Membership
Lupa password?
Wanita

Bila Rahim Harus Diangkat (2)
Minggu, 26 Juli 2009
sinekia

Ilustrasi: Aries Tanjung/NOVA

Mioma
Namun, pada kasus tertentu mioma bisa dijadikan alasan untuk mengangkat rahim. Misalnya, pada kasus mioma yang sudah terlalu banyak atau menimbulkan gangguan haid terlalu banyak.

Jika demikian, dokter akan menyarankan angkat rahim agar tak mengganggu kesehatan dan menepis risiko terjadinya keganasan. Akan tetapi, tentu saja dokter tetap akan mempertimbangkan pendapat pasien. Apakah pasien masih menghendaki memiliki keturunan atau tidak.

Bila kasus yang dihadapi pasien adalah keganasan seperti kanker serviks, kanker rahim, atau kanker indung telur, dan sudah ditegakkan dengan hasil pemeriksaan laboratorium patologi anatomi, maka pilihan operasi pengangkatan rahim merupakan opsi terbaik yang dianjurkan untuk menyelamatkan jiwa pasien.

Ada pula alasan kegawatan seperti pada kasus perdarahan setelah proses persalinan. Perdarahan bisa terjadi bila otot dinding rahim gagal mengerut kembali (atonia uteri), sehingga pembuluh darah tidak menutup. Oleh karena rahim merupakan sumber perdarahan, maka dokter harus mengangkatnya untuk menyelamatkan pasien.

Tentu saja, tindakan ini merupakan pilihan terakhir setelah upaya dengan obat-obatan dan pengikatan pembuluh darah (arteri uterina maupun arteri hypogastrica) tak menunjukkan hasil. Dokter juga perlu memutuskan secara cepat, mengingat kondisi pasien yang berkejaran dengan maut.

Total & Subtotal
Histerektomi yang dilakukan memiliki teknik dan klasifikasi beragam. Ada yang dilakukan dengan teknik pengangkatan melalui perut (abdominal histerektomi) adapula teknik pengangkatan melalui vagina (vaginal histerektomi).

Masing-masing teknik sesuai indikasi pengangkatan. Vaginal histerektomi dapat dilakukan bila kasus yang ditemui bukan kasus keganasan maupun perdarahan uteri. Kelebihan dari vaginal histerektomi, antara lain mengurangi tingkat rasa nyeri yang dirasakan pasien, terutama pasca operasi.

Selain itu, pasien juga lebih cepat pulih ketimbang histerektomi yang dilakukan dengan sayatan pada perut. Pada derajat pengangkatan rahim, histerektomi dibedakan menjadi histerektomi total dan sub total.

Histerektomi total artinya rahim diangkat seluruh bagian, berikut leher rahimnya. Sedang histerektomi sub total, masih menyisakan bagian leher rahim. Luasnya pengangkatan rahim ini didasarkan indikasi keganasan yang ditemukan.

Misalnya, pada kasus kanker indung telur, kanker rahim, dan kanker serviks. Pada kasus keganasan, dokter juga mempertimbangkan pengangkatan rahim secara radikal atau luas. Pengangkatan radikal meliputi rahim dan jaringan ikat di sekitarnya.

Tetap Bisa Haid
Tak semua pengangkatan rahim atau histerektomi menyebabkan seseorang kehilangan siklus haidnya. Bila masih menyisakan bagian leher rahim yang berselaput lendir, pada periode tertentu wanita ini masih bisa merasakan haid, sekalipun hanya berupa bercak-bercak saja.

Pengangkatan rahim juga tak akan membuat vagina memendek, bila dokter melakukan teknik menggantung tunggul/ puncak rahim. Menanggapi adanya kekhawatiran kenikmatan seksual yang berkurang akibat tak memiliki mulut rahim, Eric menegaskan, pada dasarnya kenikmatan seksual tetap bisa didapat meski rahim diangkat total.

Eric menjelaskan, syaraf sensorik yang menyebabkan seseorang mendapat kenikmatan seksual berada pada 1/3 luar vagina. Jadi, tak ada masalah sekalipun sudah tak memiliki mulut rahim. Justru ini menghindarkan dari risiko lebih besar, yaitu sang wanita masih punya kemungkinan untuk mengalami kan­ker serviks.

Untuk urusan libido, lanjut Eric, hal itu lebih banyak terkait dengan ovarium atau indung telur. Organ ini berkaitan dengan produksi estrogen yang memiliki pengaruh pada libido wanita. Jika histerektomi dilakukan tanpa mengangkat indung telur, maka tak akan ada pengaruh pada kemampuan libido wanita.
Laili Damayanti


blog comments powered by Disqus