Membership
Lupa password?
Konsultasi Kesehatan

Si Upik Kekurangan Pigmen Penghitam Kulit
Rabu, 25 Maret 2009
Si Upik Kekurangan Pigmen Penghitam Kulit

dr. Waldi yang baik,
Saya ibu dari seorang putri (3) yang divonis dokter terkena penyakit kekurangan pigmen penghitam kulit sejak dua tahun yang lalu, ditandai dengan adanya bulatan kecil warna putih di bahu. Meski sudah selama 2 tahun menjalani pengobatan rutin ke dokter spesialis kulit (2 minggu sekali kontrol biaya kira-kira Rp 200-300 ribu), tapi tak kunjung sembuh, malah bertambah besar dan muncul lagi 2 bulatan kecil.

Saya sudah coba berganti dokter lain tapi juga tak ada bedanya. Terus terang, saya takut akan masa depannya, mengingat usianya baru 3 tahun, dan penyakit itu menyebarnya sangat cepat. Saya mohon dengan sangat NOVA bisa membantu saya dengan memberi informasi tentang dokter dan obat yang lebih bagus. Terakhir, dokter memberi obat cairan penghitam kulit tanpa merek yang dioles sambil dijemur, dan salep kortison yang digunakan setelah obat cair tadi. Habis mandi, pakai salep anti jamur. Terima kasih.
Ny Eni - 08122530xxx

Ibu Eni di 08122530xxx atau Jepara,
Akhirnya sampai juga ke meja saya surat dalam bentuk LMS (Long Message Service ?). Di zaman instan ini makin merosot penanya yang mencari secarik kertas kosong, pulpen atau mesin tik/ komputer (jika listrik tidak tergilir mati), mencetak, mencari amplop, membubuhkan perangko, mengirimkan ke kantor pos.
Kertas telah beralih rupa menjadi HP (ponsel). Cukup sambil bergolek-golek, menerampilkan ibu jari kanan dan terkirimlah pesan panjang (atau pesan-pendek) itu. Selain isi surat, dahulu saya terkesan dengan amplop dan tulisan tangan penanya, tetapi sejak ponsel ditumbuh-kembangkan sebagai salah satu sarana bersurat saya tak pernah tahu lagi keunikan surat dan asal usulnya, jangan-jangan berita dikirim oleh tetangga saya. Mudah-mudahan Ibu memang berada di Jepara, kota ukir yang terkenal itu, seperti yang tertulis di layar ponsel yang diterima NOVA.
Saya tak tahu pesis apakah Ibu sebenarnya ingin mendapat penjelasan lebih jauh dari saya, atau hanya minta dicarikan dokter dan obat lain agar masa depan anak terjamin. Surat Ibu seakan terpotong. Sayang, dokter Ibu tak mengatakan apa nama penyakit itu, padahal sudah dua tahun bolak balik berobat. Jika membaca cerita Ibu (bahwa bercaknya bulat, makin bertambah menjadi beberapa buah dan berwarna keputihan, dan mungkin bukan jamur) sangat mungkin itu adalah penyakit yang disebut pityriasis alba . Mudah-mudahan saya benar. Andai saja ada fotonya... (lewat ponsel juga bisa).
Ini merupakan kelainan yang ditandai dengan adanya pigmen yang kurang dan biasa terjadi pada anak-anak (5 persen), terutama bagi yang berkulit gelap. Bentuknya biasanya lonjong atau bulat (berukuran 0,5 sampai 3 cm), dan kadang-kadang permukaan bercaknya lebih tinggi dari kulit di sekitarnya. Bermula berwarna kemerahan, bisa gatal dan berakhir dengan bercak yang berbubuk putih. Biasanya ada di kening, sekitar mata, sekitar mulut, walaupun dapat juga terjadi di badan atau punggung. Memang mirip jamur.
Tidak ada obatnya (dan memang umumnya tak perlu diobati), dan biasanya lambat laun menghilang ketika dewasa, walaupun masih mungkin terdapat keadaan yang sama ketika sudah dewasa. Biasanya obat yang diberikan berupa pelembap. Beberapa dokter ada yang memberikan PUVA (sejenis obat disertai penyinaran dengan sinar ultraviolet) atau steroid (kortison pada kasus anak Ibu), tetapi hasilnya tidak dijamin, bahkan beberapa penelitian mengatakan PUVA dapat menimbulkan kekambuhan.
Informasi lebih jauh dapat Ibu peroleh di situs internet seperti www.emedicine.com/derm/topic333.htm atau di www.nsc.gov.sg. Tentang obat tanpa nama yang Ibu dapatkan, tampaknya kita mulai perlu maju sedikit. Sudah saatnya pasien belajar mengenal nama obat yang diberikan oleh dokter kepadanya. Bukan untuk diulang resepnya bila manjur tanpa petunjuk dokter, tetapi agar kita juga belajar (sedikit) tentang khasiat utama obat serta efek sampingnya.
Dengan adanya internet sekarang hampir tak ada informasi yang tak dapat kita peroleh, apalagi kalau itu nama obat dari Barat. Tidak harus dengan membeli buku. Penggunaan obat jamur membuat saya bertanya-tanya, apakah dokter Ibu masih meragukan bahwa bercak putih itu jamur? Dokter mestinya mudah menentukan apakah sebuah bercak itu jamur atau bukan, sebab agak tidak jamak jika itu adalah jamur dan pityriasis alba sekaligus.
Memang, kulit tubuh sekarang sudah kadung menjadi cap seseorang. Jika seseorang berkulit rusak, maka seakan lenyaplah kepercayaan diri pemiliknya. Tolong Ibu tekankan kelak kepadanya - apabila bercak itu tak bisa hilang - kepercayaan diri seseorang tak harus bergantung pada kondisi kulit, apalagi jika kelainan kulit itu sama sekali tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Orang lain yang keadaan fisiknya jauh lebih sengsara (buta, tuli, pincang, amputasi) dan sukses dalam kehidupan mestinya bisa sebagai contoh bagi putri Ibu kelak.
Bila Ibu kecewa dengan dokter Ibu yang giat berupaya memberikan (dan mencoba) berbagai obat serta mengurangi pundi-pundi Ibu selama dua tahun ini (terlalu lama menunggu), ada baiknya Ibu sesekali ke Semarang dan bertanya kepada dokter anak atau dokter kulit di kota itu untuk mencari opini-kedua. Tidak perlu ke praktek di rumah sakit khusus, ke RSUD Dr. Kariadi saja sudah cukup untuk mencari jawab, yang semoga lebih memuaskan Ibu. Sampaikan salam saya kepada sejawat dokter anak di rumah sakit tersebut.

Views : 3121

blog comments powered by Disqus