Rabu, 10 Maret 2010

Ketika Miss V Terjerat Masalah (1)

Beragam masalah bisa datang dan mengganggu miss V. Cari tahu seluk beluknya, agar kita bisa mengatasi masalahnya dengan tepat.

Foto : Eng Naftali/Nova

Cairan Vagina Berlebih

Pada kondisi normal, vagina memproduksi cairan pada kondisi-kondisi tertentu. Menurut dr. Luky Satria, Sp.OG, spesialis obstetri dan ginekologi dari Brawijaya Women and Children Hospital , pada umumnya vagina memiliki mekanisme untuk pengondisian, semisal saat terjadi rangsangan seksual. Pada saat rangsangan terjadi, pembuluh darah di vagina akan membesar dan kelenjar bartolin aktif mengeluarkan cairan untuk membasahi bagian dalam vagina. Ini terjadi untuk mempersiapkan vagina saat penetrasi, sehingga tidak menyebabkan luka pada dinding leher vagina ketika berhubungan intim.

Namun, selain penyebab di atas, produksi cairan vagina juga dapat meningkat karena siklus ovulasi dan hormonal. Pada masa ovulasi, kelenjar bartolin dan ductus skene lebih aktif memproduksi cairan vagina terutama pada leher rahim (serviks) sebagai media pembuahan. Cairan ini berwarna bening dan berkonsistensi seperti putih telur. Sedangkan pada masa sebelum/ sesudah menstruasi, produksi cairan vagina juga akan semakin banyak karena pengaruh hormon estrogen yang meningkat.

Lantas, kenapa beberapa wanita mengeluh vaginanya “becek” saat berhubungan intim? Banyak atau sedikitnya cairan vagina ini, menurut Luky, terkadang merupakan pendapat pribadi dari sang perempuan sendiri. “Beberapa perempuan menganggap cairan vaginanya berlebih, sehingga merasa kurang nyaman dan khawatir suami terganggu. Namun ini sangat subyektif,” tuturnya.

Sepanjang tidak ada cairan berwarna kekuningan atau kehijauan, cairan bergumpal seperti susu basi, disertai rasa gatal, rasa pedih dan beceknya bukan hanya saat berhubungan seksual, tidak jadi masalah. “Dan, selama ini belum ada pembuktian secara ilmiah apakah jumlah cairan vagina yang berlebih berkaitan dengan genetik maupun makanan tertentu,” tambahnya lagi menepis anggapan yang banyak dipercaya awam.

Mengenai beberapa pendapat yang mengatakan konsumsi antihistamin, alkohol, merokok, menggunakan sabun pembasuh vagina, menyiram vagina dengan air bersih sebelum berhubungan seksual, dan posisi bercinta dengan pantat yang lebih tinggi untuk mengurangi produksi cairan vagina, Luky sekali lagi mengatakan hal itu belum dapat dibuktikan secara ilmiah. “Namun jika sudah mengarah ke gejala penyakit, sebaiknya periksakan ke dokter,” ungkap Luky mengingatkan.

Foto : Eng Naftali/Nova

Si Putih

Keputihan atau keluarnya cairan dari vagina yang berlebih, biasanya disertai rasa gatal dan aroma kurang sedap yang mengganggu. “Cairan yang keluar bisa berwarna putih, kuning, kehijauan, atau bahkan kemerahan karena bercampur dengan darah,” kata dr. Sugi Suhandi Iskandar, Sp.OG dari RS Mitra Kemayoran , Jakarta. Ini berbeda dengan keluarnya lendir biasa atau lendir fisiologis yang berwarna bening. Keputihan, yang disertai rasa gatal dan berbau, merupakan indikasi kondisi patologis yang memerlukan pengobatan.

Penyebab keputihan bisa dikarenakan infeksi, benda asing di liang vagina, bahkan keganasan (jika cairan yang keluar sangat berbau). Pengobatannya tentu disesuaikan dengan penyebab. “Kalau penyebabnya infeksi, entah itu infeksi karena bakteri, jamur, parasit, atau lainnya, maka disesuaikan dengan kuman penyebabnya, yang bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium,” lanjut Sugi.

Jika penyebabnya adalah adanya benda asing di liang vagina, maka benda asing tersebut harus dikeluarkan. Dan jikalau keputihan muncul akibat kanker, maka kanker tersebut harus diobati.

Untuk mencegah keputihan, lanjut Sugi, wanita perlu menjaga kebersihan organ intimnya. Misalnya, membasuh organ intim dengan benar, yaitu menarik tangan dari depan ke belakang, bukan sebaliknya. Tidak menggunakan celana yang terlalu ketat atau dari bahan yang tidak menyerap keringat. “Ini bisa menyebabkan kelembapan berlebih di daerah sekitar organ intim, sehingga jamur lebih mudah tumbuh,” jelas Sugi.

Hindari juga berganti-ganti pasangan seks karena keputihan bisa ditularkan melalui hubungan seksual. Hati-hati menggunakan benda bersama, keputihan juga dapat ditularkan melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi kuman atau bakteri.

Laili Damayanti, Hasto Prianggoro

Foto-Foto: Eng Naftali

Dilihat : 5799 orang
  • Rating :
  • 0/5 (0 votes)
blog comments powered by Disqus