Membership
Lupa password?
Umum

'Menambal' Jantung Bocor Tanpa Operasi
Rabu, 11 Mei 2011
Jantung1

Istilah penyakit jantung bawaan (PJB) atau jantung bocor pada anak cukup membuat bulu kuduk khalayak awam berdiri. Terlebih bagi orang tua yang anaknya divonis mengidap kelainan tersebut, karena selama ini penyelesaiannya harus dilakukan di meja operasi melalui pembedahan.

Tentu saja tidak semua orang tua sanggup menyaksikan jantung anaknya diutak-atik, meski itu untuk kesembuhannya. Syukurlah, seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran, kini ditemukan teknik baru untuk menambal jantung bocor tanpa perlu operasi.

"Teknologi ini sudah bisa dilakukan di Indonesia dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi," ungkap dr. Sukman Tulus Putra, FACC ., Konsultan Jantung Anak (pediatric cardiologist) dari RS Siloam Gleneagles, Karawaci, Banten. Sementara sampai sekarang, kebocoran sekat serambi/bilik jantung pada anak merupakan salah satu penyakit jantung bawaan yang sering ditemukan di Indonesia.

MACAM KELAINAN JANTUNG BOCOR

Pada dasarnya, jantung dibagi menjadi 4 bagian, yaitu serambi kanan dan kiri serta bilik kanan dan kiri, serta sekat di antara keduanya. "Jantung kanan berisi darah kotor atau darah yang mengandung CO2 lebih banyak dibanding O2. Sedangkan jantung kiri berisi darah bersih atau yang mengandung O2 lebih banyak," tambah dr. Utojo Lubiantoro, Sp.JP dari Pusat Jantung di rumah sakit yang sama.

Darah kotor dari jantung kanan dikirim ke paru-paru untuk dioksigenasi, lalu kembali lagi ke jantung kiri dan dipompa ke seluruh tubuh. "Prinsipnya darah dari jantung kanan dan kiri, baik di tingkat serambi maupun bilik tidak boleh tercampur atau berlebihan," tambahnya.

Nah, kebocoran jantung pada anak bisa saja terjadi di sekat serambi atau dalam istilah kedokterannya atrial septal defect (ASD). Selain itu, bisa juga terjadi pada sekat bilik atau ventricular septal defect (VSD) dan pembuluh darah yang tidak menutup atau persistent duktus arteriosus (PDA).

Kelainan jantung bawaan ini terjadi sejak bayi karena begitu dilahirkan, sekat-sekat antarbilik/serambi jantungnya tidak menutup sempurna. Akibatnya ada celah atau lubang yang memungkinkan darah dari jantung kanan dan kiri tercampur. Bisa juga terjadi aliran darah dari jantung yang tidak normal, sehingga aliran menuju paru-paru pun menjadi berlebihan.

Yang menentukan apakah dokter harus segera mengambil tindakan ataukah bisa menunggu, bukanlah faktor usia si anak, melainkan besar kecilnya kebocoran. Kalau bocornya memang besar, jelas perlu penanganan segera. Namun kalau bocornya sangat kecil, bukan tidak mungkin sampai dewasa pun tidak pernah ketahuan karena tanpa keluhan sama sekali.

Adapun besar kecilnya kebocoran tidak hanya tergantung pada diameter lubangnya melainkan juga flow atau arus darah. "Kalau perbandingan aliran darah dari jantung bagian kanan dan jantung bagian kiri adalah 1,5 kali lipat flow ratio -nya, itu merupakan indikasi harus diambil tindakan," kata Utojo. Bila anak sudah nampak biru, berarti sudah terlambat. "Penanganannya sudah sangat sulit."

Untuk memastikan dan menentukan tindakan apa yang harus dilakukan, tak ada cara lain kecuali pemeriksaan klinis. Diperlukan juga pemeriksaan tambahan dengan EKG (elektrokardiogram) agar dokter dapat menegakkan diagnosisnya. "Rontgen dada dan pemeriksaan EKG harus dilakukan. Bahkan pada kasus tertentu pemeriksaan kateterisasi mungkin saja harus dilakukan," papar Sukman. Saat pemeriksaan awal, jantung anak-anak dengan PJB ini akan menunjukkan suara yang terdengar berisik.

BAGAIMANA PROSEDURNYA?

Memperbaiki kelainan jantung selagi janin masih dalam kandungan memang belum bisa dilakukan. Namun, upaya menuju ke arah itu masih terus diusahakan. Saat ini, kelainan baru bisa diperbaiki setelah bayi lahir, paling cepat ketika bayi berusia 3 bulan.

Solusi lewat jalan operasi, secara psikologis memang cukup memberatkan. Terutama bekas sayatan di dada anak yang akan menjadi luka abadi karena akan terus membekas sampai kelak ia dewasa. Oleh karena itulah teknologi baru ini membawa beberapa keuntungan, di antaranya:

* Masa perawatan singkat, hanya 2-3 hari sedangkan operasi bisa 7-10 hari.

* Anak tidak mengalami pembedahan sama sekali. Tindakannya cukup dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah besar di sela paha. Nah, alat yang dimaksud akan dipasang melalui kateter tersebut. Secara kosmetik cara ini jelas lebih menguntungkan karena tidak meninggalkan luka.

* Efek psikologis buat anak maupun orang tuanya jelas lebih ringan.

* Biaya relatif lebih murah dibanding operasi.

Untuk menambal kebocoran pada sekat serambi atau atrial septal defect (ASD), caranya adalah dengan memasukkan suatu alat (device) yang disebut Amplatzer Septal Occluder (ASO) melalui kateter (wire) yang dipasang pada pembuluh darah arteri dan vena di sela paha (arteri dan vena femoral).

