Membership
Lupa password?
Umum

Bell's Palsy Bikin Lumpuh Separuh Wajah
Jumat, 19 Juni 2009
foto_kesehatan_Agus

Foto: Agus Dwianto/NOVA

Pagi sebenarnya itu tak ada hal istimewa yang dirasakan Fenty. Namun, alangkah kagetnya ia ketika terbangun di pagi hari, wajahnya tampak tak normal. Bibirnya menjadi miring sebagian dan otot wajahnya terasa sulit digerakkan. Berkedip pun ia tak bisa. Ia merasakan bagian wajahnya mati separuh.

Kenyataan ini membuat Fenty panik bukan kepalang. Ia merasa usianya masih muda, 25 tahun, dan tak punya riwayat penyakit jantung atau hipertensi. Ia mengira, mungkin telah mengalami serangan stroke. Tapi, bagaimana bisa?

Ya, ilustrasi ini sebenarnya bisa terjadi kepada siapa pun, tak terbatas usia dan aktivitas seseorang. dr. Rocksy F. V. Situmeang, Sp.S, spesialis syaraf dari Siloam Hospital Karawaci menjelaskan, belum tentu wajah yang tiba-tiba mencong itu akibat stroke.

“Bisa saja itu gejala Bell’s palsy, atau gangguan pada syaraf kranial ke-7 yang ditemukan oleh Sir Charles Bell,” ujar Rocksy. Gangguan ini bisa menyebabkan perintah otak yang menggerakkan wajah jadi terganggu. Mengakibatkan wajah lumpuh sebagian dan membuat bentuk wajah jadi miring sebelah.

Bukan Stroke
Bell’s palsy pada dasarnya merujuk pada kelumpuhan salah satu syaraf wajah (mononeuropati) yakni syaraf ke-7. Kelumpuhan ini murni disebabkan jepitan pada syaraf ke-7, bukan dari penyebab lain seperti pembuluh darah pecah atau tersumbat.

Berbeda dengan stroke, Bell’s palsy hanya menyebabkan kelumpuhan pada separuh wajah. Bukan kelumpuhan separuh bagian badan. Kelumpuhan ini terjadi akibat adanya himpitan yang menekan serabut syaraf ke-7 sehingga tak bisa menyampaikan impuls dari pusat syaraf pada batang otak.

Syaraf yang bekerja pada wajah sebenarnya ada 12 dengan pusat pada batang otak. Masing-masing memiliki fungsi berbeda. Misalkan, syaraf 1 untuk hidung, syaraf 2 untuk penglihatan, syaraf 3-4-6 untuk gerakan bola mata, syaraf 5 untuk merasakan sentuhan dan syaraf 7 untuk menggerakkan otot wajah.

Syaraf ke-7 memiliki keistimewaan, terdapat serabut panjang dari dalam tempurung kepala keluar melalui kanal di bawah telinga menuju sisi wajah. Panjangnya serabut syaraf ke-7 ini menyebabkannya rentan terjepit atau tertekan. Bila terjadi gangguan, akan menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot wajah sesisi.

Sejumlah keluhan Bell’s palsy juga disertai sakit kepala tak spesifik. Umumnya Bell’s palsy tak disertai keluhan lain seperti rasa kebas, karena syaraf perasa di wajah dipengaruhi syaraf 5, bukan 7. Namun, karena terjadi kekakuan pada otot wajah, penderitanya merasa sedikit tebal pada kulit wajahnya.

Angin Bukan Penyebab
Banyak asumsi dikaitkan dengan Bell’s palsy. Beberapa pendapat di masa lalu mempercayai, Bell’s palsy disebabkan angin yang menyusup ke daerah belakang telinga dan mengganggu syaraf ke-7.

Ada pula yang berpendapat, kondisi ini diakibatkan serangan virus cytomegalovirus, atau herpes. Kenyataannya, tanpa bepergian atau terkena angin, maupun mendapat serangan virus sekalipun, seseorang tetap bisa terserang Bell’s palsy.

Pada wanita hamil, saat kelelahan, orang dengan gangguan auto imun atau orang dengan diabetes juga rentan terserang Bell’s palsy. Rocksy lebih sependapat bila penyebab Bell’s palsy merupakan idiopati (tak bisa dijelaskan).

Namun, Rocksy juga tak menyalahkan bila beberapa orang menganggap gangguan ini terkait dengan aktivitas malam, berkendara tanpa helm full face , menggunakan air conditioner , dan lainnya.

“Beberapa teori lama, memang menyebutkan angin yang menyusup ke belakang telinga sering jadi penyebab Bell’s palsy. Sebenarnya angin hanya membawa virus. Dan virus ini bertanggung jawab atas terjadinya pembengkakan penyebab Bell’s palsy,” paparnya.

Sembuh Sendiri
Menghadapi wajah yang mencong tiba-tiba akibat Bell’s palsy sebaiknya jangan panik. Menurut Rocksy, Bell’s palsy bisa sembuh hingga 100 persen dan tak meninggalkan kecacatan. Bahkan 80 persen serangan Bell’s palsy akan sembuh sendiri dalam waktu 4 sampai 7 hari.

Asalkan ditangani tepat dan tak terlambat, bisa sembuh sempurna. Tepat artinya ditangani kurang dari 24 jam setelah serangan (golden period ). Dan tidak dilakukan pengobatan alternatif atau tindakan tanpa pertimbangan medis. “Bila terlambat atau lebih dari 24 jam, obat-obatan yang digunakan jadi kurang maksimal,” ungkap Rocksy.

Namun, yang terpenting lagi penderita Bell’s palsy sebaiknya beristirahat atau mengurangi aktivitas wajah selama beberapa hari setelah terkena serangan. Dan segera berkonsultasi ke dokter syaraf selama masih dalam golden period .

Bila pengobatan dengan obat anti inflamasi atau anti-viral tak menunjukkan hasil, dan setelah dilakukan MRI tampak adanya penekanan pada syaraf ke-7, pilihan akhir yang diambil dokter adalah tindakan operasi dekompresi atau pembebasan tekanan.

Namun, sekali lagi, ini pilihan terakhir yang jarang sekali diambil. Setelah lewat fase akut 3-4 hari, barulah bisa dimulai latihan fisioterapi di depan kaca atau mengunyah permen karet.

Sebaiknya fisioterapi tak terburu-buru dilakukan, karena memicu terjadinya nerve sprouting atau syaraf tak kembali sempurna, atau tumbuh melenceng. Nerve sprouting bisa menyebabkan timbulnya gerakan tak terkontrol yang menyertai maksud gerakan pada wajah. Misalnya, kedutan di wajah.

Pada penderita diabetes, kemungkinan untuk sembuh akan berbeda dengan orang tanpa diabetes. Rocksy menerangkan, penderita diabetes yang terserang bell’s palsy akan sembuh sekitar 60 persen saja, karena kemampuan penyembuhannya relatif tak sebaik orang tanpa diabetes. Biasanya wajahnya masih akan terlihat sedikit mencong .


blog comments powered by Disqus