Rabu, 2 September 2009
Benarkah Perempuan Lebih Beser? (2)
Gangguan Syaraf
Pada beberapa kasus, cedera persyarafan di otak maupun tulang belakang (medula spinalis), juga mempengaruhi pusat kencing di otak. Gangguan ini bisa meningkatkan kejadian beser.
Meski tanpa proses pengisian atau pemenuhan isi kandung kemih, otak sudah lebih dulu mengirim sinyal untuk berkemih.
Namun, beser yang disebabkan gangguan syaraf biasanya tidak berdiri sendiri. Beberapa juga disertai kaki lumpuh, buang air besar tak terkontrol, dan sebagainya.
Menegakkan diagnosa seperti ini pun didahului pemeriksaan oleh dokter syaraf. Dan dicari pula adanya ketegangan otot tubuh bagian bawah yang menyebabkan kandung kemih sering berkontraksi.
Minuman
Beser juga seringkali dicetus oleh konsumsi bahan tertentu. Beberapa konsumsi minuman seperti teh, kopi, juga alkohol, disinyalir dapat meningkatkan frekuensi BAK.
Ini disebabkan zat aktif pada teh, kopi, maupun alkohol yang memang bersifat diuretik. Dengan kata lain, zat yang terkandung di dalam minuman ini merangsang terbentuknya air kencing.
Diakibatkan syaraf simpatis pada dinding kandung kemih yang terangsang oleh zat ini merespons dengan memproduksi urin lebih banyak. Akibatnya, kandung kemih cepat terisi dan penuh.
Tentu saja ini kurang baik bagi tubuh, karena intake cairan jadi tak sesuai dengan kebutuhan cairan tubuh, serta memperberat kerja organ.
Cuaca
Kondisi beser atau sering BAK juga bisa dipengaruhi oleh cuaca tertentu, seperti hawa dingin atau musim penghujan. Namun, ini lebih banyak berhubungan dengan mekanisme tubuh dalam beradaptasi dengan suhu ruangan.
Ketika tubuh berusaha mempertahankan stabilitas suhu badan terhadap suhu ruangan, terjadi proses peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah ini juga melalui proses faso dilatasi (pelebaran) dan faso konstriksi (pengecilan) pembuluh darah seluruh tubuh.
Akibatnya curah darah menuju ginjal pun jadi lebih banyak. Ginjal bekerja lebih aktif sehingga produksi urin lebih cepat.
Obat-obatan
Sejumlah obat penurun berat badan ada pula yang bekerja dengan cara memancing proses berkemih lebih sering. Menurut Charles, kebanyakan obat-obatan ini bekerja dengan sifat diuretik atau meningkatkan proses pembentukan air kencing.
Tujuannya, sudah barang tentu untuk mengurangi berat badan dengan menurunkan kandungan air dalam tubuh. Tetapi, sekali lagi, zat yang bersifat diuretik ini tak baik dikonsumsi, terutama untuk tujuan penurunan berat badan.
Proses ini bisa meningkatkan risiko gangguan keseimbangan cairan tubuh dan secara tak langsung mempengaruhi kinerja organ.
Laili Damayanti

