Membership
Lupa password?
Wanita

Konsumsi Yang Perlu Dipantang Selama Hamil
Sabtu, 26 November 2011
wanita hamil makan foto iman

Foto: Iman

I bu memang perlu makanan bergizi untuk diri dan janinnya. Namun, tak semua makanan dan minuman "bergizi" bisa dikonsumsi. Lihat-lihat dong, cara mengolah dan asal-usulnya!

Bakso merupakan makanan favorit kebanyakan orang Indonesia, begitu pula siomay, sate, dan lalap-lalapan mentah. Sebetulnya, meskipun makanan-makanan tersebut mengandung protein dan vitamin, tetapi menurut dr. Mariono Reksoprodjo, Sp.OG ., dari Klinik Bersalin Seruni, Jakarta, ibu hamil perlu hati-hati kala menyantapnya. Ia mengingatkan, ada jenis-jenis makanan dan minuman yang perlu dihindari atau setidaknya diwaspadai dengan berbagai alasan. Berikut beberapa di antaranya:

* Jajanan (bakso, siomay, bakwan malang dan sejenisnya)

Bakso, mi ayam, bakwan malang, siomay, dan sejenisnya yang mengandung zat-zat kimia yang diduga dapat menyumbang munculnya beberapa gangguan pertumbuhan saraf pada janin, seperti autisme, hiperaktif, cerebral palsy, dan lainnya. Bahan-bahan yang perlu diwaspadai ibu hamil pada jajanan ini adalah boraks yang biasanya terdapat pada bakso dan siomay, formalin pada mi dan MSG (monosodium glutamate) atau bumbu penyedap pada kuah bakso, bakmi atau bakwan malang.

* Olahan daging (sate, steak, burger )

Jika cara pengolahan daging yang digunakan untuk sate, steak dan burger kurang matang, maka parasit dan mikroorganisme lain yang terkandung di dalamnya tidak akan mati. Termasuk parasit toksoplasma yang sangat berbahaya bagi pertumbuhan fisik janin. "Hampir dipastikan, janin akan tumbuh abnormal bila ibu menderita toksoplasma," tutur Mariono yang juga bekerja di Dinas Kesehatan TNI-AU Mabes TNI-AU Cilangkap, Jakarta Timur.

Perjalanan toksoplasma sendiri cukup unik. Awalnya parasit tersebut terkandung pada kotoran kucing yang kemudian terpapar ke tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang merupakan makanan hewan-hewan, seperti sapi, kambing, atau ayam. Dari situlah hewan-hewan ternak tersebut dapat terinfeksi toksoplasma.

Kalau ibu hamil mengonsumsi daging yang terinfeksi parasit ini, otomatis ia juga akan terjangkit toksoplasma. Parasit tersebut lalu berkembang biak hingga kemudian mengganggu pertumbuhan janin yang dikandungnya. "Selama hamil, pilihlah makanan yang benar-benar matang untuk menghindari berbagai kelainan, seperti bayi lahir tanpa kaki atau jari jemari yang tidak lengkap, tulang tengkorak yang tidak sempurna, hidrosefalus, bahkan menderita kelainan jantung bawaan."

* Lalapan

Seperti halnya daging mentah atau setengah matang, sayuran mentah yang dijadikan lalapan dapat pula mengandung parasit toksoplasma. Namun bukan berarti ibu hamil dilarang mengonsumsinya. Boleh-boleh saja, tapi perhatikan kebersihannya dengan saksama. Cuci sayuran dengan air mengalir. Cairan khusus untuk mencuci makanan yang bisa membunuh kuman atau parasit bisa juga digunakan.

Menurut Mariono, mencuci dengan air bersih terkadang tidak bisa membasmi tuntas kuman atau parasit yang menempel pada sayuran. "Apalagi kalau mencucinya asal-asalan, sangat mungkin parasit toksoplasma masuk ke dalam tubuh," ujarnya.

