Membership
Lupa password?
Wanita

Menghitung Perkiraan Lahir
Rabu, 25 Maret 2009
Menghitung Perkiraan Lahiran

Manfaat mengetahui perkiraan lahir tak hanya untuk mempersiapkan materi maupun psikis orangtua. Ada yang lebih penting dari itu. Apa itu?

Oleh karena berkaitan langsung dengan risiko kesehatan yang bisa menimpa janin, sebaiknya para calon orangtua, khususnya ibu, perlu mengetahui perkiraan lahir sang buah hatinya. Dan untuk memperkirakan waktu kelahiran bayi ini bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut.

Dengan siklus haid 28 hari, tentunya bisa diketahui, ketika terlambat datang bulan, artinya sang ibu sudah mengalami pembuahan selama 2 minggu. Sebaliknya, pada perempuan yang memiliki siklus haid tidak teratur, lanjut Budi, tentu saja tak bisa diprediksi dengan cara yang sama seperti ini.

"Tak perlu khawatir jika terlambat melakukan USG. Walaupun usia kehamilan sudah masuk trimester kedua, USG tetap akurat melakukan penghitungan perkiraan kelahiran. Jika melesat, ya sekitar 20 persen saja," papar Budi.

Tanda-tanda dari dalam kandungan ini, menurut Budi, juga bisa dijadikan patokan usia kehamilan, sebagai tambahan penghitungan perkiraan kelahiran. "Saat kehamilan berusia sekitar 16 minggu, disinilah biasanya pertama kali seorang ibu merasakan gerakan janin untuk yang pertama kalinya," ungkapnya.

Namun, perkiraan dengan melihat puncak rahim ini sifatnya sangat teknis dan subyektif. Dan tidak bisa diberlakukan untuk menghitung waktu lahir pada kehamilan kembar, atau janin yang terlalu besar. Sehingga, sifatnya hanya sebagai konfirmasi saja.

Tips Meminimalisasi Telat Lahir
Agar masa kehamilan tidak terlampau jauh melewati tanggal perkiraan kelahiran sang buah hati, beberapa hal bisa saja diupayakan oleh calon ibu, antara lain:

1. SIKLUS HAID
Catat tanggal menstruasi setiap bulannya, untuk meningkatkan akurasi penghitungan perkiraan kelahiran. Atau, untuk meminimalisasi keterlambatan perkiraan waktu lahir, berkonsultasila pada dokter kandungan atau bidan.

2. USG
Segeralah berkunjung ke dokter kandungan, dan lakukan USG begitu sang ibu merasa sudah terlambat haid,. Hal ini juga berguna untuk meningkatkan akurasi penghitungan perkiraan kelahiran.

3. HUBUNGAN INTIM
Berhubungan intim dengan pasangan di saat usia kehamilan sudah lewat trimester ketiga, bisa memancing timbulnya proses persalinan.

"Dokter biasanya akan melakukan terminasi kehamilan ketika usianya sudah di atas 37 minggu. Karena, jika lewat dari 41 minggu, risiko kematiannya bisa lebih tinggi," ungkap Budi. Maka, jika usia kehamilan sudah lewat 37 minggu, ada beberapa hal bisa dilakukan oleh sang ibu.

1. Melakukan USG lebih intensif. Biasanya, jika sudah lewat 40 minggu masa kehamilan, dokter akan menyarankan melakukan USG lebih sering, sekitar 3 hari sekali.
2. Jika memungkinkan, lakukan USG dengan teknik doppler, yang dapat menghitung pula arus darah dari plasenta ke janin. Sehingga, dapat mendeteksi gawat janin sejak dini.
3. Perhatikan pula gerakan janin, apakah semakin melemah atau tetap aktif seperti biasa.
4. Menghitung cairan ketuban, serta merekam nafas dan aktivitas detak jantung janin (kardiotopografi), melalui cara ultrasonografi.
5. Berkonsultasi dengan dokter untuk kemungkinan dilakukannya induksi ataupun operasi caesar, sebagai alternatif untuk menyelamatkan buah hati dari risiko lewat bulan.
Laili Damayanti

Foto: Fadoli Barbhatully/Nova

Views : 5723

blog comments powered by Disqus