Alat tersebut terbuat dari nitinol dan dilapisi dacron yang elastis dan bentuknya dapat mengikuti kateter. Setelah mencapai posisi tempat kebocoran di sekat serambi jantung, alat tersebut dikembangkan kemudian dilepas untuk menutup kebocoran ASD secara total sehingga menyatu dengan sekat bilik jantung. Selama proses tersebut si pasien dibius total, namun tidak membutuhkan transfusi darah. Begitu selesai, aliran darah di dalam jantung akan segera normal kembali.

Metode yang sama juga dilakukan untuk menutup kebocoran pada sekat bilik atau ventricular septal defect (VSD). Bahan terbaru yang digunakan untuk menambal kebocoran VSD adalah nikel-titanium. Setelah alat tersebut terpasang, tubuh pasien akan mengadaptasinya sehingga bisa terpakai seumur hidup.

Namun harus diingat teknologi ini tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan tindakan yang dilakukan. "Secara teknis bisa saja terjadi kesalahan, walaupun sangat jarang terjadi," ungkap Utojo. Meski ada juga satu dua kasus dimana sekian tahun alat tersebut berfungsi normal di tubuh, tapi sekian tahun kemudian menimbulkan masalah.

Yang harus dicermati adalah pemilihan ukuran alat yang tepat sesuai dengan kebocoran jantung. Bagaimanapun, anak terus tumbuh dan jantungnya pun ikut berkembang sesuai usianya.

Mungkinkah alat yang dulunya pas dipasang untuk menutup kebocoran jantung anak usia satu tahun, kemudian ukurannya tidak sesuai lagi saat dia beranjak dewasa? "Satu-dua kasus, sih mungkin saja terjadi. Namun ingat, setelah alat terpasang, tubuh secara alami akan mengalami endotilisasi. Artinya, alat tersebut akan tertutup oleh lapisan jantungnya sendiri. Jadi kecil kemungkinannya akan ada kebocoran lagi. Kalau flow ratio -nya sangat kecil, enggak masalah kok," ungkap Utojo pula.

TIDAK SEMUA BISA DITAMBAL

Walaupun teknologi ini terlihat lebih menguntungkan dibanding operasi, tapi tidak berarti operasi jantung nantinya akan ditinggalkan sama sekali. "Masing-masing ada pertimbangannya. Tapi kalau jumlah pasien yang harus dioperasi menjadi lebih sedikit, bisa jadi benar. Kalau dulu semua harus melalui meja operasi, sekarang dilihat dulu besar atau kecilnya kebocoran," tambah Utojo.

Menurutnya, teknologi ini hanya bisa dilakukan pada lubang kebocoran jantung dengan diameter di bawah 16 mm. Sedangkan untuk lubang yang lebih besar, mau tidak mau harus tetap ditutup dengan cara operasi. Yang jelas, tidak semua kasus ASD maupun VSD dapat ditambal dengan alat ini. Dokterlah yang akan menentukan apakah pasien tetap harus menjalani operasi atau bisa ditambal dengan alat ini.

BISA SEMBUH TOTAL

Berdasarkan angka keberhasilan yang sangat tinggi seperti yang sudah dilaporkan di banyak pusat jantung anak di dunia., teknologi ini cukup menakjubkan. Angka kesembuhannya pun termasuk tinggi. Bahkan kalau tidak ada komplikasi, tekanan di paru belum tinggi, dan fungsi jantung masih normal, maka setelah dipasangi alat ini umumnya pasien bisa sembuh total. Sembuh total di sini, menurut Utojo, yaitu keadaan diamana si anak bisa menjalani kehidupan seperti halnya anak normal lainnya tanpa menyadari di jantungnya terpasang sebuah alat untuk menutup kebocoran.

Kondisi sebaliknya bisa saja terjadi kalau pasien datang sudah dalam kondisi parah, apalagi disertai komplikasi. "Tentu ada limitasi kesembuhan, dalam arti tidak bisa sembuh total," tandasnya.

Usai menjalani pemasangan alat di jantungnya, tak ada pantangan khusus yang harus dilakukan anak. "Semuanya bisa normal kembali. Beda dengan masalah jantung orang dewasa yang disebabkan darah tinggi dan sebagainya yang mengharuskan pasien mengubah gaya hidup, semisal menjalani diet dan sebagainya."

Walaupun teknologi ini memberikan setitik cahaya bagi anak-anak dengan PJB, namun di Indonesia belum banyak yang merasakan manfaatnya. Boleh jadi karena biayanya terhitung tetap mahal, yaitu di atas Rp 30 jutaan, kendati bila dibandingkan dengan operasi jantung masih relatif lebih murah.

FAKTOR PENYEBAB JANTUNG BOCOR

Penyebab terjadinya kelainan jantung bawaan bisa bermacam-macam. "Di antaranya penyakit infeksi seperti rubela, toksoplasma, obat-obatan tertentu, dan radiasi," ungkap Sukman .

Ketidaksempurnaan jantung yang nantinya menyebabkan PJB terjadi pada kehamilan trimester ketiga, "Karena pada masa inilah jantung mulai terbentuk pada bayi," imbuh Utojo . Angka PJB di Indonesia diakuinya cukup tinggi. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya nilai gizi yang dikonsumsi ibu. Deteksi dini bisa dilakukan asal ibu hamil rajin memeriksakan diri ke dokter kandungan.

Adapun gejala yang ditunjukkan oleh anak-anak penyandang PJB ini antara lain lekas lelah dan sesak napas. Sedangkan pada bayi biasanya tidak kuat minum ASI selain tumbuh kembangnya terganggu," kata Sukman pula.

Marfuah Panji Astuti.


blog comments powered by Disqus