Efek dari penyemprotan pestisida pada sayuran juga patut dikhawatirkan. Pestisida yang merupakan bahan kimia pembasmi hama dapat menempel di kulit sayuran dan sulit hilang meski sudah dicuci bersih. Zat kimia pestisida diduga menjadi salah satu pemicu munculnya penyakit gangguan saraf seperti autisme, cerebral palsy , gangguan pemusatan perhatian, dan sebagainya.

Sarannya, ibu hamil lebih baik mengonsumsi sayuran atau buah yang bebas dari bahan-bahan kimia atau ditanam secara organik. Sayuran jenis ini sudah banyak ditemukan di beberapa tempat di kota-kota besar. Atau kalau tidak, pilih sayuran hidroponik yang relatif lebih bersih dari bahan kimia.

* Makanan dalam kemasan (sosis, nuget, kornet dan sejenisnya)

Makanan dalam kemasan umumnya mengandung bahan pengawet yang dikhawatirkan dapat mengganggu pencernaan ibu hamil sehingga zat gizi yang tersalurkan ke tubuh janin akan berkurang. Zat pengawet juga diduga dapat mengganggu pertumbuhan saraf-saraf otak janin, padahal masa kehamilan adalah masa paling pesat pertumbuhan otak.

Jadi, semasa hamil tidak ada ruginya ibu menghindari makanan dalam kemasan. Lebih baik pilih makanan segar tanpa bahan pengawet. "Umumnya daging kornet yang berada dalam kemasan mengandung bahan pengawet. Daging sapi segar relatif tidak terkontaminasi zat kimia sehingga lebih baik untuk dikonsumsi, tapi dengan catatan sudah diproses atau dimasak dengan cara yang benar dan matang."

* Minuman ringan dalam kemasan

Minuman ringan dalam kemasan, walaupun dipromosikan tanpa bahan pengawet tetapi pada kenyataannya ada yang mengandung bahan pengawet. Oleh karena itu, Mariono menganjurkan ibu hamil untuk berhati-hati dalam mengonsumsinya. "Mana mungkin minuman tersebut kuat dalam jangka waktu lama kalau tidak diberi bahan pengawet," ujar Mariono. Jadi, saat ibu hamil ingin menikmati teh di sore hari misalnya, lebih baik minum teh seduhan sendiri dan bukan air teh dalam kemasan.

Namun demikian, tidak semua minuman ringan dalam kemasan pasti mengandung bahan pengawet. Seperti beberapa produk susu dan jus buah alami misalnya, produsen memang sengaja membuatnya tidak memakai bahan pengawet. Ciri dari kemasan tersebut adalah tidak tahan lama. "Umumnya, minuman kemasan ini hanya awet hingga tiga hari saja," ungkapnya.

Akan halnya minuman bersoda, selama tidak menimbulkan rasa mual boleh saja dinikmati selama hamil. Masalahnya, banyak ibu bertambah mual karena minuman bersoda memicu bertambahnya gas dalam lambung. Kasus ini banyak terjadi terutama di trimester awal kehamilan. Saat itu asam lambung dan enzim pencernaan lain sedang begitu berlimpah sehingga mengganggu sistem pencernaan ibu hamil. Jadi tak heran kalau minuman bersoda bisa menambah kembung perut.

* Makanan dengan zat pewarna

Dampak yang ditimbulkan zat pewarna hampir sama dengan zat pengawet, yakni dikhawatirkan akan mengganggu pertumbuhan persarafan pada janin. Untuk mengidentifikasi makanan atau minuman yang mengandung zat pewarna cukup mudah, lihatlah warna dari makanan tersebut.

Namun, tidak selamanya hal ini bisa dilakukan dengan mudah, terutama pada makanan atau minuman yang bukan dalam kemasan. Pada umumnya, kandungan zat pewarna makanan dalam kemasan bisa dilihat dari komposisi yang dicantumkan. Namun, tak semua produsen akan mencantumkan dengan jelas komposisi produknya, jadi ibu hamil tetap perlu berhati-hati.

