Membership
Lupa password?
Konsultasi Kesehatan

Kok, Si Kecil Sering Jatuh?
Senin, 29 Juni 2009
mainan anak

Foto: Dok. NOVA

Dokter Waldi yang baik,
Anak saya laki-laki usia 11 bulan (BB 8,9 kg dan TB 70 cm). Akhir-akhir ini dia lagi senang-senangnya belajar jalan. Dia juga sangat aktif sekali, sehingga perlu pengawasan ekstra. Tapi tak jarang dia juga kerap jatuh, entah itu ringan atau hingga membuat memar di bagian kepala, karena memang keseimbangan tubuhnya belum cukup kuat.
Apakah ada pengaruhnya apabila bagian kepala sering terbentur, sebab orang tua saya bilang hal itu bisa membuat anak jadi keterbelakangan mental? Apa saja penyebab anak jadi mengalami keterbelakangan mental, dan apakah hal itu bisa dilihat sejak ia masih bayi?
O ya Dok, perut anak saya juga tergolong besar/gendut, walaupun dia belum makan ataupun setelah buang air besar (BAB). Apakah ini pengaruh dari waktu bayi karena dia tidak memakai gurita? Sampai saat ini saya masih rancu tentang boleh dan tidaknya menggunakan gurita untuk bayi setelah lahir. Terima kasih.
Ny. Hermin Susilowati – Colomadu

Ibu Hermin di Karanganyar,
Bagaimana kabar anak ibu hari-hari ini? Masih juga ia sering terbentur? Pasti sudah makin berkurang seiring dengan semakin bagusnya keseimbangannya. Makin tambah aktif? Konon hari-hari ini beberapa elemen masyarakat juga kelihatan tambah aktif, berpromosi dan berjanji di sana-sini. Mudah-mudahan tak sering terantuk atau terbentur dan benjol sana-sini.
Anak yang sedang belajar berjalan memang sering terjatuh, entah terpeleset atau tersandung, didukung dengan kemampuan motoriknya yang belum sempurna. Adalah pengasuhnya yang berkewajiban memeriksa dan membebaskan ruang di sekitarnya agar proses berjalannya tak terganggu, misalnya tak ada benda-benda di lantai yang dapat membuat kakinya tersangkut, lantai tidak basah, tangga berpagar.
Betul kata ibu, pengawasan ekstra. Untungnya tulang kepala bayi bagian depan dan belakang telah punya struktur yang cukup kokoh sehingga bila depan dan belakangnya terantuk tak mudah terjadi gangguan pada isi kepalanya. Benturan kebanyakan hanya menimbulkan memar, benjol atau mungkin robekan kulit yang kecil. Sejauh tak ada gangguan pada isi kepalanya maka tak usah merisaukan kemungkinan terjadinya keterbelakangan mental.
Keterbelakangan mental sebetulnya lebih banyak terjadi pada perkembangan otak yang tidak wajar, yang kebanyakan terjadi sejak bayi, baik karena keadaan bawaan yang diidapnya atau karena mengalami infeksi/perlukaan yang berat saat bayi. Bila kita mendapati seorang bayi terganggu perkembangan dan pertumbuhannya sangat mungkin juga ada gangguan pada isi kepalanya (yang bisa disertai keterbelakangan mental).
Perut gendut pada anak kecil amatlah lazim karena otot perut belum terbentuk sempurna. Bukan lantaran tidak menggunakan gurita. Gurita adalah pakaian (yang pernah) lazim buat bayi di Indonesia. Tujuan utama gurita adalah melindungi sisa tali pusat agar tak terjelai-jelai. Orang tua takut jika sisa itu dibiarkan begitu saja nanti bisa putus sebelum waktunya (wah, seram) atau terkoyak (aduh), jadi gurita melindunginya. Orang tua juga takut perut bayi yang mulus itu kemasukan angin.
Sejak dikenal plester yang bisa membuat tali pusat tidak bergerak-gerak terbungkus kasa, gurita tak diperlukan lagi. Karena bayi masih menggunakan perut saat ia bernapas, maka penggunaan gurita yang terikat erat pada perut bayi akan mengganggu pernapasannya.
Kini gurita tak lagi perlu dikenakan, karena tanpanya pernapasan bayi lebih leluasa. Tak perlu takut sisa tali pusat terkoyak dan tak terbukti mencegah masuk angin, walau sehari-hari masih kerap dijumpai tali pusat bayi dibungkus kasa, diplester, dilapisi gurita, dan bayi dibedong rapat-rapat macam pepesan.

Asuhan: Dr. Waldi Nurhamzah, Sp.A


blog comments powered by Disqus