukan oleh ahlinya. "Biasanya kuret yang kurang bersih disebabkan oleh pelakunya yang bukan dokter kandungan."

RENCANA HAMIL LAGI

Lantas, benarkah kehamilan berikutnya harus ditunda usai kuretase? Menurut Musa tak ada patokan waktu yang pasti bagi seorang ibu yang mengalami kuretase untuk memulai hamil kembali. Karena semua itu tergantung dari usia kehamilan waktu mengalami keguguran dan usia si ibu itu sendiri.

Bila seorang ibu diminta untuk menunda kehamilan itu dimaksudkan agar kandungannya beristirahat. Biasanya hal ini terjadi pada usia kehamilan yang sudah tua karena uterus sudah benar-benar membesar sehingga memerlukan istirahat. Tapi bila mengalami keguguran di usia muda (batasannya hingga 20 minggu) si pasien bisa langsung hamil kembali.

Pertimbangan lainnya berkaitan dengan usia si pasien. Biasanya ibu yang sudah berusia 35 tahun ke atas tidak disarankan untuk menunda kehamilan setelah mengalami kuretase. Toh, menurut Musa, itu akan aman-aman saja. "Misalnya ibu baru menikah pada usia yang sudah telat, 35 tahun, kemudian hamil dan dia mengalami keguguran. Nah kalau ibu ini disuruh menunggu dua tahun lagi maka akan habis masa suburnya. Lagipula hamil di umur 37, sudah masuk kelompok wanita yang berisiko tinggi," terangnya.

Yang patut dicatat, pada beberapa wanita yang setelah mengalami keguguran, hormonnya mengalami kekacauan. Nah, untuk mempercepat kehamilan biasanya dokter akan memberi pancingan dengan melakukan induksi ovulasi. "Biasanya setelah dikuret haid tidak teratur, karena hormonal si pasien belum kembali seperti semula." Tetapi, kasus ini tidak terjadi pada setiap wanita yang keguguran.

Jadi, bila secara mental siap, tak ada salahnya merencanakan hamil lagi, Bu.

 Faras Handayani


blog comments powered by Disqus