* Mi instan dan camilan ringan

Mi instan dan camilan ringan, umumnya selain mengandung bahan pengawet juga mengandung MSG yang cukup besar. Mariono mewanti-wanti agar ibu hamil menghindari MSG karena dampaknya bisa langsung terjadi. "Pada beberapa orang, efek dari MSG bisa menimbulkan pusing, jantung berdebar-debar, bahkan sesak napas," jelasnya. Konsumsi MSG yang terlampau sering diduga akan mengganggu pertumbuhan saraf janin dan menjadi salah satu pemicu penyakit gangguan saraf ketika anak lahir. Toh, Mariono tidak melarang total. Saat ibu hamil kangen makanan gurih, misalnya, satu-dua makanan ber-MSG diperbolehkan.

* Makanan dari laut yang tercemar

Makanan dari laut bukannya dilarang, tapi perlu diwaspadai karena banyak laut yang sudah tercemar. Bukankah belum lama ini terbetik kabar ratusan ikan mati di teluk Jakarta? Padahal bila sudah tercemar, ikan, rajungan, kepiting, cumi-cumi, dan kerang akan mengandung logam sehingga jika dikonsumsi ibu hamil kemungkinan besar akan berdampak pada janinnya.

Tak mudah memang untuk mendeteksi apakah makanan dari laut tercemar atau tidak, yang bisa kita lakukan hanyalah memilih tempat yang kira-kira dapat menjamin mutu makanan laut yang dijualnya.

* Makanan berkadar garam tinggi

Memasuki trimester ketiga, ibu hamil perlu menghindari makanan yang banyak mengandung garam. Alasannya, di periode ini komplikasi kehamilan, seperti hipertensi, dan preeklamsia sering timbul. "Apalagi bila sudah ada gejala pembengkakan pada salah satu bagian tubuh ibu. Ini bisa berarti ibu hamil berpotensi mengalami preeklamsia. Bila makanannya tidak diperhatikan maka bisa menyebabkan timbulnya hipertensi."

Hipertensi yang tidak terkontrol akan menimbulkan proteinuria atau protein keluar bersama urin. Gejala ini merupakan lampu kuning bagi ibu hamil untuk segera dirawat. Bahkan mungkin kehamilannya perlu diakhiri karena ibu dapat terancam kejang-kejang yang sangat membahayakan diri dan janinnya.

Hingga saat ini, penyebab utama hipertensi dan preeklamsia belum diketahui secara pasti. Jadi hanya berupa dugaan. Salah satunya menyebutkan bahwa pembengkakan, hipertensi, dan preeklamsia timbul karena adanya gangguan pada sistem pompa natrium di dalam tubuh sehingga pertukaran natrium dan kalium di dalam pembuluh darah terganggu. Nah, makanan dengan kadar garam (NaCl atau natrium klorida) yang cukup tinggi, tentu memperbesar risiko tersebut.

* Makanan berkolesterol tinggi

Potensi terhadap gangguan fungsi jantung pada kehamilan trimester tiga disebabkan beban yang bertambah karena jantung juga harus menyuplai darah ke janin. Apalagi jika jantung ibu sudah memiliki kelainan bawaan, maka lebih diperlukan sikap hati-hati. Antara lain dengan menghindari makanan yang mengandung kolesterol tinggi dan mengandung garam.

Pilihlah makanan berserat yang aman bagi jantung. Ibu perlu tahu, beban kerja jantung akan memuncak saat usia kehamilan memasuki minggu ke-32. Tandanya adalah hemodilusi atau pengenceran darah maksimal dimana volume darah ibu bertambah menjadi 1,5 kali lipat akibat bercampur dengan darah bayi. Contohnya, jika dalam keadaan normal volume darah ibu adalah 5 liter, maka di usia kehamilan 32 minggu volume itu akan bertambah sampai 7,5 liter yang menjadi beban berat buat jantung.

Irfan

Views : 21960

blog comments powered by Disqus