Senin, 5 Desember 2011
Lipofilling Lebih Natural & Lebih Aman (2)
Hati-hati Bias
Bisakah fat transfer dilakukan bagi pasien kanker payudara? “Tergantung derajat atau stadiumnya. Kalau derajatnya sudah berat dan payudara harus dipotong, ya tidak bisa,” jelas Irawan.
Lipofilling payudara masih mungkin dilakukan, namun ada kelemahan yang harus diperhatikan pasien. Yang jelas pasien harus diberitahu risiko bahwa lemak yang dimasukkan ke dalam tubuh tidak bisa hidup semuanya. Sebagian lagi akan mati dan diserap oleh tubuh sendiri (nekrosis). Nah, lemak yang mati ini jika dilihat dengan radiologi/mammografi akan menunjukkan hiperkalsifikasi (terlihat lebih putih dibanding warna lemak yang masih hidup). Padahal, deteksi kanker payudara dengan mamografi juga menunjukkan hiperkalsifikasi bila positif.
Artinya, ini akan membiaskan hasil pemeriksaan mammografi. Pasien yang sebelumnya sudah melakukan lipofilling payudara, dan kemudian ternyata terkena kanker payudara, radiologinya akan menunjukkan hasil yang sama, yakni hiperkalsifikasi. Bisa saja terjadi, lanjut Irawan, “Hiperkalsifikasi ini kemudian dibaca bukan sebagai kanker payudara, melainkan sebagai nekrosis.” Irawan lebih menyarankan untuk melakukan implan payudara ketimbang lipofiling payudara. “Implan lebih simpel. Kalau tidak suka, tinggal dilepas,” katanya
Harus Siap Mental
Kapan sebaiknya melakukan fat transfer atau lipofilling, sebenarnya tergantung kebutuhan. Yang penting, lanjut Irawan, konsultasikan ke dokter, seberapa perlu tindakan tersebut. Bisa jadi, tindakan lipofilling tidak diperlukan dan bisa dilakukan tindakan lain.
Secara psikologis, pasien juga harus siap. “Secara umum, pasien estetis ini, kan, pasien sehat yang ingin mengubah penampilannya jadi lebih cantik. Tapi, terkadang mereka tidak siap dengan hasil yang diperoleh setelah melakukan tindakan. Orang bilang sudah bagus, tapi menurut mereka jelek. Lalu mereka minta diubah lagi. Ini kan, psikologis.”
Irawan melanjutkan, ada hal-hal yang perlu diperhatikan terkait aspek psikologis ini. Yang pertama, banyak kasus di mana pasien yang melakukan tindakan ini menjadi adiksi (kecanduan). Mereka berulang-ulang melakukannya, padahal belum tentu perlu.
Yang berikutnya, “Kadang-kadang dokter bilang hasilnya sudah bagus, sementara pasien bilang belum. Akibatnya, pasien tidak puas dan akan melakukan operasi kemana-mana. Bisa 3 - 4 kali untuk operasi yang sama,” jelas Irawan. Dan ternyata, kebanyakan pasien yang mengalami gangguan psikologis adalah pasien yang melakukan tindakan operasi hidung.
Hasto Prianggoro

